RADARSOLO.COM-Perum BULOG Kantor Cabang Surakarta memastikan ketersediaan pasokan beras di wilayah Soloraya. Khususnya Kabupaten Klaten.
Melalui optimalisasi program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Bulog berkomitmen menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
Sekaligus memperluas jaringan distribusi hingga ke pelosok desa.
Baca Juga: Berkas Kasus Penipuan Calo ASN dan Pegawai BUMD Karanganyar Dikirim ke Kejari, Tunggu Status Lengkap
Pemimpin Perum BULOG Kantor Cabang Surakarta Nanang Harianto menegaskan, masyarakat tidak perlu khawatir tentang pemenuhan kebutuhan pangan pokok. Terutama beras medium.
Ketersediaan cadangan pangan di gudang Bulog dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi permintaan reguler maupun intervensi pasar jangka panjang.
"Stok sangat aman sampai dengan akhir 2026, bahkan tahun 2027 kita masih cukup. Tergantung dari pemerintah penyalurannya seperti apa. Tapi intinya sangat cukup sekali," ujar Nanang belum lama ini.
Sebagai bukti nyata dari komitmen tersebut, hingga pertengahan 2026, Bulog Surakarta mencatat progres penyerapan gabah dan beras yang sangat signifikan.
Khusus di sentra padi Kabupaten Klaten, angka penyerapan mencapai 10.690 ton beras.
Sementara itu, untuk memperkuat ketahanan stok wilayah Klaten, pasokan yang tersimpan di Gudang Meger saat ini tercatat melimpah, yakni mencapai 14 ribu ton beras.
Baca Juga: Petani di Sragen Meninggal Tersengat Kabel Sumur Sibel, Begini Kronologinya
Guna memastikan pasokan pangan langsung menyentuh berbagai lapisan masyarakat, Bulog menerapkan dua skema pembelian beras SPHP kemasan 5 kilogram.
Skema pertama ditujukan bagi masyarakat umum yang ingin membeli secara eceran untuk konsumsi pribadi.
Masyarakat dapat langsung mendatangi gudang resmi Bulog setiap hari kerja mulai pukul 08.00-16.00.
“Pembelian langsung di gudang dilayani tanpa syarat administrasi, cukup dengan pembayaran tunai/ di tempat. Pembelian eceran ini dibatasi maksimal 2-3 sak (10–15 kg) per konsumen,” jelas Nanang.
Skema kedua adalah perluasan jaringan pengecer melalui program Rumah Pangan Kita (RPK) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Skema tersebut dikhususkan bagi warga yang memiliki toko sembako untuk menjadi mitra resmi distribusi Bulog.
"Masyarakat yang memiliki toko sembako bisa mendaftar menjadi jaringan kami atau RPK. Syaratnya cukup mudah, hanya dengan melengkapi formulir pendaftaran, melampirkan fotokopi KTP dan Nomor Induk Berusaha (NIB) tokonya," jelas Nanang.
Melalui kemitraan RPK, pemilik toko dapat membeli beras SPHP sesuai dengan kapasitas warungnya, mulai dari 500 Kg-2 ton per minggu.
Keunggulan membeli langsung di gudang Bulog, baik untuk eceran masyarakat maupun mitra RPK, adalah harga yang dipatok sangat murah, yakni Rp11 ribu per kg atau Rp55 ribu per sak kemasan 5 kg.
Selain toko kelontong skala reguler, Bulog Surakarta juga bersinergi dengan unit KDMP yang memiliki kapasitas sarana pergudangan yang jauh lebih besar.
Untuk di Kabupaten Klaten sendiri, saat ini telah terdaftar sekitar 30 unit KDMP yang aktif bertransaksi.
Mitra KDMP yang aktif diperbolehkan melakukan pemesanan hingga maksimal 4 ton beras sekali ambil per minggu.
Tren volume transaksi dari jaringan ini menunjukkan grafik yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
"Daya beli masyarakat terpantau semakin meningkat. Seiring dengan peningkatan transaksi tersebut, kami terus menyediakan dan memastikan pasokan selalu siap, sehingga tidak ada keterlambatan di pasar," tambah Nanang.
Selain itu, untuk mengintervensi harga di pasar tradisional, Bulog Surakarta juga konsisten melakukan kegiatan dropping rutin ke pasar tradisional, termasuk Pasar Gedhe Klaten.
Melalui pasokan berkala ke pasar tradisional tersebut, harga beras medium SPHP di tingkat konsumen akhir dipantau secara ketat.
Harapannya agar tidak melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yaitu sebesar Rp 12.500 per Kg. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono