RADARSOLO.COM-Persoalan pertanian bukan sebatas urusan produksi pangan dan hasil panen.
Tetapi juga berkaitan erat dengan tanah, pengetahuan, ekonomi, hingga masa depan masyarakat desa.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Festival Mbok Sri (FMS) 2026 bakal siap digelar di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten pada Jumat–Minggu (25–27/9/2026).
Pada gelaran tahun ini, FMS hendak mengusung tema “Seni Bertahan Petani: Tatag Nyupaya, Jejeg Urip”. Bermakna teguh dalam berupaya, tegak dalam hidup.
Pendiri Sanggar Rojolele sekaligus Direktur FMS Eksan Hartanto menjelaskan, tema tersebut melanjutkan gagasan FMS yang konsisten menempatkan petani sebagai subjek berdaya.
Tentunya yang memiliki pengetahuan dan kemampuan menentukan masa depannya sendiri.
“Berbagai persoalan agraria, salah satunya krisis regenerasi petani muda di kawasan Delanggu. Minimnya minat generasi muda untuk bertani serta makin terkonsentrasinya penguasaan lahan pertanian menjadi alarm keras bagi keberlangsungan kawasan agraris,” ucap Eksan kepada radarsolo.jawapos.com, Selasa (22/9/2026).
Ia menegaskan bahwa mempertahankan kehidupan agraris tidak cukup hanya dengan mengimbau masyarakat kembali ke sawah.
Diperlukan ekosistem yang memungkinkan kehidupan tersebut tetap berdaya dan berprospek.
Baca Juga: Pemuda ODGJ di Sragen Ngamuk Bawa Sajam, Dipicu Telat Kontrol Medis
"Bagi kami di Delanggu, keberlanjutan pertanian itu bukan hanya soal apakah sawah masih bisa menghasilkan padi. Yang lebih penting adalah apakah masih ada orang yang mau mengolahnya,” terangnya.
Sejak diinisiasi pada 2017, FMS tidak dirancang sebagai perayaan seni budaya semata, melainkan tumbuh menjadi gerakan budaya-agraria kolektif.
Festival tersebut melibatan kelompok tani, kelompok perempuan, pemerintah desa, pelaku usaha lokal, komunitas seni hingga akademisi lintas disiplin.
Gelaran FMS 2026 akan menghadirkan beragam mata acara yang mempertemukan kehidupan agraris, kebudayaan dan ekonomi warga.
Baca Juga: Persis Solo U-20 Berganti Wajah di EPA Super League 2026/2027, Regenerasi Dimulai
“Nantinya akan ada Umbul Donga, Kirab Mbok Sri dan Wiwitan untuk merawat hubungan antara manusia, tanah dan pangan. Kemudian jagongan tani, pemutaran film dokumenter hasil residensi, Pasar Mbok Sri, Loopen de Delanggu serta Delanggu Fun Dining,” urainya.
Bakal dimeriahkan panggung hiburan rakyat berupa kolaborasi seni unik yang menyatukan seniman janthur, grup karawitan lokal serta seniman asal Austria.
“Melalui Festival Mbok Sri 2026, kami berkomitmen memastikan kehidupan agraris di Delanggu tetap memiliki ruang untuk tumbuh serta masa depan untuk diwariskan,” ucapnya. (ren)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com