RADARSOLO.COM - Kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo, Jebres, Solo, kembali terbakar pada Rabu (2/9/2026) petang.
Kobaran api berukuran cukup besar terpantau membakar material sampah di kawasan Blok D.
“Kebakarannya di Blok D, sudah ada damkar yang turun,” ujar Ketua RW 39 Kelurahan Mojosongo, Jebres, Andri Priyatno.
Baca Juga: Asap Kebakaran TPA Putri Cempo Berdampak ke Warga Plesungan, BPBD-PMI Karanganyar Bagikan Masker
Tiupan angin kencang sempat menyulitkan jajaran Dinas Pemadam Kebakaran Kota Solo dalam melokalisasi titik api.
Hingga Rabu malam, lokasi kebakaran dilaporkan masih berada pada jarak aman dari permukiman warga setempat maupun fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Meski demikian, kejadian kebakaran ini sempat membuat warga sekitar panik. Apalagi insiden ini tercatat bukan kali pertama terjadi di kawasan TPA Putri Cempo.
Baca Juga: 1.000 KK di Plesungan Karanganyar Terdampak Kebakaran TPA Putri Cempo
“Jauh dari permukiman warga, kalau dari PLTSa-nya agak dekat. Dampak ke warga sementara belum ada, asapnya mengarah ke arah lain. Semoga bisa cepat padam," papar Andri.
Ya, kejadian teranyar ini menjadi pengingat nyata bahwa gunungan sampah peninggalan masa lalu (legacy waste) di TPA seluas 17 hektare itu masih menyimpan ancaman laten berupa kantong-kantong gas metana.
Sejarah Berdiri dan Perkembangan TPA Putri Cempo
TPA Putri Cempo resmi beroperasi sejak pertengahan tahun 1980-an (sekitar tahun 1986) di bawah pengelolaan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Nama Putri Cempo sendiri melekat kuat dengan tradisi lokal dan sejarah kawasan utara Kota Solo yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Karanganyar.
Pada awal masa operasinya, TPA Putri Cempo menggunakan sistem pembuangan terbuka (open dumping).
Baca Juga: Sumedi, 20 Tahun Bertahan Membuat Genteng di Tengah Gempuran Bahan Bangunan Modern
Pada era tersebut, volume sampah Kota Solo masih tergolong rendah dan area TPA masih didominasi oleh lahan perbukitan tanah liat yang jauh dari pemukiman padat penduduk.
Namun, seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi, jumlah penduduk, serta berkembangnya Solo sebagai kota jasa, pariwisata, dan kuliner, pasokan sampah harian ke Putri Cempo meningkat secara drastis setiap tahunnya.
Baca Juga: Kobaran Api Makin Membesar, Warga di Sekitar TPA Putri Cempo Panik
Kondisi, Kapasitas dan Krisis Overcapacity
Selama bertahun-tahun, metode pemrosesan sampah di TPA Putri Cempo belum menerapkan sanitary landfill secara ideal akibat keterbatasan lahan dan anggaran.
Dampaknya, terjadi penumpukan sampah liar yang membentuk "gunung-gunung" sampah setinggi lebih dari 10 hingga 15 meter.
Luas Total Area: Kurang lebih 17 Hektare.
Volume Sampah Masuk: Rata-rata 300–400 ton per hari berasal dari pemukiman, pasar tradisional, kawasan komersial, dan fasilitas umum di seluruh wilayah Kota Solo.
Estimasi Total Gunungan Sampah: Diperkirakan mencapai lebih dari 1,5 juta hingga 2 juta ton gunungan sampah terakumulasi (legacy waste) di kawasan tersebut.
Baca Juga: Tempati Tanah Kas Desa, SMP di Mojogedang Karanganyar Ini Terancam Digusur
Krisis Darurat Sampah
Pada rentang tahun 2012–2018, Pemkot Solo secara resmi menyatakan bahwa TPA Putri Cempo telah mengalami overcapacity (melebihi kapasitas tampung).
Daya tampung lahan sudah tidak lagi seimbang dengan masuknya ratusan ton sampah baru per hari. Dampak lingkungan pun bermunculan:
Lindi (Limbah Cair Sampah): Pencemaran air tanah warga di sekitar Mojosongo dan aliran anak sungai akibat rembesan air lindi saat musim hujan.
Baca Juga: Izin Pusat Klir Tapi Daerah Belum Rampung, Desak Pemkab Sragen Tindak PT Donglong
Bau Tak Sedap: Aroma pembusukan organik yang meluas hingga radius beberapa kilometer saat angin kencang.
