Saat Semua Hal Harus Jadi Konten, Apa Kita Masih Bisa Menikmati Momen?

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 09:31 WIB
Fenomena "everything is content" membuat liburan hingga konser fokus didokumentasikan. Jika dominan, kita bisa kehilangan esensi menikmati momen secara utuh dan mengurangi interaksi sosial yang nyata. Gambar: Pinterest
Fenomena "everything is content" membuat liburan hingga konser fokus didokumentasikan. Jika dominan, kita bisa kehilangan esensi menikmati momen secara utuh dan mengurangi interaksi sosial yang nyata. (Pinterest)

RADARSOLO.COM - Liburan belum dimulai, tetapi kamera ponsel sudah lebih dulu aktif. Saat makanan datang ke meja, banyak orang memilih memotretnya sebelum menyentuh sendok. Di konser musik, ribuan layar ponsel terangkat merekam penampilan penyanyi, bahkan terkadang lebih tinggi daripada kepala penontonnya. Tidak sedikit pula yang merasa sebuah perjalanan belum lengkap jika belum diunggah ke media sosial.

Kebiasaan tersebut kini sering dikaitkan dengan fenomena "everything is content", yaitu kecenderungan melihat hampir setiap aktivitas sebagai sesuatu yang dapat dijadikan konten untuk dibagikan di media sosial. Mulai dari rutinitas pagi, perjalanan ke kantor, olahraga, memasak, hingga momen berkumpul bersama keluarga, semuanya berpotensi menjadi bahan unggahan.

Baca Juga: Tak Hanya Gawai, Ini Deretan Kata yang Mungkin Masih Terdengar Asing di Telinga

Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya penggunaan platform media sosial yang mengandalkan foto dan video pendek. Bagi sebagian orang, mendokumentasikan aktivitas merupakan hal yang wajar sebagai cara menyimpan kenangan. Namun, ketika fokus bergeser dari menikmati pengalaman menjadi menghasilkan konten, muncul pertanyaan baru: apakah kita masih benar-benar hadir dalam momen tersebut?

Contoh paling mudah terlihat saat berlibur. Dahulu, orang mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan. Kini, sebagian orang menghabiskan cukup banyak waktu untuk mencari sudut terbaik, mengulang pengambilan video, atau menunggu pencahayaan yang dianggap sempurna. Tidak jarang, waktu menikmati suatu tempat justru lebih banyak dihabiskan untuk membuat konten.

Baca Juga: Apa Itu Drag Path? Tren TikTok yang Berawal dari Jejak Perjuangan dan Berkembang Menjadi Simbol Kenangan

Hal serupa juga terjadi saat menonton konser. Banyak penonton memilih merekam hampir seluruh lagu menggunakan ponsel. Akibatnya, perhatian terbagi antara menikmati penampilan secara langsung dan memastikakan rekaman tetap stabil. Beberapa bahkan baru menyadari setelah konser selesai bahwa mereka lebih sering melihat layar ponsel dibandingkan panggung.

Saat makan bersama teman atau keluarga pun kebiasaan ini mulai terasa. Hidangan sering kali harus difoto terlebih dahulu sebelum disantap. Meski hanya memerlukan beberapa detik, kebiasaan tersebut menunjukkan bagaimana aktivitas sehari-hari kini semakin dekat dengan kebutuhan untuk didokumentasikan.

Mengambil foto atau video dapat membantu seseorang menyimpan kenangan, mengekspresikan diri, bahkan menjadi sumber penghasilan bagi kreator konten. Bagi pelaku usaha, media sosial juga menjadi sarana promosi yang efektif.

Baca Juga: Apa Itu “Manchild”? Kenapa Ada Orang Dewasa yang Sulit Bersikap Dewasa?

Namun, jika dorongan membuat konten menjadi terlalu dominan, seseorang berisiko kehilangan kesempatan untuk menikmati pengalaman secara utuh. Perhatian yang terus terbagi antara aktivitas yang sedang dijalani dan keinginan menghasilkan unggahan dapat mengurangi keterlibatan seseorang terhadap momen tersebut.

Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan konsep mindfulness, yaitu kemampuan untuk memberikan perhatian penuh pada apa yang sedang dialami saat ini. Ketika seseorang terlalu sibuk memikirkan sudut pengambilan gambar, jumlah tayangan, atau respons warganet, fokus terhadap pengalaman yang sebenarnya bisa berkurang.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan ponsel secara berlebihan dalam situasi sosial dapat memengaruhi kualitas interaksi. Saat setiap orang sibuk merekam atau mengedit unggahan, percakapan dan kebersamaan yang terjadi secara langsung bisa menjadi lebih singkat.

Meski demikian, bukan berarti seseorang harus berhenti mengambil foto atau video sama sekali. Yang menjadi perhatian adalah keseimbangan antara mendokumentasikan momen dan benar-benar mengalaminya. Mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan tentu tidak menjadi masalah, selama tidak membuat seluruh pengalaman berpusat pada pembuatan konten.

Di era digital, mendokumentasikan aktivitas sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Namun, sesekali menikmati konser tanpa terus mengangkat ponsel, menikmati makanan tanpa memikirkan unggahan, atau berjalan saat liburan tanpa harus merekam setiap langkah mungkin justru dapat menghadirkan pengalaman yang lebih berkesan.

Pada akhirnya, tidak semua momen harus menjadi konten. Ada kalanya kenangan terbaik justru tersimpan dalam ingatan, bukan hanya di galeri ponsel atau media sosial.

Editor : Kabun Triyatno
mindfulness konten digital ponsel kenangan