Oleh: Prof. Arum Pratiwi, S.Kp., M.Kes., Ph.D., Guru Besar Bidang Kepakaran Ilmu Keperawatan Jiwa FIK UMS
DEFINISI "revitalisasi" berarti proses membuat sesuatu menjadi lebih kuat, lebih sehat, atau lebih efektif lagi, yang sesuai dengan konsep memperbaiki energi otak yang melemah.
Istilah yang lebih trend yang sering kita gunakan dalam keseharian adalah recharge, namun recharge ini lebih sesuai untuk mengisi ulang baterai atau energi yang sudah habis, dan tidak selalu menyiratkan perbaikan atau peningkatan.
Istilah renewable energi dalam konteks otak bisa menjadi analogi yang menarik.
Otak memiliki pembangkit listrik internal yang dapat diperbarui terus-menerus, yaitu metabolisme energi otak (Tusaie & Fitzpatrick, 2026).
Namun, perlu diingat bahwa otak tidak sama dengan sumber energi renewable seperti panel surya atau turbin angin.
Baca Juga: Peran Akuntansi Publik Sebagai Penopang Ketahanan Fiskal di Tengah Gejolak Geopolitik Global
Otak memiliki mekanisme yang lebih komplek dan unik, bahan bakar yang dimiliki otak adalah glukosa dan oksigen yang dapat diperbarui melalui sirkulasi darah, dan mesinnya adalah neuron yang dapat mengkonversi bahan bakar (glukosa dan oksigen) menjadi energi (Adenosin Triphosphate) yang dibutuhkan untuk aktivitas loncatan Listrik (Bers dkk, 2025), proses metabolisme otak ini terjadi berkelanjutan.
Metabolisme otak berperan penting dalam mengolah dan menginterpretasikan emosi, terutama melalui struktur seperti amygdala, hippocampus, dan prefrontal cortex, walaupun emosi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti hormonal, pengalaman masa lalu, dan lingkungan sekitar yang saling berinteraksi yang mengakibatkan terjadinya fungsi kognitif dan neurologis otak (Verkhratsky & Butt, 2023).
Contoh interpretasi dari fungsi tersebut adalah cemas, takut, mengamuk, dan berlari. Pada individu dengan masalah psikososial dan gangguan jiwa fungsi kognitif dan neurologis terganggu, individu stagnan pada stimulus internal yang merupakan pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan sehingga perlu direvitalisai agar kesehatan jiwanya optimal (Pratiwi dkk, 2017).
Revitalisasi otak lebih merujuk pada proses memperbaiki dan meningkatkan fungsi otak, seperti meningkatkan fokus, memori, dan energi mental. Energi yang tidak kasat mata yang merupakan kekuatan yang tidak dapat dilihat, disentuh, atau dirasakan secara langsung oleh pancaindera, namun keberadaannya diketahui dari akibat yang ditimbulkan maka itulah revitalisasi rasio, pikiran, kejiwaan, rohani, mental psikologis yang berdampak pada perilaku.
Oleh karena itu memperbaiki energi otak menjadi positif akan berdampak pada perilaku yang adaptif. Rasio dan pikiran yang positif telah dibahas dalam Al Quran dan hadist diantaranya adalah:
Individu harus yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah yang terbaik, meskipun terasa berat. Cuplikan dari salah satu ayat dalam Al’quran "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu" (QS. Al-Baqarah: 216).
Hadist yang menekankan pada pikiran positif adalah sabda Rasulullah SAW yang menegaskan pentingnya hati yang bersih (positif) karena menentukan baik buruknya seluruh perbuatan (HR. Bukhari & Muslim).
Baca Juga: Masa Depan Itu Bernama Artificial Intelligence
Pikiran merupakan elemen kognitif yang merupakan salah satu sumber energi yang bisa berpengaruh pada psikomotor atau bagaimana seseorang berperilaku, dan perilaku ini menimbulkan dampak pada lingkungan. Terapi dengan dasar revitalisasi otak ini bisa diaplikasikan pada setiap individu dengan tingkat kesehatan mental yang berbeda.
