BUDHI HARTANTO
Direktur Kharis Center
Beberapa tahun terakhir, banyak keluarga merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan hanya dengan angka-angka statistik. Penghasilan mungkin tidak turun drastis, pekerjaan masih ada, dan kehidupan tampak berjalan seperti biasa. Namun di balik itu tersimpan kegelisahan yang perlahan mengendap.
Harga kebutuhan pokok meningkat, biaya pendidikan terus bertambah, peluang kerja semakin kompetitif, sementara perkembangan teknologi mengubah dunia kerja dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kita hidup dalam zaman yang tidak miskin peluang, tetapi juga tidak miskin ketidakpastian.
Dalam situasi seperti ini, menarik untuk menengok kembali pemikiran seorang ahli strategi yang hidup lebih dari dua ribu tahun lalu, yaitu Sun Tzu. Sekilas, mungkin terasa aneh menghubungkan seorang ahli perang dengan kehidupan keluarga modern. Namun justru di situlah letak relevansinya.
Baca Juga: Local Indigenous Knowledge: Ketika Pengetahuan Lokal Masuk ke Sistem Teknologi Cerdas
Sun Tzu sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang perang, melainkan tentang bagaimana manusia bertahan, beradaptasi, dan memenangkan masa depan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
Salah satu gagasan paling terkenal dalam The Art of War adalah bahwa kemenangan terbaik adalah kemenangan yang diraih sebelum pertempuran terjadi. Bagi Sun Tzu, panglima yang bijak tidak mengandalkan keberanian semata. Ia mengandalkan persiapan.
Baca Juga: Melemahnya Kurs Rupiah: Gejala Teknis atau Fundamental?
Ia membangun posisi yang kuat jauh sebelum ancaman datang. Jika prinsip ini dibawa ke dalam kehidupan keluarga, maka pertanyaannya bukan lagi bagaimana menghadapi krisis ketika krisis itu datang. Pertanyaannya berubah menjadi apakah keluarga kita sedang membangun ketahanan sebelum badai itu tiba?
Dalam banyak kasus, keluarga tidak jatuh karena satu peristiwa besar. Mereka lebih sering rapuh akibat akumulasi ketergantungan yang tidak disadari. Ketergantungan pada satu sumber pendapatan, ketergantungan pada pasar untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup, ketergantungan pada utang untuk mempertahankan gaya hidup, atau ketergantungan pada kondisi ekonomi yang diasumsikan akan selalu baik-baik saja. Selama keadaan normal, ketergantungan itu tidak tampak sebagai masalah. Namun ketika terjadi guncangan, sekecil apa pun, kelemahan tersebut mulai muncul ke permukaan.
Baca Juga: Speaking, Confidence, dan Growth Mindset di Ruang Social Gathering
Pandangan ini memiliki kesesuaian yang menarik dengan teori dynamic capabilities yang dikembangkan oleh David Teece. Teori tersebut menjelaskan bahwa kemampuan bertahan tidak terutama ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan untuk beradaptasi ketika lingkungan berubah. Organisasi yang sukses bukanlah organisasi yang paling besar, tetapi organisasi yang paling mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan.
Prinsip yang sama berlaku bagi keluarga. Ketika dunia berubah, keluarga yang mampu belajar, mengembangkan keterampilan baru, menyesuaikan pola hidup, dan menemukan sumber penghidupan alternatif akan lebih mudah bertahan dibandingkan keluarga yang menggantungkan seluruh harapannya pada satu kondisi yang dianggap permanen.
Sun Tzu menggunakan analogi air untuk menggambarkan kemampuan adaptasi tersebut. Air tidak melawan batu dengan keras kepala. Ia mencari celah, mengubah bentuk, dan tetap mengalir menuju tujuannya. Dalam kehidupan keluarga, kebijaksanaan semacam ini sering kali lebih penting daripada keberanian mengambil risiko besar tanpa perhitungan. Kemampuan menyesuaikan diri justru menjadi modal utama menghadapi masa depan yang tidak pasti.
