Oleh: Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., Guru Besar Fakultas Geografi UMS
RADARSOLO.COM - Perubahan lanskap geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir telah membawa dampak besar terhadap tata kelola energi dunia.
Konflik antarnegara, perang dagang, perebutan sumber daya strategis, krisis rantai pasok energi, hingga kompetisi teknologi energi baru telah menciptakan ketidakpastian global yang memengaruhi stabilitas ekonomi dan pembangunan berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dalam situasi tersebut, energi tidak lagi dipahami sekadar sebagai kebutuhan industri dan rumah tangga. Melainkan telah menjadi instrumen geopolitik, kekuatan ekonomi, sekaligus penentu ketahanan nasional.
Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan. Di satu sisi, kebutuhan energi nasional terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, urbanisasi, transformasi digital, dan ekspansi industri.
Namun di sisi lain, ketergantungan terhadap energi fosil masih cukup tinggi, sementara tekanan global terhadap pengurangan emisi karbon semakin kuat.
Baca Juga: Menjaga Cahaya Ramadan: Ikhtiar Mempertahankan Kesalehan Pasca Ramadan
Kondisi ini menuntut Indonesia untuk melakukan transformasi menuju sistem energi yang lebih bersih, mandiri, berkelanjutan, dan tahan terhadap guncangan geopolitik dunia.
Konsep energi masa depan Indonesia harus dibangun di atas tiga fondasi utama, yaitu ketahanan energi, kemandirian energi, dan keberlanjutan lingkungan. Ketahanan energi menuntut adanya jaminan ketersediaan energi yang stabil dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.
Kemandirian energi menekankan pentingnya pengurangan ketergantungan terhadap impor energi dan penguasaan teknologi nasional.
Sementara keberlanjutan lingkungan menjadi syarat utama agar pembangunan energi tidak memperparah krisis iklim dan kerusakan ekologis.
Indonesia sesungguhnya memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan energi terbarukan dunia. Potensi energi surya, panas bumi, hidro, biomassa, angin, hingga energi laut tersebar di berbagai wilayah nusantara.
Namun tantangan terbesar bukan hanya pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada aspek inovasi teknologi, kesiapan sumber daya manusia (SDM), pembiayaan, regulasi, dan transformasi sosial masyarakat menuju budaya energi berkelanjutan.
Dalam konteks inilah perguruan tinggi memiliki posisi yang sangat strategis. Perguruan tinggi harus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, sekaligus laboratorium sosial dalam mendukung transisi energi nasional.
Agenda riset perguruan tinggi tidak lagi cukup berorientasi pada publikasi akademik semata, tetapi harus mampu menghasilkan solusi nyata bagi persoalan energi bangsa. Agenda riset perguruan tinggi ke depan perlu diarahkan pada beberapa fokus utama.
Baca Juga: Moderasi Positif dalam Pendidikan
Pertama, pengembangan teknologi energi baru dan terbarukan yang sesuai dengan karakteristik wilayah Indonesia.
Kedua, riset efisiensi energi dan teknologi rendah karbon untuk sektor industri, transportasi, dan perkotaan.
Ketiga, penguatan kajian spasial energi melalui pemetaan potensi energi terbarukan, analisis kerentanan wilayah terhadap krisis energi, serta pengembangan model desa mandiri energi.
Keempat, riset kebijakan dan tata kelola energi yang mampu menjawab tantangan geopolitik global sekaligus menjaga keadilan sosial masyarakat.
Selain itu, perguruan tinggi juga perlu memperkuat riset interdisipliner yang menghubungkan teknologi, ekonomi, sosial, lingkungan, dan budaya. Transisi energi hanya akan berhasil apabila masyarakat menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Oleh karena itu, riset tentang perilaku konsumsi energi, literasi energi masyarakat, ekonomi hijau, hingga pemberdayaan komunitas berbasis energi terbarukan menjadi sangat penting.
Di era disrupsi global, kampus juga dituntut membangun kolaborasi yang lebih luas dengan pemerintah, dunia industri, komunitas internasional, dan masyarakat.
Sinergi tersebut diperlukan agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diimplementasikan menjadi inovasi yang memberi manfaat nyata bagi bangsa.
Baca Juga: Revitalisasi Energi Otak Melalui Manajemen Stres untuk Kesehatan Jiwa Secara Optimal
Pada akhirnya, energi masa depan Indonesia bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang visi peradaban. Transisi energi merupakan bagian dari upaya membangun masa depan Indonesia yang berdaulat, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab historis untuk menjadi penggerak transformasi tersebut melalui riset, inovasi, dan pengabdian bagi kemajuan bangsa dan kemanusiaan. (*)
Editor : fery ardi susanto