Konser Sekarang Bisa Jadi Alasan Orang Pergi Liburan, Kok Bisa?

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 18:36 WIB
Konser dan festival musik kini bertransformasi menjadi daya tarik utama pariwisata.
Konser dan festival musik kini bertransformasi menjadi daya tarik utama pariwisata.

RADARSOLO.COM – Dulu, ketika membayangkan liburan, yang muncul mungkin adalah pantai, gunung, kuliner khas, atau hotel dengan pemandangan bagus. Sekarang, ada satu alasan lain yang bisa membuat seseorang rela membeli tiket pesawat, memesan penginapan, bahkan pergi ke kota lain: konser.

“Konsernya ada di Jakarta, berangkat dari Solo pagi, pulang besok.”

Kalimat seperti ini semakin biasa terdengar di kalangan penggemar musik. Tujuan perjalanannya bukan lagi sekadar mencari tempat wisata, melainkan mengejar pengalaman melihat musisi favorit secara langsung.

Baca Juga: HopeTok Muncul di Tengah Tren Doomscrolling, Kenapa Gen Z Mulai Memilih Konten yang Bikin Tenang?

Fenomena tersebut bahkan mulai dilihat sebagai bagian dari perkembangan pariwisata. Dilansir dari ANTARA, musik kini semakin berpotensi menjadi salah satu daya tarik wisata Indonesia pada 2026.

Konser dan festival musik tidak hanya menjadi hiburan bagi wisatawan yang sudah berada di sebuah daerah, tetapi dapat menjadi alasan utama seseorang memilih destinasi perjalanan.

Perubahan ini sebenarnya cukup menarik jika dibandingkan dengan cara orang menentukan liburan pada masa lalu. Dulu, seseorang mungkin memilih Bali karena pantainya, Yogyakarta karena budayanya, atau Bandung karena kulinernya. Kini, sebuah kota juga bisa masuk daftar tujuan hanya karena ada musisi atau festival yang akan tampil di sana.

Baca Juga: Loud Budgeting, Tren Gen Z yang Tak Lagi Gengsi Bilang “Nggak Dulu”

Mengapa orang mau melakukan perjalanan sejauh itu hanya untuk dua atau tiga jam pertunjukan?

Jawabannya mungkin karena konser menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh layanan streaming.

Musik memang sudah sangat mudah diakses. Dengan membuka Spotify atau platform musik lainnya, seseorang bisa mendengarkan lagu favorit kapan saja. Namun, mendengarkan lagu melalui earphone tentu berbeda dengan berada di tengah ribuan orang yang menyanyikan lagu yang sama secara bersamaan.

Ada pengalaman emosional yang tidak bisa dipindahkan begitu saja ke layar.

Karena itu, konser bagi sebagian penggemar bukan sekadar aktivitas mendengarkan musik. Ada perjalanan, antrean, pakaian yang dipersiapkan, bertemu penggemar lain, membeli merchandise, mengambil foto, hingga cerita perjalanan pulang yang akhirnya menjadi bagian dari kenangan.

Festival musik bahkan menawarkan pengalaman yang lebih luas lagi. Orang datang bukan hanya untuk satu penampil, tetapi juga menikmati suasana, makanan, instalasi visual, komunitas, dan berbagai aktivitas lain di dalamnya.

Dalam konteks pariwisata, kondisi ini kemudian menciptakan efek berantai. Ketika seseorang datang ke kota lain untuk menghadiri konser, ia membutuhkan tempat menginap, transportasi, makanan, hingga mungkin mengunjungi tempat wisata di sekitar lokasi acara.

Artinya, uang yang awalnya dikeluarkan untuk membeli tiket konser dapat ikut bergerak ke sektor ekonomi lainnya.

Fenomena ini juga berkaitan erat dengan perkembangan fandom. Penggemar sekarang tidak hanya menjadi konsumen musik, tetapi bagian dari komunitas yang memiliki kebiasaan dan identitas bersama. Datang ke konser bisa menjadi semacam pengalaman kolektif: ada rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mendengarkan sebuah lagu.

Menariknya, tren tersebut membuat batas antara hiburan dan perjalanan semakin tipis.

Orang tidak selalu pergi karena ingin berwisata, lalu kebetulan menemukan konser. Kadang justru sebaliknya: mereka pergi karena konser, kemudian sekalian menjadikan perjalanan itu sebagai liburan.

Dan dari sana, perjalanan yang awalnya hanya mengejar satu malam pertunjukan bisa berubah menjadi pengalaman wisata yang jauh lebih panjang. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa musik perjalanan konser wisata