Saat ini, beberapa negara pengekspor jagung menerapkan pembatasan ekspor guna memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dalam negerinya. Kebijakan tersebut mengakibatkan terjadinya kenaikan harga jagung dunia, selain juga sebagai dampak dari kondisi geopolitik global saat ini akibat konflik Rusia-Ukraina.
Rata-rata harga jagung mengalami peningkatan, dengan update rata-rata harga pada Juni 2022 mencapai USD 335,71 per ton. Harga jagung internasional mencapai level tertinggi pada April 2022 sebesar USD 348,17 per ton, dan cenderung mengalami sedikit penurunan hingga Juni 2022.
Kecenderungan harga jagung dunia yang membaik pada Januari-Juni 2022, yang naik sebesar 21,53 persen dibanding periode sama 2021, menjadi peluang bagi Indonesia untuk melakukan ekspor jagung. Melalui intensifikasi berupa peningkatan produktivitas dan ekstensifikasi dengan perluasan areal tanam baru, pemerintah berharap dapat melakukan peningkatan produksi jagung. Baik untuk memenuhi ketersediaan di dalam negeri maupun memenuhi demand dari negara lain.
“Dengan harga global yang sekarang di angka USD 335 per ton atau setara Rp 5.000 per kg, bapak presiden memberi arahan agar dilakukan peningkatan produksi, termasuk ekstensifikasi dari lahan yang ada,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Menko Airlangga menambahkan perlunya mendorong penggunaan bibit atau benih unggul (benih varietas hibrida jagung). "Ada 14 varietas yang diharapkan bisa meningkatkan prosuksi menjadi 10,68-13,70 ton per hektare (ha). Pak menteri pertanian akan menyelesaikan regulasi dan kebijakan yang diperlukan,” ujar dia.
Untuk meningkatkan produksi jagung nasional, sesuai dengan hasil rapat koordinasi teknis di Kemenko Perekonomian dan setkab, Kementan telah menentukan enam lokasi. Yaitu di Provinsi Papua, Papua Barat, NTT, Maluku, Maluku Utara dan Kalimantan Utara. Total luas lahan 141.000 hektare, di mana seluas 86.000 hektare di antaranya merupakan areal tanam baru.
Perkiraan produksi jagung dengan kadar air (KA) 27,81% persen (jagung pipilan basah di petani) hingga akhir tahun bisa mencapai 25,3 juta ton. Sedangkan perkiraan produksi jagung dengan KA 14 persen (jagung simpan di gudang) mencapai 18,7 juta ton.
Sedangkan kebutuhan untuk industri, terutama industri pakan ternak sekitar 15 juta ton. Sehingga masih ada cadangan jagung nasional sekitar 3 juta ton, yang diprioritaskan untuk cadangan kebutuhan nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Menko Airlangga juga menyampaikan beberapa kebijakan dan program pemerintah dalam upaya meningkatkan produksi jagung nasional. Di antaranya dengan memenuhi kebutuhan alsintan untuk percepatan olah tanah, tanam dan panen, pascapanen (perontokan, pengeringan). Selain itu juga dengan penyediaan silo dan dryer di sentra produsen. Atau penyediaan mobile dryer untuk menjangkau wilayah remote dan tersebar.
“Sesuai dengan yang diharapkan bapak presiden, dengan adanya intensifikasi pertanian dan ekstensifikasi, khususnya melalui perluasan lahan baru, maka kita bisa meningkatkan produksi. Produksi ini tentu dipersiapkan sesuai dengan demand di dalam negeri dan juga bisa memenuhi demand di negara lain,” pungkas Menko Airlangga. (map/fsr/hls) Editor : Syahaamah Fikria