Rentang Respons Kesehatan Jiwa (The mental health continuum)
Rentang respons kesehatan jiwa mencakup berbagai kondisi, dari sehat mental hingga gangguan jiwa berat. Rentang kesehatan mental ini merupakan sebuah dinamika yang menunjukkan bahwa kesehatan mental berada pada spektrum dari sehat hingga sakit, bukan sebagai keadaan tetap (Townsend & Morgan, 2027). Model ini menunjukkan bahwa individu bergerak di sepanjang rentang, bereaksi berdasarkan tingkat stres dan bagaimana individu mempunyai keterampilan dalam mengatasi masalah.
Model stres dan adaptasi memandang kesehatan mental sebagai rentang respon yang dinamis, memetakan kesehatan mental dalam rentang dari fungsi optimal hingga penyakit parah, dengan mengintegrasikan faktor biologis, psikologis, dan sosial.
Kerangka kerja ini membantu mengidentifikasi respon pasien untuk menegakkan diagnosis keperawatan, dan tindakan keperawatan yang sesuai. Individu yang mengalami gangguan fungsional yang signifikan, kecemasan tinggi, atau kesulitan berkepanjangan membutuhkan intervensi, perubahan perilaku yang signifikan, dan potensi kebutuhan keperawatan yang profesional.
Rentang respon kesehatan jiwa sudah dijelaskan oleh Townsend dan Morgan (2017) yang terdiri dari: (1) Sehat mental dimana kondisi individu memiliki kemampuan untuk mengelola stres, memiliki hubungan sosial yang baik, dan dapat berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari; (2) Stres, merupakan respon normal terhadap tekanan atau tantangan, dapat diatasi dengan strategi koping yang efektif.
(3) Gangguan penyesuaian yaitu kesulitan individu dalam menyesuaikan diri dengan perubahan atau stres, dapat menyebabkan gejala seperti kecemasan atau depresi; (4) Gangguan kecemasan yang menggambarkan kondisi individu mengalami kekhawatiran berlebihan atau tidak terkendali, kecemasan berat atau fobia; (5) Gangguan mood yaitu kondisi di mana individu mengalami perubahan mood yang signifikan, seperti depresi atau bipolar; (6) Gangguan jiwa berat, kondisi ini sudah memunculkan gejala psikotik, seperti halusinasi atau delusi pada pasien skizofrenia.
Setiap rentang respons kesehatan mental mempunyai kondisi loncatan listrik dalam otak yang berbeda. Gangguan jiwa berat mempunyai mekanisme sinyal listrik dan kimia di otak yang tidak ritmis yang bisa menyebabkan halusinasi atau delusi. Pasien skizofrenia memiliki pengurangan sinkronisasi antara area otak yang berbeda, yang dapat mempengaruhi komunikasi antara neuron (Lipton, 2025; Townsend and Morgan, 2027).
Penyebab ketidaksinkronan ini adalah Ketidakseimbangan neurotransmitter seperti dopamin dan serotonin, kerusakan jaringan otak, atau penggunaan zat tertentu. Mekanisme normal secara singkat bisa dideskripsikan sebagai berikut: Neuron atau sel syaraf pada otak menghasilkan sinyal listrik (impuls) yang dibawa serabut syaraf (akson) yang kemudian memicu pelepasan neurotransmitter (zat kimia pengirim signal dari neuron ke sel target lainya) sebagi penerima sinyal memicu sinyal listrik baru (Lipton, 2015).
Baca Juga: Puasa: Sekolah Jiwa Dan Spiritual Bagi Anak
Hal ini memungkinkan individu berpikir, belajar, dan mengingat termasuk ingatan masa lalu atau saat ini. Beberapa contoh kondisi gangguan mental yang berhubungan dengan kelainan produksi neurotransmitter yaitu attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), autisme, bipolar (depresi, mania) dan skizofrenia.
Terapi Kognitif
Perubahan sinyal listrik otak baik pada individu dengan masalah psikososial atau pada pasien gangguan jiwa dapat direvitalisasi. Revitalisasi mencakup terapi somatik atau biologis dan terapi kognitif. Setiap individu atau pasien dengan gangguan jiwa yang berbeda mempunyai respon yang berbeda pula, keberhasilan untuk individu yang satu mungkin tidak berhasil untuk yang lain, sebab manusia merupakan individu yang unik. Terapi somatik atau biologis bisa diberikan mulai dari nutrisi, vitamin sampai terapi kejang listrik atau Electroconvulsive Therapy (ECT).
