RADARSOLO.COM – “Gaji kamu berapa sih?”
“Ngapain nanya-nanya? Kepo banget!”
Kata kepo sudah begitu akrab dalam percakapan sehari-hari. Istilah ini biasanya digunakan untuk menyebut seseorang yang terlalu ingin tahu, terutama mengenai urusan orang lain. Namun, masih banyak yang mengira kepo merupakan singkatan dari bahasa Inggris Knowing Every Particular Object.
Padahal, asal-usul yang lebih banyak dirujuk justru berkaitan dengan bahasa Hokkien.
Baca Juga: Bahasa Cia-Cia di Buton pernah mengadopsi Aksara Korea
Jejaknya dapat ditemukan pada istilah kaypoh atau kay poh, yang digunakan dalam lingkungan bahasa Singlish atau Singaporean English.
Istilah tersebut merujuk pada seseorang yang suka ingin tahu atau ikut campur urusan orang lain. Dalam salah satu sumber mengenai Singlish yang dikutip pengamat bahasa Ivan Lanin, kay poh dijelaskan sebagai istilah berakar dari bahasa Tionghoa untuk menyebut orang yang bersikap ingin tahu terhadap urusan orang lain.
Contoh penggunaannya bahkan bisa terdengar seperti, “Don't be so kaypoh lah.” Artinya kurang lebih meminta seseorang agar tidak terlalu ikut campur atau ingin tahu urusan orang lain.
Dari bentuk kaypoh tersebut, istilah kemudian dikenal dalam berbagai variasi penulisan dan pelafalan di kawasan Asia Tenggara.
Dalam bahasa Indonesia, bentuknya menjadi lebih ringkas dan akrab di telinga sebagai kepo. Penelitian mengenai bahasa gaul juga mencatat kepo sebagai istilah yang berkaitan dengan kaypoh dalam bahasa Hokkien dan penggunaannya di Singapura serta kawasan sekitarnya.
Baca Juga: Dead Language, Begini Nasib Bahasa yang Kehilangan Penuturnya
Lalu, bagaimana dengan Knowing Every Particular Object?
Frasa tersebut memang sangat sering muncul ketika orang mencari kepanjangan kata kepo. Namun, frasa itu lebih tepat dipahami sebagai backronym, yakni kepanjangan yang dibuat setelah sebuah kata sudah digunakan, bukan bukti bahwa kata kepo pada awalnya diciptakan dari empat kata bahasa Inggris tersebut.
Hal ini masuk akal jika melihat konteks penggunaannya. Kepo bukanlah istilah bahasa Inggris umum yang digunakan penutur Inggris untuk menggambarkan orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Sebaliknya, bentuk kaypoh justru memiliki jejak yang jelas dalam lingkungan bahasa Singlish dan berkaitan dengan pengaruh bahasa Hokkien.
Menariknya, ketika masuk ke bahasa Indonesia, maknanya tidak benar-benar berubah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kepo digunakan untuk menyebut rasa ingin tahu yang berlebihan tentang kepentingan atau urusan orang lain. Artinya, kata tersebut sudah cukup mapan dalam penggunaan bahasa Indonesia informal.
Perjalanan kepo menunjukkan bagaimana bahasa gaul dapat berpindah melintasi negara dan komunitas. Sebuah istilah yang memiliki akar dari bahasa Hokkien dapat digunakan dalam lingkungan Singlish, kemudian masuk ke percakapan masyarakat Indonesia dan akhirnya menjadi bagian dari bahasa sehari-hari.
Fenomena semacam ini sebenarnya tidak asing di Indonesia. Bahasa Indonesia terus menerima pengaruh dari berbagai bahasa karena masyarakatnya berinteraksi dengan banyak kelompok budaya. Ada kata yang masuk melalui perdagangan, migrasi, media, hingga budaya populer.
Kepo menjadi salah satu contoh menarik karena sekarang asal-usulnya mungkin sudah tidak terasa sama sekali. Ketika seseorang berkata, “Jangan kepo deh,” hampir tidak ada yang berpikir bahwa kata tersebut memiliki perjalanan lintas bahasa dan negara.
Jadi, kalau selama ini mengira kepo merupakan singkatan Knowing Every Particular Object, ternyata ceritanya jauh lebih menarik. Kata yang kita gunakan untuk menyebut orang yang terlalu ingin tahu itu justru punya jejak dari bahasa Hokkien dan perjalanan panjang melalui kawasan Asia Tenggara. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno