Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo Gaya hidup

Baru Merantau ke Solo? Kenali 4 Kosakata Jawa Ini Biar Makin Ngelokal

Inayah Choirunisa • Selasa, 7 Juli 2026 | 12:54 WIB
Ilustrasi: YouTube
Ilustrasi: YouTube

RADARSOLO.COM - Pernah tiba-tiba teman kos bercerita tentang kejadian mengagetkan dan berseru, "Mak tratap!" atau mendengar seseorang berkata "lungguh sik" ketika sedang berkumpul? 

Bagi mahasiswa rantau yang baru datang ke Solo, percakapan sehari-hari sering kali dipenuhi kosakata Jawa yang terdengar asing. Tak jarang, mereka hanya bisa menebak-nebak arti kata tersebut dari situasi.

Padahal, mengenal beberapa kosakata yang umum digunakan masyarakat bisa membantu mahasiswa rantau lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Selain mempermudah komunikasi, memahami istilah lokal juga membuat pengalaman tinggal di Kota Solo terasa lebih akrab.

Baca Juga: Prediksi Skor Argentina vs Mesir 16 Besar Piala Dunia 2026: Messi Cs Diunggulkan, tetapi Wajib Waspada

Mak Tratap
Salah satu kosakata yang cukup sering terdengar ialah mak tratap. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang merasa kaget atau terkejut secara tiba-tiba.

Misalnya, ketika teman tiba-tiba muncul dari balik pintu dan membuat orang lain refleks berseru, "Marai Mak tratap wae!" atau yang artinya “Bikin aku kaget aja!”

Ungkapan ini lebih sering muncul dalam percakapan santai dibandingkan situasi formal. Karena itu, tidak sedikit mahasiswa rantau yang baru mengetahui maknanya setelah beberapa waktu tinggal di Solo atau daerah sekitarnya.

Baca Juga: Kata- kata Cristiano Ronaldo Usai Hasil Portugal vs Spanyol 0-1 di Piala Dunia 2026, Isyaratkan Masa Depannya

Sak dheg sak nyet
Kosakata lain yang juga cukup populer ialah sak dheg sak nyet
Frasa ini menggambarkan sesuatu yang dilakukan seketika itu juga, spontan, atau tanpa pikir panjang. Dalam percakapan sehari-hari, istilah ini dapat digunakan ketika seseorang langsung mengambil keputusan atau bertindak begitu saja.

Menariknya, istilah sak dheg sak nyet semakin dikenal masyarakat setelah menjadi judul lagu bergenre pop Jawa yang dibawakan Guyon Waton bersama Bravesboy pada akhir 2023.

Popularitas lagu tersebut membuat frasa ini lebih sering muncul, bahkan di kalangan anak muda yang sebelumnya belum familiar dengan ungkapan tersebut.

Geblak dan Njungkel
Keunikan lain bahasa Jawa terlihat pada cara menggambarkan seseorang yang terjatuh. Dalam bahasa Indonesia, peristiwa itu cukup disebut "jatuh". Namun, bahasa Jawa memiliki penyebutan yang lebih spesifik.

Dilansir dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), geblak berarti jatuh terlentang atau jatuh ke belakang, sedangkan njungkel berarti jatuh tertelungkup atau jatuh ke depan. Perbedaan penyebutan ini menunjukkan bagaimana bahasa Jawa mampu memberikan gambaran arah jatuh seseorang secara lebih rinci hanya melalui satu kata.

Kosakata seperti ini masih cukup sering digunakan dalam percakapan masyarakat, terutama ketika menceritakan kejadian lucu atau insiden kecil dalam aktivitas sehari-hari.

Lungguh dan Ndodok
Tak kalah sering terdengar adalah kata lungguh dan ndodok. Meski sama-sama berkaitan dengan posisi tubuh, keduanya memiliki makna yang berbeda. Lungguh berarti duduk, sedangkan ndodok berarti jongkok.

Perbedaan makna ini penting dipahami karena kedua kata tersebut masih banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari percakapan di rumah, warung makan, hingga pasar tradisional. Ketika seseorang berkata, "Lungguh disik," artinya ia mempersilakan orang lain untuk duduk. Sementara itu, "ndodok" digunakan ketika seseorang diminta atau terlihat berada dalam posisi jongkok.

Keberadaan kosakata seperti mak tratap, sak dheg sak nyet, geblak, njungkel, lungguh, hingga ndodok menunjukkan kekayaan bahasa Jawa yang masih hidup di tengah masyarakat.

Bagi mahasiswa rantau, memahami istilah-istilah tersebut bukan hanya membantu menghindari salah paham, tetapi juga menjadi cara sederhana untuk lebih dekat dengan budaya lokal selama menempuh pendidikan di Solo.

Editor : Kabun Triyatno
#kbbi #istilah #Rantau #kosakata