Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Di Bawah Supervisi Danantara, BRI Group Bukukan Laba Bersih Konsolidasian Rp15,5 Triliun

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 8 Juli 2026 | 19:21 WIB
Hingga Maret 2026, BRI berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.555,1 triliun atau tumbuh 9,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). (DOK.BRI)
Hingga Maret 2026, BRI berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.555,1 triliun atau tumbuh 9,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). (DOK.BRI)

RADARSOLO.COM - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI konsisten menunjukkan keberhasilan transformasi bisnis melalui penguatan struktur pendanaan yang semakin efisien dan berkelanjutan.

Strategi yang berfokus pada peningkatan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) berhasil mendorong penurunan biaya dana (cost of fund/CoF) sekaligus memperkuat kualitas pertumbuhan bisnis Perseroan di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh tantangan.

Capaian tersebut sejalan dengan agenda penguatan fundamental dan penciptaan nilai (value creation) yang didorong melalui Danantara di lingkungan BUMN.

Baca Juga: Percepat Transisi Energi Bersih, BRI Peduli Pasang PLTS dan Sistem Baterai di Desa Bojong Bandung Barat

Perbaikan struktur pendanaan ini mencerminkan kemampuan BRI dalam mengelola biaya dana secara lebih optimal, sehingga Perseroan memiliki ruang yang lebih besar untuk menjaga profitabilitas, memperkuat daya saing, serta mendukung pertumbuhan bisnis yang berkualitas dan berkelanjutan.

Hingga Maret 2026, BRI berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.555,1 triliun atau tumbuh 9,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Dari jumlah tersebut, dana murah atau CASA (konsolidasian) kian mendominasi hingga mencapai Rp1.058,6 triliun atau setara dengan 68,07 persen dari total DPK.

Angka ini meningkat signifikan dibandingkan persentase 65,77 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Efisiensi pendanaan juga terlihat dari penurunan cost of fund BRI yang turun dari posisi 2,98 persen pada Triwulan I 2025 menjadi 2,33 persen pada Triwulan I 2026, atau mengalami penurunan sebesar 65 basis poin.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, penguatan dana murah menjadi salah satu strategi utama dalam program transformasi yang tengah dijalankan Perseroan.

Baca Juga: Di Bawah Supervisi Danantara, BRI Tebar Dividen  Terbesar Sepanjang Sejarah, Kontribusi Nyata untuk Ekonomi Kerakyatan

“Peningkatan CASA memberikan dampak langsung terhadap efisiensi biaya dana dan kualitas struktur pendanaan Perseroan," ujar Hery. 

"Adapun tingginya volume transaksi terjadi pada berbagai kanal digital seperti BRImo, QLola by BRI, Business Merchant dan QRIS BRI. Dengan fondasi yang semakin kuat, BRI dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, profitabilitas, dan pengelolaan risiko,” lanjutnya.

Penguatan struktur pendanaan tersebut turut menopang kinerja Perseroan secara keseluruhan. Hingga Triwulan I 2026, total aset BRI Group tumbuh 7,2 persen YoY mencapai Rp2.250 triliun.

Sementara penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh 13,7 persen menjadi Rp1.562 triliun.

Pada periode yang sama, raihan laba bersih konsolidasian Perseroan meningkat 13,7 persen menjadi Rp15,5 triliun.

Baca Juga: Dukung Energi Terbarukan, BRI Peduli Salurkan Bantuan PLTS di Desa Bojong Bandung Barat

Sejalan dengan hal tersebut, Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pelaksana BUMN Dony Oskaria menyampaikan, Danantara terus mendorong transformasi menyeluruh pada perusahaan-perusahaan BUMN agar memiliki fundamental bisnis yang kuat dan berkelanjutan.

“Danantara hadir untuk memastikan BUMN tidak hanya tumbuh dari sisi skala bisnis, tetapi juga semakin sehat dari sisi tata kelola, efisiensi, dan manajemen risiko. Dengan fondasi yang kuat, BUMN akan memiliki daya saing yang lebih tinggi dan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” urai Dony.

Menurut Dony, penguatan risk management dan tata kelola merupakan fondasi utama agar jajaran BUMN mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan di tengah dinamisnya situasi ekonomi global.

“Kami ingin membangun risk management dan tata kelola yang kuat karena hanya perusahaan yang dikelola dengan baik yang dapat sustain di masa depan,” pungkasnya. (*)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#BRI #kinerja keuangan #Strategi Perusahaan #Danantara #BBRI