Zat dalam nutrisi dan vitamin dapat merevitalisasi energi otak melalui beberapa mekanisme yaitu meningkatkan produksi Adenosine Triphosphate (ATP) yang merupakan sumber energi utama bagi sel otak, dan meningkatkan sintesis neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin yang penting untuk fungsi otak dan mood Pratiwi dkk, 2019).
Terapi ECT dapat membantu meningkatkan aktivitas gelombang, konektivitas fungsional, menstimulasi dengan mengatur aktifitas gelombang otak pada pasien gangguan jiwa berat seperti kondisi kegawatdaruratan jiwa (Pratiwi dkk, 2027). Terapi kognitif dapat membantu meningkatkan fungsi kognitif, sinkronisasi antara area otak, dan membantu meningkatkan konektivitas fungsional diantara area otak.
Mekanisme Terapi Kognitive
Terapi kognitif merupakan kegiatan stimulasi pola pikir dengan merubah pola pikir negatif menjadi positif. Stimulasi dilakukan berulang untuk merangsang sel saraf neuron bekerja lebih aktif menggunakan pikiran positif yang diimplementasikan. Ketika neuron aktif berfikir positif maka akan memperkuat koneksi antar neuron (sinapsis), akibatnya otak akan meningkatkan cadangan kognitifnya (cognitive reserve) yaitu kemampuan otak untuk menemukan cara alternatif dalam mempertahankan fungsi normal (Bear dkk, 2025).
Hal ini harus melibatkan berbagi support system sebab manusia terdiri dari bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual maka merubah pikiran menjadi positif tidak cukup hanya dengan unsur biologis (Pratiwi, 2025). Oleh karena itu selama mekanisme terapi, faktor keholistikan individu tersebut tetap karus dilibatkan.
Stimulasi berulang untuk berfikir positif agar neuron aktif tidak bisa terjadi begitu saja, namun harus melibatkan kalbu, aspek spiritual, batiniah. Kalbu yang baik berarti memiliki hati yang bersih, niat yang baik, dan kesadaran spiritual yang kuat. Ini dapat mempengaruhi perilaku seseorang menjadi lebih baik, seperti lebih sabar, lebih peduli, dan lebih bijak. Kalbu tersebut dijelaskan dalam sebuah hadist:
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging (kalbu), jika segumpal daging (kalbu) itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging (kalbu) itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hati atau kalbu yang dimaksud dalam hadist tersebut merujuk pada aspek spiritual, emosional, dan moral seseorang, bukan organ fisik liver atau otak. Hati lebih terkait dengan perasaan, nilai-nilai, dan kesadaran spiritual dan emosional, sedangkan otak lebih terkait dengan fungsi kognitif dan neurologis seperti logika. Terapi kognitif ini dimaksutkan untuk mengkombinasi logika dan dengan regulasi emosi untuk direvitalisasi agar hati menjadi baik.
Baca Juga: Keabsahan Ijazah Jokowi: Antara Proses Pengambilan Keputusan dan Pertaruhan Negara
Tahapan dalam terapi kognitif sebagai regulasi emosi untuk mejalankan mekanisme dari pikiran negatif menjadi positif sudah dibahas dalam buku konsep keperawatan jiwa (Pratiwi, 2025) diantaranya: (1) Identifikasi pikiran negatif, contoh pada individu dengan masalah psikososial adalah gangguan harga diri akibat kehilangan atau kegagalan, pada penderita psikosis misalnya delusi merasa bisa berkomunikasi dengan roh halus, halusinasi merasa mendengar ejekan.
(2) Reframing yaitu mengubah cara pandang masalah untuk membuatnya lebih positif pada individu dengan masalah psikososial, dan terapi orientasi realita menggunakan teknik komunikasi terapeutik compare contras pada pasien delusi, dan teknik presenting reality pada pasien halusinasi, (3) Teknik relaksasi yaitu metode yang dilakukan bersamaan selama terapi kognitif, cara ini berbeda setiap individu, bisa dengan mendengarkan musik yang merangsang gelombang alfa (brain alpha wave), murotal, dan meditasi. Tahapan ini merupakan siklus yang berkelanjutan, dan bisa dilakukan bersama karena ada keterkaitan satu sama lain.
