RADARSOLO.COM - Khutbah Idul Adha dengan Tema Ikhlas Berkurban dapat menjadi salah satu materi dakwah yang disampaikan oleh khatib pada pelaksanaan salat Id.
Tema ini sangat relevan dengan makna utama Hari Raya Idul Adha yang identik dengan pengorbanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingati Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah.
Momen ini dikenal juga sebagai Hari Raya Kurban atau Lebaran Haji yang sarat dengan nilai spiritual dan penguatan keimanan.
Dalam perayaannya, umat Islam tidak hanya melaksanakan penyembelihan hewan kurban, tetapi juga diajak untuk memahami makna keikhlasan di balik ibadah tersebut. Kurban menjadi simbol ketaatan dan kepasrahan total kepada Allah SWT.
Sebelum prosesi penyembelihan hewan kurban dilakukan, umat Muslim terlebih dahulu melaksanakan Salat Idul Adha secara berjamaah di pagi hari.
Pada rangkaian ibadah tersebut, khutbah Idul Adha menjadi bagian penting yang berisi pesan moral, termasuk tentang pentingnya ikhlas dalam berkurban.
Tema Ikhlas Berkurban dalam khutbah ini menekankan bahwa setiap amal ibadah, khususnya kurban, harus dilandasi dengan niat tulus semata-mata karena Allah SWT, bukan karena riya atau ingin dipuji manusia.
Khutbah I
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، (3 مَرَّاتٍ) وَللهِ الْحَمْدُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، وَنَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ، وَرَحْمَتُهُ الْمُهْدَاةُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ، القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ
Hadirin Jemaah Idul Adha yang dimuliakan Allah SWT.
Kita berkumpul dalam kebersamaan untuk menunaikan salat Idul Adha, sebuah momen yang sangat istimewa dalam hidup kita sebagai umat Islam beriman.
Baru saja kita bersujud dan rukuk. Bukan sekadar rutinitas, tetapi sebagai bentuk nyata ketundukan dan rasa hormat kita kepada Sang Pencipta.
Kita juga mengumandangkan takbir dan tahmid. Bukan hanya dari mulut, tetapi dari lubuk hati yang paling dalam.
Ucapan “Allahu Akbar” yang terus menggema bukan hanya lantunan kata. Kalimat itu adalah getaran jiwa, suara hati seorang hamba yang benar-benar menyadari kebesaran Tuhan.
Allah Maha Agung. Allah Maha Segalanya.
Tidak ada yang layak disembah selain Dia. Maka dari itu, mari kita belajar untuk merendahkan hati di hadapan-Nya. Lepaskan rasa angkuh dan gengsi yang sering kali membuat kita jauh dari kasih sayang-Nya.
Hadirin Jemaah Idul Adha yang dimuliakan Allah SWT.
Hari ini juga dikenal sebagai Hari Raya Haji. Di saat kita berkumpul di sini, jutaan saudara kita tengah berwukuf di Padang Arafah, puncak ibadah haji yang sangat agung.
Di sana, tidak ada beda antara yang kaya atau miskin dan pejabat atau rakyat biasa. Semuanya memakai kain putih sederhana alias pakaian ihram, sebagai lambang bahwa kita semua sama di hadapan Allah.
Mereka berkumpul, berseru dalam kalimat talbiyah, mengikrarkan ketundukan dan kecintaan kepada-Nya. Dari peristiwa itu, kita belajar tentang makna persaudaraan, kesetaraan, dan semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah tanpa memandang status atau jabatan.
لَبَّیْكَ اللّھُمَّ لَبَّیْك لَ بَّیْكَ لاَ شَرِ یْكَ لَك لَبَّیْكَ
Labaik allahumma labaika la baika la syarriika laka labaik.
Saudara-saudaraku yang saya hormati.
