Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Feed Kosong, Tapi Tetap Aktif? Zero Posting Mulai Banyak Dipilih Gen Z

Inayah Choirunisa • Senin, 13 Juli 2026 | 12:50 WIB
Gambar: Pinterest
Gambar: Pinterest
RADARSOLO.COM - Dulu, media sosial identik dengan membagikan momen sehari-hari. Mulai dari foto liburan, makanan, hingga aktivitas bersama teman hampir selalu berakhir di Instagram atau platform media sosial lainnya.
Namun, belakangan muncul kebiasaan baru di kalangan Generasi Z. Meski tetap aktif membuka media sosial setiap hari, banyak dari mereka justru membiarkan akun pribadinya tanpa unggahan atau hanya memiliki sedikit foto di feed.

Fenomena ini dikenal sebagai zero posting atau zero post, yakni kebiasaan pengguna media sosial yang memilih tidak mengunggah konten di akun publiknya, meskipun tetap aktif menggunakan platform digital.

Baca Juga: Cara Cek Lokasi dan Waktu Ujian CAT PPPK Sekolah Rakyat 2026, Dimulai 13 Juli 2026

Sekilas, akun dengan jumlah unggahan nol mungkin terlihat tidak aktif. Padahal kenyataannya tidak demikian. Banyak pengguna tetap menghabiskan waktu di media sosial untuk menonton video, melihat Instagram Story, mengirim pesan langsung (direct message), memberi tanda suka, hingga membagikan konten melalui fitur Close Friends atau akun kedua (second account).

Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan cara Generasi Z memanfaatkan media sosial. Jika dulu media sosial menjadi ruang untuk membagikan kehidupan pribadi, kini fungsinya mulai bergeser menjadi tempat mencari hiburan, memperoleh informasi, atau berkomunikasi secara lebih privat.

Baca Juga: Siapa Don Ritto? Pihak Swasta yang Jadi Tersangka Bersama Febrie Adriansyah, Ini Profil dan Jejak Kasusnya

Salah satu alasan yang mendorong munculnya zero posting adalah meningkatnya kesadaran terhadap jejak digital. Unggahan yang dipublikasikan di internet dapat bertahan dalam waktu lama dan berpotensi dilihat oleh siapa saja, termasuk pihak kampus, perusahaan, maupun orang yang tidak dikenal. Karena itu, sebagian anak muda memilih lebih selektif sebelum mengunggah sesuatu ke akun publik.

Selain itu, tekanan untuk selalu tampil menarik di media sosial juga menjadi faktor yang banyak dibicarakan. Feed media sosial yang dipenuhi foto estetik, pencapaian, atau gaya hidup tertentu membuat sebagian pengguna merasa harus menghasilkan unggahan yang "sempurna". Akibatnya, mereka memilih tidak mengunggah apa pun daripada merasa terbebani oleh ekspektasi tersebut.

Baca Juga: Hirono Bukan Sekadar Mainan, Mengapa Boneka Berwajah Murung ini Digandrungi Gen Z?

Di sisi lain, pola komunikasi juga mengalami perubahan. Interaksi kini lebih banyak berpindah ke ruang yang bersifat personal, seperti pesan langsung, grup percakapan, atau daftar teman dekat.

Bagi sebagian Gen Z, berbagi cerita kepada lingkaran kecil dianggap lebih nyaman dibanding mengunggahnya untuk konsumsi publik.

Fenomena ini juga tidak berarti seseorang meninggalkan media sosial sepenuhnya. Justru sebaliknya, banyak pengguna zero posting tetap aktif setiap hari.

Mereka menonton video pendek, mengikuti perkembangan tren, berinteraksi melalui komentar atau pesan pribadi, hingga menyimpan berbagai konten yang dianggap menarik.

Jika dahulu eksistensi diukur dari seberapa sering seseorang mengunggah konten, kini sebagian pengguna lebih memilih menjaga privasi dan mengendalikan jejak digital mereka.

Meski demikian, zero posting bukanlah aturan yang harus diikuti semua orang. Sebagian pengguna tetap merasa nyaman membagikan aktivitas sehari-hari melalui media sosial, sementara yang lain memilih menikmati konten tanpa perlu mengisi feed mereka.

Pada akhirnya, fenomena zero posting menunjukkan bahwa media sosial terus berkembang mengikuti perilaku penggunanya.

Bagi Generasi Z, aktif di dunia digital kini tidak lagi selalu berarti rajin mengunggah foto atau video. Feed yang kosong bukan berarti akun tersebut ditinggalkan, melainkan bisa menjadi cara baru untuk tetap terhubung dengan dunia digital tanpa harus selalu tampil di ruang publik.

Editor : Kabun Triyatno
#FEED BASE INCOME #media sosial #digital #generasi Z #Zero