Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Teks Khutbah Idul Adha 2026: Kurban, Indahnya Berbagi dan Menebar Kepedulian untuk Sesama

Nur Pramudito • Selasa, 26 Mei 2026 | 21:12 WIB
Teks Khutbah Idul Adha 2026: Kurban, Indahnya Berbagi dan Menebar Kepedulian untuk Sesama
Teks Khutbah Idul Adha 2026: Kurban, Indahnya Berbagi dan Menebar Kepedulian untuk Sesama

RADARSOLO.COM - Teks Khutbah Idul Adha 2026 ini mengangkat makna kurban sebagai wujud ketakwaan sekaligus sarana berbagi kepada sesama.

Melalui ibadah kurban, umat Islam diajak merasakan indahnya berbagi rezeki, menumbuhkan empati, serta mempererat kepedulian sosial, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan.

Khutbah berjudul “Teks Khutbah Idul Adha 2026: Kurban dan Indahnya Berbagi untuk Sesama” ini dapat menjadi referensi bagi khatib dalam menyampaikan pesan tentang nilai keikhlasan, kebersamaan, dan kemuliaan berbagi di Hari Raya Idul Adha.

Khutbah I

اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ 

الْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي شَرَعَ لِعِبَادِهِ ٱلْقُرْبَانَ، وَجَعَلَهُ شِعَارًا لِلتَّقْوَىٰ وَٱلْإِحْسَانِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ ٱلظَّاهِرَةِ وَٱلْبَاطِنَةِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَىٰ مَا أَوْلَانَا مِنَ ٱلْخَيْرِ وَٱلْإِيمَانِ. وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، سَيِّدِ أَهْلِ ٱلْإِيمَانِ، وَإِمَامِ أَهْلِ ٱلْإِحْسَانِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا تَعَاقَبَ ٱلْجَدِيدَانِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُؤْمِنُونَ، ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ ٱلتَّقْوَىٰ، وَعَظِّمُوا شَعَائِرَ ٱللَّهِ فِي هَٰذِهِ ٱلْأَيَّامِ ٱلْمُبَارَكَةِ، فَإِنَّ فِيهَا تَكْفِيرَ ٱلسَّيِّئَاتِ، وَرَفْعَ ٱلدَّرَجَاتِ، وَفَوْزَ أَهْلِ ٱلطَّاعَاتِ

Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah

Segala puji pada hakikatnya milik Allah, karenanya sudah sepatutnya kita kembalikan semuanya kepada-Nya. Shalawat dan salam senantiasa kita haturkan untuk Nabi Muhammad selaku panutan kita, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Selanjutnya, khatib mengajak kita semua untuk terus meningkatkan kualitas ketakwaan kita, terlebih di momen hari raya Idul Adha seperti saat ini. Dalam agama kita, Idul Adha merupakan salah satu hari penting untuk meningkatkan ibadah personal sekaligus ibadah sosial.

Hari raya Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, bukan pula hanya momentum penyembelihan hewan kurban semata. Idul Adha adalah momentum untuk merefleksikan diri tentang pengorbanan, keikhlasan, ketundukan kepada Allah, dan yang tidak kalah penting adalah membangkitkan empati sosial terhadap kaum dhuafa dan masyarakat miskin.

Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah

Di tengah dunia yang semakin individualis, Islam menghadirkan ibadah kurban sebagai sarana agar manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. Melalui ibadah kurban, Islam mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk sosial. Karena itu, kita harus melihat kanan kiri kita, betapa masih banyak orang yang sepanjang tahun jarang menikmati makanan yang layak.

Ada keluarga yang hidup dalam kekurangan, anak-anak yatim yang terbatas kebutuhannya, serta masyarakat kecil yang sering kali hanya menjadi penonton kemewahan kehidupan orang lain. Apalagi di era media sosial seperti sekarang, gaya hidup mewah semakin mudah dikonsumsi oleh siapa saja, terlepas dari tujuan flexing atau sekadar posting belaka.

Maka syariat kurban hadir untuk menghadirkan kebahagiaan bagi mereka, agar pada hari raya ini semua lapisan masyarakat dapat merasakan nikmat dan kegembiraan bersama. Dengan mengonsumsi daging kurban, diharapkan golongan masyarakat bawah pun turut menikmati dan meramaikan hari raya ini.

