RADARSOLO.COM - Belakangan ini, masyarakat Indonesia mengeluhkan suhu udara yang terasa lebih dingin, terutama saat malam hari.
Banyak yang mengaitkannya dengan fenomena astronomi bernama aphelion, bahkan ada pula yang mengaitkannya dengan munculnya penyakit seperti flu, demam, batuk, hingga sesak napas.
Namun, benarkah fenomena aphelion menjadi penyebab suhu dingin dan gangguan kesehatan tersebut?
Apa Itu Aphelion?
Aphelion adalah kondisi ketika Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari dalam orbitnya yang berbentuk elips.
Berbeda dari anggapan umum yang menyebut orbit Bumi berbentuk lingkaran sempurna, orbit Bumi sebenarnya lonjong dengan kelonjongan sekitar 1/60.
Fenomena ini terjadi setiap tahun, biasanya pada awal Juli.
Sebaliknya, saat Bumi berada di titik terdekat dengan Matahari disebut perihelion, yang biasanya terjadi di awal Januari.
Menurut informasi dari BMKG, pada tahun 2025, aphelion terjadi pada Jumat, 4 Juli 2025 pukul 02.54 WIB.
Baca Juga: Gempa Berkekuatan Magnitudo 5,7 Guncang Pacitan, Getaran Terasa di Bantul, Begini Penjelasan BMKG
Aphelion terjadi aat jarak Bumi ke Matahari mencapai 152.087.738 kilometer, lebih jauh dibanding rata-rata jarak Bumi–Matahari yaitu 149,6 juta kilometer.
Perbedaan jarak ini disebabkan oleh bentuk orbit Bumi dan dipengaruhi oleh tarikan gravitasi planet-planet besar seperti Jupiter dan Saturnus, sebagaimana dijelaskan oleh Hukum Gerak Planet Kepler.
Apakah Aphelion Menyebabkan Suhu Dingin?
Meski terdengar masuk akal, BMKG menegaskan bahwa aphelion tidak memberikan dampak langsung terhadap suhu atau cuaca ekstrem di Bumi. Berikut penjelasannya:
1. Matahari Tampak Sedikit Lebih Kecil
Ukuran piringan Matahari memang terlihat sekitar 1,68% lebih kecil saat aphelion dibanding saat perihelion.
Namun, perubahan ini tidak berdampak signifikan dan sulit disadari oleh mata manusia.
2. Bukan Penyebab Suhu Dingin di Indonesia
Suhu dingin di Indonesia pada bulan Juli–Agustus merupakan fenomena musiman yang normal, akibat dari:
-
Monsoon Dingin Australia
Angin dingin dan kering dari Australia yang sedang mengalami musim dingin bertiup ke Indonesia dan menurunkan suhu udara, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa. -
Minimnya Tutupan Awan
Pada musim kemarau, langit cenderung cerah sehingga radiasi panas dari permukaan Bumi cepat terlepas ke atmosfer, membuat suhu turun drastis di malam hari, terutama di dataran tinggi seperti Dieng.
3. Pengaruh pada Durasi Musim di Belahan Bumi Utara
Aphelion memang sedikit memengaruhi durasi musim di belahan Bumi utara, yaitu membuat musim panas berlangsung 2–3 hari lebih lama dibandingkan musim panas di belahan Bumi selatan. Namun, hal ini tidak berdampak pada iklim secara global.
4. Tidak Berbahaya bagi Kesehatan
BMKG menegaskan bahwa aphelion adalah fenomena astronomi tahunan yang tidak berbahaya.
Pesan berantai yang mengaitkannya dengan gangguan kesehatan seperti flu dan demam adalah informasi keliru.
Aphelion bukan penyebab utama suhu dingin di Indonesia.
Fenomena ini memang menarik dari sisi astronomi, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap cuaca maupun kesehatan.
Suhu sejuk yang kita rasakan saat ini lebih disebabkan oleh faktor meteorologis seperti angin muson dingin dari Australia dan minimnya awan saat musim kemarau.(np)
Editor : Nur Pramudito