Selain disebut Hari Raya Haji, hari ini juga dikenal dengan nama Idul Qurban karena di dalamnya terkandung pesan besar tentang keikhlasan dalam berkorban. Kata qurban sendiri berarti “dekat”, sementara inti dari ibadah ini adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih hewan ternak. Panitia biasanya membagikan daging kepada mereka yang membutuhkan, yaitu kaum fakir dan miskin.
Akan tetapi, kurban bukan cuma soal menyembelih hewan. Momen ini mengingatkan kita pada sebuah kisah luar biasa tentang pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan iman. Kisah tentang Nabi Ibrahim, istrinya Siti Hajar, dan anaknya yang masih bayi, Ismail.
Suatu hari, Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah yang tidak mudah. Ia membawa Hajar dan Ismail ke sebuah lembah gersang yang bahkan tidak ditumbuhi sebatang pohon pun, sunyi, tandus, dan jauh dari mana pun.
Bayangkan, tempat itu berada sekitar 1.600 kilometer dari tanah kelahiran mereka di Palestina. Tapi luar biasa, mereka menerima perintah itu tanpa banyak tanya. Tidak protes, tidak ragu.
Mereka pasrahkan diri mereka kepada Allah dengan hati yang lapang dan keyakinan penuh. Ketika air mulai habis, Siti Hajar dengan anak kecil yang menangis karena haus di pelukannya, berlari bolak-balik antara dua bukit yang kita kenal sekarang sebagai Shafa dan Marwah.
Ia tidak menyerah. Ia terus berusaha dalam keadaan hampir putus asa sampai datang pertolongan Allah.
Malaikat Jibril diutus, kemudian tanah kering itu memancarkan air zamzam yang sampai hari ini tak pernah surut. Dari sana, kehidupan mulai tumbuh dan orang-orang mulai berdatangan.
Lembah tandus itu pun perlahan berubah jadi tempat yang ramai, makmur, dan diberkahi. Di sanalah cikal bakal Kota Makkah berdiri, berkat kesabaran seorang ayah, keikhlasan seorang ibu, dan kekuatan doa yang tidak pernah putus.
Allah sendiri menyebut kota itu sebagai kota yang aman dan sejahtera. Seperti tertulis di dalam Al-Qur’an. Semua bermula dari sebuah pengorbanan.
وَ إِذْ قَالَ إِبْرَ اھِیمُ رَ بِّ اجْعَلْ ھَـَذَا بَلَداً آمِناً وَ ارْ زُقْ أَھْلَھُ مِنَ الثَّمَرَ اتِ مَنْ
آمَنَ مِنْھُم بِا ّ ِ وَ الْیَوْ مِ الآخِ رِ
Wa iż qāla ibrāhīmu rabbij‘al hāżā baladan āminaw warzuq ahlahū minaṡ-ṡamarāti man āmana minhum billāhi wal-yaumil-ākhir(i).
Artinya:
"(Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, 'Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir',” (QS Al-Baqarah: 126).
Setiap tahun, jutaan umat Islam datang menunaikan ibadah haji dan umrah. Mereka mendapatkan fasilitas yang memadai, transportasi, penginapan, layanan kesehatan, dan keamanan yang sangat terjaga.
Semua ini adalah bagian dari kemajuan yang luar biasa, baik dalam hal ekonomi, tata kelola pemerintahan, maupun sistem hukum yang berjalan dengan baik.
Kemakmuran yang terjadi di Makkah hari ini bukan hanya dinikmati oleh kaum Muslimin. Bahkan, mereka yang tidak beragama Islam pun ikut merasakan berkahnya.
Inilah bentuk nyata dari janji Allah, bahwa ketika doa dipanjatkan dengan tulus dan ikhlas, dan ketika usaha dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka pertolongan-Nya akan datang. Pertolongan datang dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Allah menegaskan semua ini dalam firman-Nya, sebagai pengingat bahwa kemakmuran sejati lahir dari ketakwaan, pengorbanan, dan doa yang terus dipanjatkan tanpa henti. Allah SWT berfirman:
قَالَ وَ مَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُھُ قَلِیلاً ثُمَّ أَضْطَرُّ هُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَ بِئْسَ الْمَ صِ یرُ
Qāla wa man kafara fa umatti‘uhū qalīlan ṡumma aḍṭarruhū ilā ‘ażābin-nār(i), wa bi'sal-maṣīr(u).
