Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

5 Fakta tentang Gempa Megathrust yang Disebut Tinggal Menunggu Waktu, Siapkah Indonesia Menghadapinya?

Syahaamah Fikria • Rabu, 14 Agustus 2024 | 00:56 WIB
Ilustrasi gempa bumi.
Ilustrasi gempa bumi.

RADARSOLO.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan bahwa terjadinya gempa megathrust di Indonesia hanya tinggal menunggu waktu.

Prediksi terjadinya gempa megthurst ini berdasarkan analisis terhadap zona seismik gap di beberapa wilayah penting, seperti Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.

BMKG memprediksi, Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut dapat memicu gempa dahsyat dengan kekuatan di atas Magnitudo (M) 8.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono mengungkapkan, seismic gap Megathrust di Selat Sunda (M8,7) dan Megathrust Mentawai-Siberut (M8,9) berada dalam situasi yang sangat kritis.

"Kedua wilayah ini sudah ratusan tahun belum mengalami gempa besar. Sehingga rilis gempa besar di segmen-segmen ini sangat mungkin terjadi kapan saja," tutur Daryono, Selasa (13/8).

Potensi gempa megathrust di Indonesia sangat besar, mirip dengan yang terjadi di Jepang baru-baru ini.

Gempa berkekuatan 7,1 magnitudo yang mengguncang Jepang pada 8 Agustus lalu, menjadi pengingat serius bagi Indonesia tentang ancaman gempa serupa.

Meski waktu pasti terjadinya gempa megathrust di Indonesia belum dapat diprediksi, BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan persiapan dalam menghadapi potensi bencana ini.

Berikut fakta-fakta tentang prediksi gempa megathrust yang perlu dipahami dan diantisipasi:

1. Penyebab Gempa Megathrust

Gempa megathrust adalah gempa bumi yang sangat besar, terjadi di zona subduksi.

Aktivitas tektonik di zona subduksi, di mana lempeng samudera menunjam di bawah lempeng benua itulah yang menjadi penyebab utama dari gempa megathrust.

Proses penunjaman ini mengakumulasi energi selama bertahun-tahun, bahkan ratusan tahun.

Saat batuan tidak mampu lagi menahan tekanan, energi tersebut dilepaskan secara tiba-tiba dalam bentuk gempa bumi besar.

BMKG menyebut, Indonesia dikelilingi oleh 13 zona megathrust yang berpotensi memicu gempa besar.

Zona-zona ini terbentuk akibat pertemuan lempeng-lempeng tektonik besar, seperti Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik.

2. Mirip dengan Kasus Gempa di Jepang

Badan meteorologi Jepang diketahui telah mengeluarkan peringatan pertama tentang risiko gempa besar di sepanjang pantai Pasifik.

Peringatan ini dikeluarkan, setelah terjadinya gempa berkekuatan 7,1 SR yang menggetarkan Laut Hyūganada di Prefektur Miyazaki, Pulau Kyushu pada Kamis (8/8) lalu.

Badan meteorologi Jepang menyatakan, gempa dahsyat akan terjadi di masa depan, yang menghasilkan getaran kuat dan tsunami besar.

BMKG menyebut, kasus gempa di Jepang itu memiliki penyebab serupa dengan potensi gempa megathrust di Indonesia.

Daryono menjelaskan, megathrust Nankai (Jepang) adalah salah satu zona seismic gap. Yakni zona sumber gempa potensial tetapi belum terjadi gempa besar dalam masa puluhan hingga ratusan tahun terakhir.

"Diduga saat ini sedang mengalami proses akumulasi medan tegangan atau stres kerak bumi," ucap dia.

3. Prediksi Kekuatan Gempa

Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi, zona megathrust di Selat Sunda bisa memicu gempa besar berkekuatan maksimal M 8,7.

Perekayasa Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai BRIN Wijdo Kongko menyebut, gempa dahsyat itu dapat terjadi jika gempa dipicu oleh Megathrust Selat Sunda bersamaan dengan adanya segmentasi di atas.

Yakni Megathrust Enggano di Bengkulu serta di sebelah timur, Megathrust Jawa Barat-Tengah.

4. Dampak Gempa Megathrust Bisa Picu Tsunami

Dampak dari gempa megathrust, jika terjadi, bisa sangat merusak.

Termasuk kemungkinan terjadinya tsunami yang dapat mengancam wilayah pesisir di Indonesia.

BMKG terus mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk, guna meminimalisir dampak yang bisa ditimbulkan.

5. Kesiapan BMKG atas Potensi Gempa Megathrust.

Kapan terjadinya gempa megthrust ini memang belum bisa dipastikan.

Namun demikian, berbagai langkah persiapan dan antisipasi harus dilakukan untuk menghadapi gempa megthrust ini.

Daryono menyebut, BMKG telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi. Salah satu yang utama adalah pengembangan dan peningkatan sistem InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System).

Sistem InaTEWS memungkinkan proses monitoring, prosesing, dan diseminasi informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami yang lebih cepat dan akurat.

Daryono menjelaskan, sensor-sensor sistem InaTEWS di berbagai titik strategis dapat segera meyebarluaskan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami di seluruh Indonesia.

"Sensor ini termasuk memantau aktivitas gempa dan tsunami di zona Megathrust Nankai Jepang dan sekitarnya secara realtime," terang dia.

Selain itu, BMKG terus memberikan edukasi, pelatihan mitigasi, drill, evakuasi, berbasis pemodelan tsunami kepada masyarakat.

Termasuk kepada pihak-pihak terkait. Seperti pelaku usaha pariwisata pantai, industri pantai dan infrastruktur kritis pelabuhan dan bandara pantai, dan masih banyak lagi. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#tsunami #gempa megathrust #BMKG #gempa #BRIN #selat sunda