Ekosistem Pemulung dan Ternak: Kehadiran ratusan pemulung dan ribuan ekor sapi pemakan sampah yang dilepasliarkan di gunung sampah. Sapi-sapi ini menjadi sorotan kesehatan masyarakat karena mengonsumsi sampah plastik dan logam berat.
Rekam Jejak Kebakaran Hebat di TPA Putri Cempo
Salah satu ancaman terbesar TPA Putri Cempo adalah potensi kebakaran pada musim kemarau.
Akumulasi sampah organik ratusan ribu ton menghasilkan gas metana di lapisan dalam gunungan sampah yang bersifat sangat mudah terbakar (flammable).
1. Kebakaran Periode 2015 dan 2019
Pada musim kemarau panjang tahun 2015 dan 2019, TPA Putri Cempo mengalami kebakaran parah.
Baca Juga: Terungkap, Ini Penyebab Bansos KPM di Karanganyar Dicoret Padahal Tak Ikut Judol
Gas metana bawah tanah dipicu oleh cuaca terik dan gesekan sampah kering. Asap tebal membumbung tinggi hingga mengganggu kualitas udara (ISPU) di wilayah Surakarta utara dan Karanganyar.
2. Kebakaran Hebat September–Oktober 2023
Kebakaran terbesar dalam sejarah TPA Putri Cempo terjadi pada pertengahan September 2023 dan meluas hingga bulan Oktober 2023.
Penyebabnya cuaca ekstrem dampak fenomena El Niño, angin kencang, serta akumulasi gas metana pekat di Blok 2 dan Blok 3.
Area lahan terbakar mencapai lebih dari 2 hingga 3 hektare.
Asap hitam pekat menyelimuti pemukiman warga Mojosongo, sekolah, serta mengganggu jarak pandang di jalan raya. Ratusan warga mengalami gangguan pernapasan (ISPA).
Saat itu, Pemkot Solo menetapkan status Tanggap Darurat Bencana.
Penanganan melibatkan puluhan unit mobil pemadam kebakaran se-Solo Raya, bantuan water bombing menggunakan helikopter dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), serta teknik penyuntikan air dan lumpur ke lapisan dalam (injeksi) untuk memadamkan bara api bawah tanah.
Baca Juga: Genjot Sertifikasi Halal Bagi Produk UMKM Di Solo, Digelontor Rp 200 Juta
3. Kebakaran Blok D (Rabu, 2 September 2026)
Titik api kembali muncul di kawasan Blok D TPA Putri Cempo pada Rabu petang.
Berdasarkan data di lapangan, angin kencang yang bertiup sejak petang mempercepat penyebaran api di tumpukan sampah kering.
Berdasarkan keterangan Ketua RW 39 Kelurahan Mojosongo, Andri Priyatno, posisi api jauh dari pemukiman warga dan hembusan asap mengarah ke area yang tidak padat penduduk.
Baca Juga: Dewan Tunggu Jurus Pemkot Ramaian Pasar Jongke, Wali Kota Solo: Pedagang Akan Ditata Ulang
Petugas Dinas Damkar Kota Solo dikerahkan secara intensif untuk melokalisasi pergerakan api agar tidak mendekati objek vital seperti area operasional PLTSa.
Era Transformasi PLTSa Putri Cempo
Guna mengatasi krisis sampah menahun dan mencegah bencana kebakaran berulang, Pemkot Solo meluncurkan proyek strategis nasional (PSN) pengolahan sampah berbasis teknologi di TPA Putri Cempo.
Proyek PLTSa Putri Cempo dikelola oleh badan usaha PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP) yang resmi memulai operasi sejak akhir Oktober 2023.
Solo menjadi salah satu dari 12 kota prioritas percepatan pembangunan instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 35 Tahun 2018.
Teknologi yang Digunakan: Teknologi Gasifikasi Plasma / Gasifikasi Terbuka (bukan sekadar pembakaran incinerator biasa). Sampah diubah menjadi gas sintetis (syngas) untuk menggerakkan generator listrik.
Kapasitas Olah Sampah: Ditargetkan mampu mengolah hingga 450–500 ton sampah per hari (mengolah pasokan sampah baru sekaligus mengikis gunungan sampah lama). Namun, saat ini baru bisa mengolah 50-80 ton per hari.
Output Daya Listrik: Dengan target awal, olahan sampah bisa memproduksi energi listrik bersih sekitar 10 hingga 12 Megawatt (MW), sekitar 5–8 MW disalurkan (interkoneksi) dan dijual langsung ke jaringan PLN.
Editor : Syahaamah Fikria