Oleh: Andhi Karsopawiro*)
RADARSOLO.COM - Belakangan saya perhatikan satu pola yang menarik di kolom komentar sosmed dan live TikTok.
Anak-anak muda usia 20-an mulai bertanya soal tangguh, soal pamor, soal beda Mataram dan Majapahit.
Bukan dari buku, bukan dari sarasehan, tapi dari video 30 detik di TikTok.
Sebagian senior melihat ini sebagai akhir pekerisan. Sebagian lagi diam-diam bersyukur.
Saya pribadi ada di tengah, dan masih sering bingung sendiri lebih ke yang mana.
Baca Juga: Cerita Pilu Kakak-Adik di Klaten yang Menjadi Korban Nafsu Bejat Ayah Kandung selama 5 Tahun
Keris yang sedang saya pegang ini contohnya.
Potensi tangguh Singosari, handle dari tulang yang sudah menjadi "klop" dengan bilahnya, patina yang kotor tapi apa adanya, dan sor-soran bilah tengahnya berlubang termakan usia.
Pusaka seperti ini tidak akan pernah cukup dijelaskan dalam 30 detik.
Soal keropos saja, kita perlu bicara soal material, soal kondisi penyimpanan ratusan tahun, soal apakah itu cacat atau justru jejak waktu yang menambah nilai spiritualnya.
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak punya jawaban instan.
Baca Juga: Tekan Kebocoran PAD, DPRD Karanganyar Usulkan Sistem Parkir Real Time
Tapi saya juga ingat, belasan tahun lalu pintu masuk dunia perkerisan jauh lebih sempit.
Harus kenal orang, harus datang ke rumah sesepuh, harus tahan dipandang sebelah mata kalau belum paham. Banyak calon kolektor patah di tengah jalan bukan karena tidak berbakat, tapi karena tidak punya akses.
Sekarang akses itu terbuka lebar lewat layar handphone. Masalahnya, akses tanpa kedalaman bisa melahirkan generasi yang merasa sudah tahu padahal baru menggores permukaannya saja.
Yang saya khawatirkan bukan TikTok-nya, atau sosmed yang lain, kawan. Tapi budaya cepat puas dengan pengetahuan setengah matang yang dibawanya.
Baca Juga: Minta Pemkot Solo Hormati Putusan MA, Ahli Waris Sriwedari Buka Peluang Damai Lewat Jalur Aanmaning
Keresahan ini paling terasa di bagian adab memahari keris. Bagaimana memperlakukan benda yang sudah ada di tangan kita, kapan waktunya dijamas, di mana tempat menyimpan yang pantas, bagaimana memperlakukannya saat pindah rumah, sampai siapa yang akan mewarisi kelak.
Hal-hal ini tidak pernah muncul di video 30 detik, padahal di sinilah letak pertanggungjawaban seorang pemilik keris.
Memahari keris itu bukan sekadar menaruh di lemari dan sesekali dipamerkan, kawan.
Ada tanggung jawab merawat agar bilah tidak makin keropos, ada kepekaan menjaga warangka dari rayap dan kelembaban, ada kesadaran bahwa benda ini akan kita titipkan ke generasi setelah kita dalam kondisi yang layak.
Kolektor yang paham adab memahari akan otomatis sabar belajar, karena dia tahu benda di tangannya bukan miliknya seutuhnya, melainkan titipan sementara dari masa lalu untuk masa depan.
Yang paling memprihatinkan justru di bagian alih rawat. Belakangan sering saya temui calon pemilik baru bertanya seperti sedang belanja di marketplace.
Baca Juga: Bantah PHK, PT CWII Sragen Sebut Kontrak 800 Karyawan sudah Habis
"Bos, nettnya berapa?" "Bisa kurang gak?" "PM ya kalau bosan."
Datar, dingin, seperti menawar barang elektronik atau sepatu bekas. Padahal di sisi yang ditanya (pemilik sebelumnya), keris itu mungkin sudah dipegang puluhan tahun, sudah dijamas setiap Suro, sudah dititipi doa-doa yang tidak kita tahu.
Pusaka, dalam arti yang sebenarnya. Bukan stok dagangan.
Di sinilah unggah-ungguh terasa hilang, kawan. Dulu kalau ingin mengalihrawat keris orang, ada caranya.
Sapa dulu pemiliknya, kenalkan diri, tanya kabar bilahnya, dengarkan dulu ceritanya.
Soal harga itu paling belakang, dan kadang malah tidak perlu disebut, karena pemilik yang merasa cocok dengan calon pemiliknya akan menyebut sendiri angkanya, kadang justru jauh di bawah pasar.
Sekarang yang terjadi sebaliknya. Harga ditanya di pesan pertama, riwayat tidak ditanya sama sekali.
Benda yang dibuat dengan tirakat berbulan-bulan oleh empu, ditawar seperti menawar sepatu bekas.
Yang kehilangan bukan cuma penjualnya, tapi pembelinya juga, karena dia tidak akan pernah tahu cerita yang sebenarnya jauh lebih bernilai dari kerisnya sendiri.
Meski begitu, saya tidak ingin menutup mata pada sisi terangnya.
Saya pernah melihat live TikTok, dan juga ngobrol dengan beberapa kolektor muda yang mulai dari konten singkat.
Yang serius, mereka justru menjadikan video pendek itu sebagai pintu, lalu masuk ke buku, ke grup, ke diskusi panjang dengan senior.
Yang tidak serius, berhenti di level menghafal istilah tanpa pernah benar-benar memegang bilah dan merasakannya.
Jadi pertanyaannya mungkin bukan TikTok itu ancaman atau harapan.
Pertanyaannya, apakah kita yang lebih dulu di jalan ini sudah cukup ramah menyambut mereka yang penasaran, dan apakah kita cukup sabar mengajarkan adab sebelum istilah?
Tradisi yang tidak mau menyapa zaman akan kehilangan zaman. Tapi tradisi yang larut dalam zaman akan kehilangan dirinya sendiri.
Keseimbangan inilah yang sedang kita uji bersama, dan saya tidak yakin ada yang punya peta yang benar.
Saya sendiri masih belajar. Keris berlubang di tangan saya ini mengingatkan, benda yang paling banyak bicara justru yang paling sabar didengar.
Bagaimana menurut kawan, apakah pekeris muda yang lahir dari TikTok ini ancaman bagi kedalaman tradisi, atau justru harapan terakhir agar warisan ini tidak putus generasi?
Dan bagi kawan-kawan yang sudah lama memahari keris, adab apa yang menurut kawan paling sering terlupakan oleh pemilik baru zaman sekarang? (*)
*) Penggiat Pelestarian Tosan Aji
Editor : Tri Wahyu Cahyono