Artinya:
"Allah berfirman: Dia (Allah) berfirman, 'Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali',” (QS Al-Baqarah: 126).
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah.
Hari raya yang kita rayakan ini juga disebut Idul Nahr, berarti hari penyembelihan. Sebutan ini merujuk pada peristiwa luar biasa dalam sejarah kenabian, ketika seorang hamba Allah paling taat bernama Nabi Ibrahim AS diuji dengan cobaan yang sangat berat.
Bukan hanya harta atau kekuasaan yang diuji darinya, tetapi juga sesuatu yang paling dicintai oleh manusia. Anak kandungnya sendiri.
Kesabaran dan keteguhan hati yang luar biasa membuat Nabi Ibrahim dianugerahi sebuah kehormatan yang tidak dimiliki oleh banyak nabi. Ia memperoleh gelar sebagai kekasih Allah atau Khalilullah.
Kendati kehidupan dikelilingi oleh kekayaan dan keluarga yang dicintai, hatinya tetap berpaut kuat kepada Allah. Tidak ada satu pun yang mampu menggeser posisi Allah dalam hatinya, tidak juga kesibukan duniawi yang sering kali membuat manusia lalai.
Dalam catatan para ulama, disebutkan bahwa Nabi Ibrahim memiliki kekayaan yang sangat besar. Ribuan hewan ternak yang menjadikannya sosok terpandang di zamannya. Akan tetapi, ia tidak pernah menjadikan hartanya sebagai penghalang dalam pengabdiannya kepada Allah.
Ia menyadari sepenuhnya bahwa semua yang dimiliki hanya titipan. Jika suatu saat Allah meminta kembali, ia siap untuk menyerahkannya. Bahkan, bila yang diminta adalah sesuatu yang paling berharga sekali pun.
Ujian terbesar datang saat ia diperintahkan melalui mimpi yang hakiki untuk mengorbankan putra yang masih kecil. Di usia yang baru tujuh tahun, putra itu menjadi bagian dari ujian keimanan yang sungguh tak terbayangkan.
Keyakinan dan kepatuhan yang begitu dalam membuat Nabi Ibrahim ikhlas menjalankan perintah itu. Dari situ, lahir ajaran kurban yang kita laksanakan hari ini.
Kurban bukan hanya penyembelihan hewan, melainkan simbol dari kerelaan melepaskan segala sesuatu yang menghalangi kita untuk lebih dekat kepada Allah. Ia adalah pengingat bahwa cinta sejati adalah ketika kita menempatkan Allah di atas segalanya, di atas harta, keluarga, dan diri sendiri.
Peristiwa itu dinyatakan dalam Al-Qur’an surah As-Shoffat ayat 102:
قَالَ یَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَ ى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَ ى قَالَ یَا أَبَتِ
افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِ دُنِي إِن شَاء ا َّ ُ مِنَ الصَّابِرِ ینَ
Qāla yā abatif‘al mā tu'mar(u), satajidunī in syā'allāhu minaṣ-ṣābirīn(a).
Artinya:
"Ibrahim berkata : 'Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar',” (QS As-shaffat: 102).
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah.
Ketika Ibrahim dan putranya benar-benar sabar dan telah bersiap untuk menunaikan perintah Tuhan. Cobaan belum berakhir. Dalam detik-detik paling menentukan itu, ujian lain datang. Kali ini cobaan berasal dari musuh abadi manusia, yaitu iblis.
Ia menyusup di antara keraguan dan rasa sayang manusiawi yang alami. Ia berusaha menggoyahkan keyakinan, mendatangi Ibrahim, Hajar, dan bahkan Ismail satu per satu. Dengan harapan, ada di antara mereka yang goyah, membatalkan niat, atau sekadar ragu.