Regulasi emosi merupakan stimulasi fungsi kognitif dengan mengelola perhatian, memori, dan kontrol diri. Neurotransmitter kemudian melepaskan serotonin dan dopamin, yang mempengaruhi suasana hati dan emosi. Kombinasi fungsi spiritual dan neurologis ini dapat mempengaruhi aspek emosional dengan cara mengolah informasi dan menginterpretasikan situasi.
Revitalisasi Energi Otak
Terapi kognitif sudah diaplikasikan pada berbagai rentang kehidupan dan rentang Kesehatan mental. Intervensi ini dilakukan secara general belum spesifik pada masalah individu. Bidang ilmu keperawatan khsususnya keperawatan jiwa memberikan aplikasi terapi kognitif atau terapi modalitas bagi pasien melalui pendekatan yang spesifik dan memberikan terapi yang spesifik pula bagi individu yang membutuhkan.
Tindakan keperawatan dalam ilmu keperawatan jiwa merupakan metode pendekatan melalui proses dari identifikasi masalah pasien, analisis, diagnosis, perencanan, tindakan dan evaluasi serta tindak lanjut.
Penelitian keperawatan berfokus pada penelitian untuk menghasilkan konsep baru, menguji, dan menterjemahkan pengetahuan ilmiah guna memajukan perawatan kesehatan dan meningkatkan kesehatan mental pasien (MCKenna dkk, 2025).
Penelitian ini dilakukan melalui manajemen partisipatif selama melakukan asuhan keperawatan melalui tahapan proses keperawatan dengan mempertimbangkan persetujuan etik (ethical clearance) dan aspek legal. Pada akhir penelitian setelah intervensi keperawatan diharapkan terjadinya revitalisasi energi otak untuk meningkatkan kesehatan mental pasien.
Beberapa riset yang sudah kami lakukan 5 tahun terakhir terkait dengan kesehatan mental pada masalah psikososial dan gangguan jiwa diantaranya adalah sebagai berikut: Pratiwi dkk (2025) melakukan penelitian pada pasien psikosis dengan delusi yang sudah dipublikasikan dengan judul Magical thinking and mystical experience: An exploration of delusional disorder in schizophrenic patients. Penelitian ini mengeksplorasi isi dan pola pikir pasien delusi melalui studi kualitatif; Revitalisasi energi otak yang dilakukan dalam penelitian tersebut adalah terapi ekspres feeling pada responden.
Baca Juga: Scopus dan Dewa Penolong Akademik
Degenerasi Otak Sulit Diperbaiki
Degenerasi otak adalah proses kerusakan atau penurunan fungsi otak yang terjadi secara bertahap, biasanya terkait dengan penuaan atau penyakit neurodegenerative. Degenerasi otak adalah proses yang komplek, sampai saat ini belum ada cara untuk mencegah proses penuaan atau membuat otak menjadi muda lagi. Sebagaimana hadist yang menjelaskan:
“Sungguh Allah tidak meletakkan penyakit melainkan meletakkan obatnya kecuali satu penyakit.” Para sahabat bertanya, “Penyakit apa itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Penuaan.” (HR. Tirmidzi)
Beberapa penelitian yang menbahas bahwa terapi stem sel, terapi gen, atau obat-obatan tertentu dapat membantu memperbaiki fungsi otak yang rusak, namun masih banyak penelitian yang dibutuhkan untuk memastikan efektivitas dan keamanan metode-metode tersebut.
Otak yang sudah mengalami degenerasi dapat direvitalisasi, tetapi hasilnya tergantung pada tingkat keparahan degenerasi dan jenis degenerasi yang dialami, tidak ada cara untuk membalikkan proses degenerasi. Tujuan dari revitalisasi otak pada kondisi degerasi adalah untuk meningkatkan fungsi otak optimum dan meningkatkan kualitas hidup.
Memperbarui energi psikis sangat penting selama periode rentang kehidupan dan rentang sehat sakit. Sumber energi untuk memperbaiki pikiran rasional sangat banyak terutama bersumber pada diri kita yang dianugerahi kalbu oleh Allah SWT.
Perawat kejiwaan melalui keahlianya dalam terapi keperawatan jiwa diharapkan membantu pasien dengan masalah psikososial dan gangguan jwa seperti psikosis untuk meningkatkan fungsi optimum sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Salah satu peran untuk meningkatkan kondisi mental yang optimum ini bisa melalui revitalisasi energi otak yang diprogram dalam terapi modalitas keperawatan jiwa. (*)
Editor : fery ardi susanto