Oleh: Aris Rakhmadi, S.T., M.Eg., Dosen UMS dan S3 DIFA-UAD
PADA akhir April 2026, saya berkesempatan mengikuti Global Capacity-Building Workshop on AI and Digital Transformation: Human Resource Development for an AI-Driven World di Cheju Halla University, Jeju, Korea Selatan.
Workshop ini menjadi ruang penting untuk melihat bagaimana kecerdasan buatan tidak lagi dibicarakan sebagai wacana masa depan, tetapi sebagai kenyataan yang sudah masuk ke ruang kelas, kampus, industri, dan kehidupan sehari-hari.
Selama kegiatan berlangsung, diskusi tidak hanya berputar pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana manusia, khususnya pendidik, dapat tetap memegang peran utama di tengah dunia yang semakin digerakkan oleh AI?
Pertanyaan itu sangat relevan dengan situasi pendidikan di Indonesia saat ini. AI mulai digunakan oleh siswa untuk mengerjakan tugas, oleh mahasiswa untuk mencari ide dan menyusun tulisan, oleh guru untuk menyiapkan materi, dan oleh dosen untuk membantu kegiatan akademik.
Baca Juga: Masa Depan Itu Bernama Artificial Intelligence
Namun, respons terhadap AI masih sering bercampur antara rasa penasaran, kekhawatiran, kecurigaan, dan bahkan penolakan. Ada yang melihat AI sebagai jalan pintas menuju kemalasan berpikir.
Ada pula yang menganggapnya sebagai ancaman terhadap keaslian karya, integritas akademik, dan masa depan profesi guru. Kekhawatiran itu wajar, tetapi tidak cukup jika hanya berhenti pada larangan.
Cara pandang kita terhadap AI perlu bergeser. AI sebaiknya tidak diposisikan sebagai musuh pendidikan, melainkan sebagai mitra baru dalam proses belajar.
Seperti halnya kalkulator, komputer, internet, dan mesin pencari yang dahulu juga pernah dicurigai, AI pada akhirnya akan menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan.
Tantangannya bukan apakah AI boleh masuk ke ruang kelas atau tidak, melainkan bagaimana sekolah dan kampus mengajarkan cara menggunakannya dengan benar, kritis, etis, dan bertanggung jawab.
Dalam praktiknya, AI dapat membantu guru dalam banyak tugas akademik.
Guru dapat memanfaatkannya untuk menyusun bahan ajar, membuat variasi soal, merancang aktivitas pembelajaran, menyederhanakan konsep yang sulit, atau menyiapkan contoh kasus yang dekat dengan kehidupan siswa.
AI juga dapat membantu memberikan umpan balik awal terhadap tulisan, latihan, atau rancangan tugas siswa.
Dalam konteks pembelajaran yang lebih personal, AI dapat menjadi pendamping yang membantu siswa belajar sesuai dengan kecepatan, kebutuhan, dan tingkat pemahaman masing-masing.
Namun, di sinilah batas pentingnya harus dipahami. AI dapat membantu mencari jawaban, tetapi guru membimbing cara berpikir.
AI dapat merangkum informasi, tetapi guru menanamkan nilai. AI dapat memberi saran, tetapi guru memahami emosi, karakter, latar belakang, dan kesulitan unik masing-masing siswa.
Pendidikan bukan hanya proses memindahkan informasi dari buku ke kepala peserta didik.
Pendidikan adalah proses membentuk manusia: cara bernalar, cara bersikap, cara mengambil keputusan, cara menghargai orang lain, dan cara bertanggung jawab atas pengetahuan yang dimiliki. Peran seperti ini tidak dapat digantikan oleh mesin.
Meski demikian, optimisme terhadap AI tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap risikonya.
AI dapat digunakan untuk plagiarisme, membuat siswa bergantung pada jawaban instan, menghasilkan informasi yang keliru, membawa bias tertentu, atau menimbulkan persoalan privasi data.
Karena itu, solusi terbaik bukan sekadar melarang AI, melainkan membangun literasi AI. Siswa perlu diajarkan bahwa hasil dari AI harus diperiksa, dibandingkan, dikritisi, dan dipertanggungjawabkan.
Guru juga perlu memahami bahwa tugas di era AI tidak bisa lagi hanya mengukur hasil akhir, tetapi juga harus menilai proses berpikir.
Maka pendidikan di Indonesia perlu menyiapkan langkah yang lebih sistematis. Guru dan dosen perlu mendapatkan pelatihan penggunaan AI yang praktis dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
Sekolah dan kampus perlu menyusun panduan etika AI yang jelas, bukan sekadar daftar larangan.
Model tugas perlu diperbarui agar mendorong analisis, refleksi, kreativitas, dan pengalaman nyata. Penilaian juga perlu diarahkan pada proses, argumentasi, orisinalitas gagasan, dan kemampuan siswa untuk menjelaskan kembali apa yang telah ia kerjakan.
Baca Juga: Pendidikan Holistik dan Ancaman Artificial Intelligence
Dalam jangka panjang, literasi AI perlu menjadi bagian dari kurikulum, bukan sekadar keterampilan tambahan.
Pendidikan Indonesia tidak boleh terlalu lama berada dalam posisi takut. AI memang menimbulkan gangguan, tetapi juga membuka peluang besar untuk memperluas akses, memperkaya metode belajar, dan memperkuat peran pendidik.
Masa depan pendidikan bukanlah tentang memilih antara guru dan AI. Masa depan pendidikan adalah membangun kerja sama yang sehat antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan.
Di ruang kelas masa depan, AI dapat menjadi teman baru. Namun, guru tetap menjadi penuntun utama yang menjaga agar teknologi tidak kehilangan arah kemanusiaannya. (*)
Editor : fery ardi susanto