Karena itu, Allah berfirman di dalam Quran surah Al-Hajj ayat 28:

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Artinya, "Makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang sengsara lagi fakir."

Ayat ini menunjukkan bahwa kurban bukan hanya ritual personal, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Daging kurban tidak dimaksudkan untuk berhenti di meja orang kaya, tetapi harus sampai kepada orang-orang yang membutuhkan. Bahkan dalam banyak komunitas Muslim, momentum Idul Adha menjadi hari langka ketika kaum miskin dapat menikmati makanan yang mungkin sulit mereka rasakan pada hari-hari biasa.

Syekh Ibnu 'Asyur di dalam kitab tafsirnya, at-Tahrir wat Tanwir juz 17 halaman 246, mengatakan bahwa ayat ini hendak menunjukkan cara bersyukur orang-orang yang mampu atas rezeki yang dilimpahkan kepada mereka, yaitu dengan beribadah kurban dan memberikan dagingnya kepada golongan yang membutuhkan.

Karena itu, lanjut Ibnu Asyur, Allah melanjutkan perintah-Nya untuk berbagi rezeki kepada kaum fakir miskin guna memenuhi kebutuhan mereka, terutama dalam hal makanan sebagai kebutuhan pokok.

Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah

Sejatinya, kurban bukan semata-mata soal darah dan daging. Bahkan Allah tidak membutuhkan itu semua. Allah hanya menghendaki ketakwaan dan kepedulian yang hidup dalam hati manusia. Kita perlu mengingat firman-Nya:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

Artinya, "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian." (QS. al-Hajj: 37)

Artinya, berkurban bukan berarti hewannya untuk Allah. Tetapi Allah sedang menguji kita, apakah kita yang diberi rezeki lebih mau berbagi kepada sesama. Apakah kita sudi mengorbankan harta yang kita cari dengan jerih payah untuk membantu golongan dhuafa agar turut bersuka cita menyambut hari raya Idul Adha.

Sebagaimana kita ketahui, syariat kurban diadopsi dari kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih putranya, Nabi Ismail. Ketulusan dan kepatuhannya yang totalitas membuat Nabi Ibrahim menjalankan perintah tersebut dengan sepenuh hati.

Namun ketulusan, kepatuhan, dan pengorbanan seperti itu seyogyanya tidak berhenti pada kisah belaka. Ketika Islam membuat ketentuan kurban dan menyuruh umatnya untuk membagi-bagikan dagingnya, kita harus sadar bahwa Islam sedang mengajarkan kita untuk peduli kepada sesama.

Sebab barangkali tidak sedikit dari kita yang rajin beribadah secara personal tetapi kurang memiliki kepekaan sosial. Kita lebih suka menghabiskan harta untuk kesenangan pribadi, tetapi berat hati ketika diminta untuk membantu fakir miskin dan orang yang kesulitan.

Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah

Nabi kita sendiri sudah mengingatkan umatnya agar memiliki rasa empati kepada orang yang membutuhkan. Di dalam riwayat Imam al-Bazzar disebutkan:

مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ

Artinya, "Tidak beriman kepadaku orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangga di sampingnya kelaparan sedangkan dia mengetahuinya."

Tentu saja, tetangga di sini bukan berarti harus tepat di samping rumah kita. Tetangga pada hadits tersebut bisa bermakna orang-orang yang berada di sekeliling kita, khususnya yang sudah saling mengenal satu sama lain. Maka bila kita membiarkan mereka kelaparan, berarti keimanan kita masih jauh dari kata sempurna.

Imam Sufyan al-Tsauri, salah satu ulama hadits dan fiqih terkemuka, menyebutkan sebagaimana dikutip dalam kitab Hilyatul Auliya' juz 6 halaman 386:

إِنَّمَا سُمِّيَ الْمَالُ لِأَنَّهُ يَمِيلُ الْقُلُوبَ

Artinya, "Harta dinamakan "māl" karena ia dapat memalingkan hati."

