RADARSOLO.COM - Wakil Bupati (Wabup) Klaten Benny Indra Ardhianto meresmikan Gedung Bhakti Setia di Sekolah Lazuardi Al Falah Klaten, Kelurahan Gayamprit, Kecamatan Klaten Selatan.
Sekaligus dilakukan peluncuran program Inclusive Learning Hub di sekolah setempat pada Kamis (23/10/2025).
Peresmian gedung yang memiliki tiga lantai itu ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Prof. Ir. Suharyadi dan Sri Heri Setyowati selaku pembina Yayasan Padmawijaya. Begitu juga pemotongan pita oleh Wabup Klaten Benny.
Hal itu menandai langkah maju Lazuardi Al Falah Klaten yang berkomitmen pada pendidikan inklusif dan adaptif setelah 12 tahun berdiri.
Ketua Yayasan Padmawijaya Sagoro Dharmawan menjelaskan, bahwa peresmian gedung itu adalah kelanjutan dari perjalanan sekolah yang sebelumnya dikenal sebagai SMA Padmawijaya itu.
"Meskipun berganti nama menjadi Sekolah Lazuardi Al Falah Klaten, yayasan dan pendirinya tetap sama. yakni Yayasan Padmawijaya. Namun dengan sedikit perubahan konsep yang lebih fokus pada sekolah inklusif," ujar Sagoro.
Lebih lanjut, Sagoro menjelaskan Gedung Bhakti Setia yang baru diresmikan itu akan difungsikan sebagai ruang kelas dan laboratorium untuk jenjang SD dan SMP.
Menariknya, gedung tersebut didesain tanpa menggunakan pendingin udara (AC) sama sekali.
"Kami mengusung ramah lingkungan dan tanpa menggunakan AC tetapi tetap adem," tambah Sagoro.
Gedung Bhakti Setia tersebut memiliki total sebanyak 29 ruangan. Mampu menampung masing-masing dua rombongan belajar (rombel) untuk SD dan SMP dengan batas maksimal 24 siswa per kelas.
Sagoro mengungkapkan, secara biaya pembangunan awal gedung tersebut memang lebih tinggi karena didesain ramah lingkungan yang mengutamakan sirkulasi udara alami.
Tetapi gedung tersebut menawarkan lingkungan belajar yang sejuk dan hemat energi.
"Ke depan, Lazuardi Al Falah akan mengembangkan sebuah rumah tumbuh kembang anak yang mencakup pusat terapi serta membangun Sport Center secara bertahap. Selain itu, diluncurkan pula Inclusive Learning Hub, sebuah pusat pembelajaran bagi guru maupun orang tua,” ujar Sagoro.
Sagoro mengungkapkan bahwa aspek utama dari pengembangan ke depannya yakni komitmen sekolah pada pendidikan inklusif.
Terlebih lagi Lazuardi Al Falah sudah dikenal sebagai sekolah inklusif yang menerima Anak Berkebutuhan Khusus (disabilitas).
Dalam kelas, sistem inklusif Lazuardi Al Falah yang berjalan selama ini telah menggabungkan anak berkebutuhan khusus dengan siswa reguler.
Setiap kelas terdiri dari guru kelas, guru mata pelajaran dan dua guru pendamping.
Untuk anak berkebutuhan khusus, rasio pendamping disesuaikan dengan tingkat kebutuhan.
Bisa satu pendamping melayani tiga anak (untuk kasus ringan) atau one on one (untuk kasus berat).
“Saat ini, sekolah kami telah menerima sekitar 25 anak berkebutuhan khusus dari tingkat PAUD-TK hingga SMP. Sekitar 80 persen lebih lulusan anak berkebutuhan khusus dari sekolah Lazuardi Al Falah berhasil melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Ini menunjukkan keberhasilan model pendidikan inklusif yang kami terapkan,” ujar Sagoro.
Wakil Bupati Klaten mengharapkan agar program inklusif tersebut tidak hanya terbatas di sekolah swasta.
Tetapi ke depan bisa merata di seluruh sekolah di Klaten dengan mengadakan program serupa yang ada Sekolah Lazuardi Al Falah Klaten.
“Tadi saya lihat (gedung) baru beberapa, tidak sampai ke atas ya. Di bawah saja terkait dengan toiletnya juga sudah ada khusus untuk disabilitas dan juga kelasnya juga menunjang. Untuk aksesnya juga sangat menunjang sekali," ujar Benny seusai meresmikan dan meninjau Gedung Bhakti Setia di Lazuardi Al Falah Klaten.
Mengenai fasilitas, Benny mengungkapkan, gedung baru Lazuardi Al Falah dinilai sudah sangat menunjang kebutuhan anak-anak disabilitas. Meskipun fasilitas tersebut masih dalam tahap awal pengembangan.(ren)
Editor : Damianus Bram