“Bokap” dan “Gokil” Ternyata Sandi Bahasa Anak Muda Zaman Dulu

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 10:05 WIB
Istilah "bokap" dan "gokil" merupakan bagian dari bahasa prokem dengan rumus penyisipan bunyi "ok".
Istilah "bokap" dan "gokil" merupakan bagian dari bahasa prokem dengan rumus penyisipan bunyi "ok".

RADARSOLO.COM – Pernah bertanya-tanya kenapa orang Indonesia menyebut ayah dengan kata “bokap” atau menyebut sesuatu yang sangat lucu dengan kata “gokil”? Sekilas, kedua kata tersebut terdengar seperti bahasa gaul yang muncul begitu saja. Padahal, keduanya punya cerita yang cukup panjang dan berkaitan dengan perkembangan bahasa pergaulan anak muda Indonesia.

“Bokap” dan “gokil” merupakan contoh kosakata yang dikenal dalam perkembangan bahasa prokem, salah satu ragam bahasa gaul yang berkembang di Indonesia. Istilah prokem sendiri mulai populer di lingkungan tertentu sebelum kemudian menyebar dan digunakan lebih luas oleh anak muda.

Baca Juga: Kenapa Nama Orang Barat Sering Punya “Kode” Keluarga?

Pada awal perkembangannya, bahasa prokem banyak digunakan dalam kelompok-kelompok pergaulan di perkotaan, termasuk lingkungan anak jalanan. Salah satu fungsi bahasa semacam ini adalah menciptakan identitas kelompok sekaligus membuat percakapan lebih sulit dipahami oleh orang di luar kelompok.

Menariknya, kosakata prokem tidak selalu dibuat dengan menciptakan kata yang benar-benar baru. Ada pula pola tertentu yang digunakan untuk mengubah kata yang sudah dikenal.

Salah satunya adalah permainan bunyi dengan menyisipkan unsur “ok”.

Misalnya, kata “gila” dapat diolah menjadi “gokil”. Caranya, bagian awal kata diubah dengan memasukkan bunyi “ok”, sementara bagian lainnya tetap dipertahankan. Pola serupa dapat ditemukan pada kata “bapak” yang kemudian menjadi “bokap”.

Baca Juga: Satu Film Bikin Geger, Mengapa “?” (Tanda Tanya) Hanung Bramantyo Begitu Kontroversial?

Dari pola tersebut, kata yang awalnya terdengar seperti kode atau permainan bahasa di lingkungan tertentu perlahan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

Namun, perjalanan bahasa prokem tidak berhenti di jalanan. Budaya populer ikut membantu membuat kosakata tersebut dikenal lebih luas. Film, musik, majalah, dan media hiburan pada masa itu menjadi ruang penting bagi bahasa pergaulan untuk berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya.

Salah satu contohnya dapat dilihat melalui film Ali Topan Anak Jalanan, yang menggambarkan kehidupan anak muda dan lingkungan jalanan Jakarta. Penggunaan bahasa pergaulan dalam karya populer membuat ragam bahasa yang sebelumnya terasa “milik kelompok tertentu” semakin akrab di telinga masyarakat.

Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang aneh dalam perkembangan bahasa. Sebuah kata dapat berpindah dari satu komunitas ke komunitas lain ketika kata tersebut dianggap menarik, praktis, lucu, atau mampu menunjukkan kedekatan antarpenggunanya.

Menariknya, banyak kata prokem yang lahir puluhan tahun lalu justru masih bertahan hingga sekarang. “Bokap” misalnya, masih sering digunakan dalam percakapan informal untuk menyebut ayah. Begitu pula “gokil” yang dapat digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang dianggap luar biasa, lucu, atau tidak biasa.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa bahasa gaul sebenarnya tidak selalu identik dengan generasi tertentu. Setiap zaman memiliki cara sendiri untuk menciptakan dan menyebarkan bahasa pergaulan.

Jika generasi sekarang memiliki istilah seperti “sabi”, “gas”, “spill”, atau berbagai kosakata yang lahir dari media sosial, anak muda beberapa dekade lalu juga memiliki kreativitas serupa.

Bedanya, saluran penyebarannya bukan TikTok atau Instagram, melainkan lingkungan pergaulan, musik, film, dan media massa.

Jadi, ketika mendengar kata “bokap” atau “gokil”, kita sebenarnya sedang berhadapan dengan jejak sejarah bahasa gaul Indonesia. Kata-kata tersebut bukan sekadar istilah santai, tetapi bukti bahwa bahasa terus bergerak mengikuti masyarakat yang menggunakannya.

Dan siapa sangka, permainan kecil dengan bunyi “ok” bisa meninggalkan jejak yang bertahan sampai beberapa generasi? (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
kata inayah choirunisa prokem gokil bahasa