RADARSOLO.COM - Akhir-akhir ini, semakin banyak konser diselenggarakan di Indonesia. Hal ini membuat media sosial dipenuhi dengan berbagai unggahan yang berisi potongan penampilan para artis tersebut. Setiap kali sebuah video tersebut lewat dalam beranda tentunya secara spontan kita juga akan mengecek kolom komentar.
Ternyata, video-video itu dipenuhi oleh kalimat seperti “ga enak jir b aja”, “gitu doang dipost”, “aku si ga tertarik” atau “mending denger di Spotify”. Sekilas komentar tersebut seperti kritik biasa. Akan tetapi, di balik kalimat singkat itu, muncul makna lain.
Lantas, benarkah kalimat-kalimat tersebut merupakan sebuah ketidaksukaan atau ada makna lain yang ingin disampaikan oleh penulis komentar?
Baca Juga: Apa Itu “Lantam”? Ini Asal-usul, Arti, dan Alasan Tren Ini Viral di TikTok
Di TikTok, banyak komentar yang tidak sesuai dengan makna aslinya. Banyak ditemukan komentar yang terasa seperti kritik padahal berisi candaan saja. Seperti komentar-komentar tersebut, warga net hanya menyuarakan rasa iri mereka.
Misalnya, dalam unggahan yang berisi potongan video penampilan NIKI di acara Prambanan Jazz Festival dan ditemukan komentar “dih bagusan di Spotify ternyata”. Secara literal, kalimat tersebut memiliki makna bahwa lebih baik mendengarkan lagu-lagu NIKI di aplikasi Spotify daripada harus jauh-jauh dan mengeluarkan banyak uang hanya untuk mendengarkan NIKI bernyanyi. Nyatanya, komentar tersebut merupakan suara hati warga net yang merasa iri karena tidak bisa hadir dalam euforia festival itu dan berusaha untuk memberikan sugesti pada dirinya sendiri jika lagu-lagu NIKI lebih baik didengarkan lewat aplikasi streaming saja.
Baca Juga: Sempat Melesat di Kualifikasi Moto3 Junior, Ramadhipa Raih 9 Poin di Jerez
Fenomena semacam ini dalam kajian linguistik, khususnya pragmatik, dikenal sebagai implikatur. Implikatur merupakan makna tersirat yang berbeda dari makna literal suatu ujaran. Dengan kata lain, maksud yang ingin disampaikan penutur tidak selalu sama dengan arti kata-kata yang diucapkannya. Makna tersebut dapat dipahami oleh pembaca karena adanya konteks bersama dan kebiasaan berkomunikasi yang telah berkembang di media sosial.
Sebab itu, komentar di media sosial tidak selalu dapat dimaknai secara harfiah. Di balik kalimat yang tampak seperti kritik, bisa saja terdapat sindiran, candaan, atau bahkan ekspresi perasaan yang tidak disampaikan secara langsung. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa di ruang digital terus berkembang, sehingga memahami konteks menjadi sama pentingnya dengan memahami kata-kata yang digunakan.
Editor : Kabun Triyatno