Hasilnya tidak satu pun dari mereka goyah. Hati mereka sudah terlalu teguh, terlalu yakin bahwa tidak ada kebaikan yang lebih besar daripada taat kepada Allah. Bahkan, dorongan emosional seorang ibu pun tidak lebih kuat dari keyakinannya kepada kebenaran wahyu. Setan akhirnya terusir.
Simbol dari momen itu kini dikenang dalam rangkaian ibadah haji saat para jemaah melempar jumrah di Mina. Bukan semata simbolis, tetapi sebagai pengingat bahwa godaan dalam hidup akan selalu datang di titik-titik paling genting.
Setelah sampai di tempat yang telah ditentukan dan semuanya tampak tenang di permukaan, kenyataan yang akan mereka hadapi tidak kalah berat. Dalam ketundukan total, sang ayah membaringkan anak yang begitu dicintainya. Hati mungkin remuk, tetapi jiwa mereka tetap tenang.
Di tengah kepasrahan itu, sang anak menunjukkan kedewasaan yang luar biasa. Ia mempersiapkan dirinya. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental dan spiritual.
Ia ingin agar proses itu berjalan dengan tenang tanpa menyulitkan sang ayah, kemudian tidak meninggalkan jejak luka yang lebih dalam dari yang sudah ada.
Sesuatu yang luar biasa pun terjadi. Ketika Ibrahim benar-benar siap menjalankan perintah dan pisau telah menyentuh leher sang anak, tidak ada setitik luka pun. Pisau itu kehilangan ketajamannya seolah menolak melukai.
Pada saat itu, Allah memperlihatkan kepada para malaikat satu pemandangan yang tak bisa dijelaskan oleh logika. Seorang ayah yang rela kehilangan anaknya demi ketaatan dan seorang anak yang berserah penuh pada kehendak Tuhannya tanpa sedikit pun perlawanan.
Kepatuhan seperti itu adalah sesuatu yang sangat langka, bahkan di antara para nabi. Ketika kehendak Allah berbicara, bahkan pisau pun tunduk. Ia tidak bekerja sebagaimana mestinya. Bukan karena rusak atau tumpul, tetapi karena tidak mendapat izin dari Sang Pemilik segala keputusan.
Pisau itu bisa membelah batu, tetapi tidak bisa melukai anak seorang nabi. Hal ini terjadi karena perintah Allah adalah agar nyawa itu tetap hidup, lalu kisah ini menjadi pelajaran sepanjang masa.
Kisah ini bukan tentang kekerasan. Cerita ini mengandung makna tentang cinta, keikhlasan, dan kepatuhan yang melampaui batas naluri manusia biasa. Keteladanannya menunjukkan bahwa hubungan dengan Allah bisa mengalahkan segalanya, bahkan cinta yang paling dalam kepada anak sendiri.
Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surah As-Shaffat ayat 107 hingga 110, sebagai pengakuan dari langit bahwa keikhlasan dan kepatuhan sejati selalu dibalas dengan kemurahan dan kasih sayang dari Tuhan.
وَ فَدَیْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِیمٍ
Wa fadaināhu biżibḥin ‘aẓīm(in).
“Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar,” (QS As-Shaffat: 107).
وَ تَرَ كْنَا عَلَیْھِ فِي الآْ خِ رِ ینَ
Wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn(a).
“Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,” (QS As-Shaffat: 108).
سَلاَ مٌ عَلَى إِبْرَ اھِیمَ
Salāmun ‘alā ibrāhīm(a).
“Salam sejahtera atas Ibrahim,” (QS As-Shaffat: 109).
كَذَلِكَ نَجْزِ ي الْمُحْسِنِینَ
Każālika najzil-muḥsinīn(a).
“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan,” (QS As-Shaffat: 110).
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah.