Perkataan ini sangat dalam maknanya. Harta memang memiliki daya tarik yang luar biasa terhadap hati manusia. Karena itu, orang yang mampu berbagi hartanya dengan ikhlas menunjukkan bahwa cintanya kepada Allah jauh lebih besar daripada cintanya kepada harta dan dunia.

Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah

Melalui topik ini, pada momen Idul Adha kali ini, khatib mengajak kita semua untuk mengubah cara pandang terhadap ibadah kurban yang kita lakukan. Mari kita niatkan ibadah ini selain untuk menunaikan syariat Allah, juga sebagai ajang membantu sekaligus membahagiakan kaum miskin dan dhuafa.

Masih banyak di antara masyarakat kita yang hidup dalam kesulitan ekonomi. Banyak buruh kecil yang penghasilannya tidak mencukupi, pedagang kecil yang terhimpit kebutuhan hidup, anak yatim yang kekurangan biaya pendidikan, serta orang tua renta yang hidup dalam kesepian dan keterbatasan. Mereka semua membutuhkan perhatian kita, bukan hanya pada hari raya, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, Idul Adha seharusnya menjadi momentum membangun solidaritas sosial. Kalau kita memiliki kelapangan rezeki, bantulah mereka. Kalau kita memiliki makanan yang berlebih, bagikanlah. Kalau kita memiliki kekuatan dan pengaruh, gunakanlah untuk melindungi masyarakat kecil.

Inilah hakikat empati dalam Islam, yaitu menghadirkan hati untuk ikut merasakan penderitaan orang lain dan berusaha menghadirkan kebaikan bagi mereka, agar senyum kebahagiaan selalu dapat merekah di wajah mereka.

Semoga Idul Adha tahun ini tidak hanya menjadikan kita orang yang menyembelih hewan kurban, tetapi juga pribadi yang mampu menyembelih egoisme, keserakahan, dan kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang dermawan, peduli terhadap kaum miskin, dan ringan tangan dalam membantu sesama.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ  وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَللهُ أكْبَرُ مَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ، اَللهُ أكْبَرُ مَا حَمِدَهُ الْحَامِدُوْنَ، اَللهُ أكْبَرُ مَا تَقَلَّبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ،اَللهُ أكْبَرُ فِي كُلِّ حَالٍ وَفِي سَائِرِ الظُّرُوْفِ وَالْأَحْوَالِ، اَللهُ أكْبَرُ مَا أَقْبَلَ التَّائِبُوْنَ إِلَى رَبِّهِمْ مُسْتَغْفِرِيْنَ، اَللهُ أكْبَرُ مَا تَجَلَّى اللهُ عَلَى عِبَادِهِ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ وَفِي سَائِرِ الشُّهُوْرِ وَالْأَيَّامِ بِالرَّحْمَةِ وَالْغُفْرَانِ

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِإِفْشَاءِ السَّلَامِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ الْمَبْعُوْثِ إِلَى سَائِرِ الْأُمَمِ وَعَلَى أَلَهِ وَصَحْبِهِ الْمُتَمَسِّكِيْنَ بِدِيْنِ الْإِسْلَامِ۰ اَمَّا بَعْدُ: 

فَيَا عِبَادَ ﷲ... اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ الْقُرْآنِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢِ:  ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ، ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ ... ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ سَيِّدِنَا ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁلهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَتَجَاوَزْ عَنْهُمْ السَيِّئَاتِ وَارْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّكَ وُحُبَّ نَبِيِّكَ، وَحُبَّ مَنْ أَحَبَّكَ وَأَحَبَّ نَبِيَّكَ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا مُتَابَعَةَ نَبِيِّكَ وَالتَّمَسُّكَ بِكِتَابِكَ وَبِسُنَّةِ نَبِيِّكَ، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا، وَلَا تَجْعَلْ الدُنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَاجْعَلْ الجَنَّةَ هِيَ دَارُنَا وَقَرَارُنَا، وَلَا إِلَى النَّارِ مَصِيْرُنَا. اَللهُ أكْبَرُ، اَللهُ أكْبَرُ،اَللهُ أكْبَرُ، لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أكْبَرُ، اَللهُ أكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

Editor : Nur Pramudito
#idul adha 2026 #Khutbah Idul Adha 2026 #Teks Kkhutbah Idul Adha 2026 #kurban