RADARSOLO.COM – Di tengah kebiasaan mengirim pesan lewat WhatsApp, DM Instagram, hingga media sosial, menulis surat dengan tangan mungkin terasa seperti cara komunikasi dari masa lalu. Namun, setiap 1 September, dunia justru diajak kembali mengenal hangatnya komunikasi melalui selembar surat lewat Hari Penulisan Surat Sedunia (World Letter Writing Day).
Peringatan ini dicetuskan oleh Richard Simpkin, seorang penulis, seniman, dan fotografer asal Australia, pada 2014. Ide tersebut berawal dari pengalaman pribadinya ketika mengerjakan proyek Legends pada akhir 1990-an.
Saat itu, Simpkin mengirimkan surat tulisan tangan kepada sejumlah tokoh yang dianggapnya sebagai legenda Australia. Ia mengirim surat tersebut untuk meminta kesempatan melakukan wawancara dan sesi pemotretan.
Baca Juga: Kenapa Bunga Identik dengan Cinta? Ternyata Ada Sejarah Panjang di Baliknya
Namun, bukan hanya pertemuan dengan para tokoh yang meninggalkan kesan bagi Simpkin. Ia justru merasakan kebahagiaan tersendiri setiap kali menerima surat balasan yang ditulis dengan tangan dan tiba di kotak suratnya.
Surat-surat tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam proyeknya. Pada 2005, Simpkin berhasil menerbitkan buku Australian Legends yang berisi kisah dan dokumentasi dari proyek tersebut.
Pengalaman itu membuat Simpkin ingin mengajak lebih banyak orang kembali merasakan pengalaman berkomunikasi melalui surat. Ia kemudian mencetuskan Hari Penulisan Surat Sedunia pada 2014.
Baca Juga: Di Tengah Era Video Pendek, Substack Justru Mengajak Orang Membaca Tulisan Panjang
Tanggal 1 September dipilih bukan tanpa alasan. Di Australia dan sejumlah wilayah di belahan bumi selatan, tanggal tersebut bertepatan dengan awal musim semi. Musim ini dianggap sebagai simbol permulaan baru dan menjadi momentum yang tepat untuk berhenti sejenak dari rutinitas.
Melalui Hari Penulisan Surat Sedunia, masyarakat diajak mengambil jeda dari komunikasi digital dan meluangkan waktu untuk menulis sesuatu yang lebih personal kepada orang lain.
Bagi Simpkin, surat tulisan tangan memiliki pengalaman yang berbeda dibandingkan pesan digital. Mulai dari memilih kertas, menulis setiap kata, memasukkannya ke dalam amplop, hingga menunggu surat tersebut sampai kepada penerimanya menjadi bagian dari pengalaman yang tidak bisa diperoleh ketika mengirim pesan instan.
Simpkin juga aktif memperkenalkan tradisi tersebut kepada generasi muda. Ia mengunjungi sekolah-sekolah dan mengadakan lokakarya menulis surat agar anak-anak tetap mengenal bentuk komunikasi personal yang mulai jarang digunakan.
Peringatan ini pun tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit. Masyarakat bisa merayakannya dengan menulis surat untuk orang tua, sahabat, pasangan, atau seseorang yang sudah lama tidak ditemui.
Baca Juga: Ternyata, Cara Kita Menggigit Makanan Bisa Mengubah Cara Mengucapkan Huruf
Tidak perlu menunggu momen khusus. Sepucuk surat sederhana berisi ucapan terima kasih, cerita tentang kehidupan sehari-hari, atau sekadar kalimat "apa kabar?" bisa menjadi sesuatu yang berkesan bagi penerimanya.
Di era ketika pesan dapat terkirim hanya dalam hitungan detik, Hari Penulisan Surat Sedunia menjadi pengingat bahwa terkadang sebuah pesan terasa lebih berarti ketika seseorang bersedia meluangkan waktu untuk menuliskannya dengan tangannya sendiri.
Editor : Annas Rohmanda Purbaningrum