Ketika puncak pengorbanan itu telah dijalankan, kemudian langit serta bumi menjadi saksi atas ketaatan yang luar biasa antara seorang ayah dan anak, tampaklah keagungan Allah. Peristiwa ini tak akan pernah dilupakan dalam sejarah umat manusia.
Malaikat Jibril yang kembali dari surga dengan membawa hewan pengganti menyaksikan peristiwa itu dengan takjub. Kekaguman yang memuncak dari hatinya berubah menjadi seruan pujian atas kebesaran Allah, seruan yang kelak menjadi gema takbir yang kita ucapkan saat Idul Adha dari masa ke masa hingga hari ini.
Hadirin Jemaah Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Di sanalah awal mula takbir yang kita kenal, pujian yang bukan hanya lantunan bibir, tetapi juga pantulan dari peristiwa agung yang menegaskan bahwa kepatuhan total kepada Allah adalah kemuliaan sejati.
Bukan karena darah dan bukan karena nyawa, melainkan karena hati yang bersih, niat yang tulus, dan pengorbanan yang ikhlas.
Shalat Idul Adha yang kita laksanakan pagi ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia mengandung pesan yang mendalam, yakni semua manusia pada hakikatnya adalah sama. Hal yang membedakan bukan rupa, jabatan, atau harta. Perbedaan hanya tampak pada ketakwaan.
Bahkan dalam pelaksanaan ibadah haji, khususnya saat wukuf di Arafah, kita diingatkan tentang satu kenyataan besar yang akan dihadapi semua manusia. Manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar tanpa sekat dan tanpa keistimewaan duniawi. Kemudian mempertanggungjawabkan hidup yang telah dijalani.
Dari kisah agung Ibrahim dan Ismail, dari ketegaran Hajar, kita juga bisa menarik pelajaran penting untuk kehidupan kita hari ini.
Pertama, bahwa orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter anak. Mencetak pribadi yang beriman dan menghormati orang tua. Lebih dari itu, taat pada Allah dan Rasul-Nya sebagai bentuk tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.
Kedua, semua ketentuan Allah apa pun bentuknya harus diterima dengan lapang dada dan tekad untuk patuh. Sebab, semua yang diperintahkan oleh Allah sesungguhnya tidak pernah sia-sia, tetapi menjadi manfaat dan keberkahan bagi hamba itu sendiri.
Jemaah Idul Adha yang berbahagia.
Idul Adha juga menjadi waktu yang sangat tepat untuk menggugah nurani kita, bahwa semangat berkorban bukan hanya tentang menyembelih hewan ternak. Idul Adha mengajak kita untuk mempersembahkan yang terbaik bagi tanah air, bagi umat, dan bagi masa depan yang lebih bermartabat.
Di tengah berbagai kesulitan yang kita hadapi sebagai bangsa, semangat pengorbanan menjadi nilai yang sangat relevan dan penting untuk dihidupkan kembali.
Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim bukan hanya menjadikannya sosok besar dalam sejarah kenabian, tetapi juga menjadi tonggak lahirnya peradaban Islam.
Dari kesabaran dan pengorbanannya bersama Hajar dan Ismail, lahirlah Kota Makkah serta berdirilah Ka’bah. Kemudian mengalirlah air zamzam yang tak pernah kering dan terwarislah nilai-nilai keimanan yang hari ini menjadi sumber kekuatan umat Islam di seluruh dunia.
Semoga perayaan Idul Adha tahun ini tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi menjadi momen penyadaran pula. Semoga ia mampu menumbuhkan semangat pengorbanan dalam diri kita. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga demi kemaslahatan agama, bangsa, dan negeri yang kita cintai.
Amin, amin, amin ya Rabbal 'Alamin.
آمِيْنَ يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، (2 مَرَّاتٍ)، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي هٰذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللهم عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اللهم اجْعَلْ عِيدَنَا هٰذَا سَعَادَةً وَتَلَاحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِيْنَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللهم اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللهم أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوْتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِيْنَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْ
Editor : Nur Pramudito