RADARSOLO.COM — Sosok Kopral Partika Subagyo Lelono, atau lebih dikenal sebagai Kopral Bagyo, mungkin sudah berpulang. Namun, warisannya sebagai prajurit paling nyentrik dan ekstrem di tubuh TNI Angkatan Darat akan terus melekat dalam ingatan banyak orang.
Meski berpangkat Kopral Kepala, dedikasi, aksi gilanya, dan loyalitasnya membuat namanya melampaui pangkat.
Bahkan, ia dikenal sebagai satu-satunya prajurit yang diizinkan mengenakan seluruh baret kesatuan TNI, sebuah penghormatan tak biasa.
Aksi Berbahaya Berujung Masuk Sel
Dalam berbagai kesempatan, Kopral Bagyo kerap mencuri perhatian lewat aksi-aksi ekstrem yang mustahil dilakukan manusia lain, bahkan prajurit biasa.
Mulai dari mandi air aki, minum oli, hingga push up satu jari dan koprol ribuan kali.
Pensiunan TNI yang meninggal di usia 61 tahun itu, memulai aksi-aksi ekstrem dan nyelenehnya sejak usia 46 tahun.
Semu aksinya dilakukan demi menggemakan pesan kebangsaan, moralitas, dan cinta tanah air.
Namun, tak semua aksinya mendapat lampu hijau dari atasan.
Apalagi terkadang Kopral Bagyo tidak mengajukan izin dulu sebelum melakukan aksi ekstremnya.
“Saya ini punya ide yang dianggap orang nyeleneh. Tapi kalau izin komandan tentu tidak diizinkan. Kalau mati siapa yang mau tanggung jawab,” kelakar dia saat berbincang dengan radarsolo.com semasa hidup.
Beberapa aksinya yang dianggap membahayakan diri sendiri membuatnya harus menerima sanksi.
Ia tak segan mengaku pernah masuk sel markas hingga empat kali, piket 3x24 jam, bahkan piket tujuh hari tujuh malam.
"Kadang saya izin, kadang enggak. Ada juga yang melakukan dulu, baru izin. Makanya dulu sering dihukum, pernah di 3-4 kali masuk sel, pernah di sel empat hari, piket 3 kali 24 jam, piket tujuh hari tujuh malam," kenangnya.
"Karena sudah pensiun tidak masalah kalau saya cerita,” imbuh pemegang medali emas Prajurit Terkuat TNI AD dan rekor MURI push up 24 jam itu.
Boleh Pakai Semua Baret TNI
Meski sempat menuai hukuman, Kopral Bagyo justru diangkat sebagai simbol positif TNI di mata masyarakat.
Atas semangat, keberanian, dan aksi inspiratifnya, pimpinan TNI kala itu memberinya izin khusus untuk memakai baret dari seluruh matra TNI, termasuk POM AD, Kostrad, Kopassus, dan lainnya.
“Saya diberi izin pimpinan untuk pakai berbagai baret dari semua kesatuan TNI karena aksi-aksi saya dianggap baik. Karena itu, saya berani bilang kalau tidak ada seorang pun prajurit yang berani demo kecuali Kopral Bagyo,” kata dia.
Di balik tampilannya yang penuh lelucon dan nyeleneh, tersimpan karakter religius dan penuh kesungguhan.
Ia tak pernah menganggap aksinya sebagai ajang mencari perhatian pribadi.
Semua dilakukan untuk institusi dan demi menyampaikan nilai luhur ke masyarakat.
“Apa yang saya lakukan ini bukan buat gaya-gayaan. Tapi karena saya percaya Tuhan kasih saya sedikit kelebihan fisik. Kalau orang biasa push up 30 kali sudah capek, saya bisa 1.000 lebih. Tapi tetap harus latihan dan trik. Jangan ditiru sembarangan,” ungkapnya.
Aksinya tak pernah lepas dari doa dan keyakinan.
Ia meyakini, apa yang diraihnya selama ini tak lain adalah bagian dari takdir dan izin Tuhan Yang Maha Esa.
Cinta TNI Sejak Bocah
Lahir di Banyuwangi dari keluarga bersahaja dengan garis keturunan Belanda dari sang ayah, kecilnya Subagyo sudah punya mimpi besar, yakni menjadi tentara dan membela tanah air.
Ia bahkan langsung mendaftar TNI setelah lulus sekolah teknik setara SLTP, dan sejak itu tak pernah berpaling dari seragam loreng.
“Dari kecil saya pengin perang. Cita-cita saya cuma satu, jadi tentara,” ungkapnya.
Kini, meski telah tutup usia, semangat Kopral Bagyo akan terus hidup sebagai inspirasi. (ves/ria)
Editor : Syahaamah Fikria