Pemikiran tersebut juga sejalan dengan pendekatan resource-based view yang berkembang dalam ilmu manajemen strategis. Teori ini menjelaskan bahwa kekuatan sejati sering kali lahir dari sumber daya internal yang unik dan sulit ditiru. Menariknya, banyak keluarga tidak menyadari bahwa mereka memiliki aset yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Keterampilan memasak, kemampuan bertani, jaringan sosial yang kuat, pengalaman usaha, pengetahuan lokal, hingga pekarangan rumah yang selama ini dianggap biasa saja, sesungguhnya merupakan aset strategis. Dalam kondisi normal, aset-aset tersebut tampak sederhana. Namun ketika tekanan ekonomi datang, aset-aset itulah yang sering kali menjadi penyangga kehidupan.
Di sinilah konsep ketahanan keluarga menemukan maknanya. Ketahanan keluarga bukan sekadar kemampuan menghasilkan pendapatan, melainkan kemampuan mempertahankan keberlangsungan hidup ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.
Dalam konteks Indonesia, sesungguhnya kita memiliki warisan budaya yang kaya mengenai ketahanan hidup. Generasi terdahulu mengenal pekarangan sebagai ruang produksi. Mereka menanam cabai, sayuran, rempah-rempah, atau tanaman buah bukan karena mengikuti tren, melainkan karena memahami bahwa sebagian kebutuhan hidup sebaiknya berada dalam kendali keluarga sendiri.
Mereka juga membangun hubungan sosial yang erat dengan tetangga, kerabat, dan komunitas sekitar. Bukan semata-mata demi menjaga kerukunan, tetapi juga sebagai bentuk modal sosial yang dapat diandalkan ketika masa sulit datang. Gotong royong, sambatan, arisan, hingga tradisi saling membantu dalam berbagai kebutuhan keluarga sesungguhnya merupakan mekanisme ketahanan sosial yang telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia. Apa yang dahulu tampak sebagai kebiasaan sederhana ternyata memiliki nilai strategis yang luar biasa.
Berbagai penelitian mengenai organizational resilience menunjukkan bahwa kemampuan bertahan bukanlah kemampuan menghindari guncangan, melainkan kemampuan menyerap guncangan tanpa kehilangan fungsi utamanya. Dalam konteks keluarga, fungsi utama tersebut adalah menjaga keberlangsungan hidup, pendidikan anak, kesehatan anggota keluarga, serta keharmonisan rumah tangga. Ketahanan tidak berarti tidak pernah mengalami kesulitan. Ketahanan berarti mampu melewati kesulitan tanpa kehilangan arah.
Dari sudut pandang ini, ukuran keberhasilan keluarga menjadi berbeda. Keberhasilan tidak lagi semata-mata diukur dari tingkat konsumsi atau simbol-simbol kemakmuran yang terlihat dari luar. Keberhasilan juga perlu diukur dari kemampuan bertahan ketika kondisi tidak ideal. Keluarga yang tetap tenang ketika pendapatan menurun sementara, keluarga yang masih memiliki cadangan kebutuhan pokok, keluarga yang mempunyai keterampilan produktif, serta keluarga yang didukung jaringan sosial yang kuat sesungguhnya sedang menunjukkan bentuk kemenangan yang paling nyata.
Mungkin inilah pelajaran paling penting yang dapat kita ambil dari Sun Tzu pada masa sekarang. Di tengah budaya yang mendorong kita untuk terus mengejar pertumbuhan dan kemewahan, kita sering lupa bahwa mempertahankan keberlanjutan juga merupakan bentuk kemenangan.
Bahkan dalam perspektif yang lebih luas, ketahanan keluarga sesungguhnya merupakan fondasi ketahanan bangsa. Bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh pertumbuhan ekonomi makro, tetapi juga oleh jutaan keluarga yang memiliki kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit ketika menghadapi kesulitan.
Sebab itu, membangun tabungan, mengurangi ketergantungan yang berlebihan, mengembangkan keterampilan produktif, memanfaatkan pekarangan, memperkuat jejaring sosial, dan menanamkan budaya hidup sederhana bukan sekadar pilihan ekonomi. Semua itu merupakan strategi peradaban.
Sun Tzu pernah menulis bahwa panglima yang baik memenangkan peperangan terlebih dahulu, baru kemudian berangkat ke medan perang. Dalam kehidupan keluarga, kalimat tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan untuk membangun ketahanan sebelum keadaan memaksa kita melakukannya.
Sebab pada akhirnya, tujuan sebuah keluarga bukanlah menjadi yang paling kaya, melainkan menjadi cukup kuat untuk tetap berdiri ketika banyak hal di sekitarnya berubah. Dan di zaman yang penuh ketidakpastian seperti sekarang, kemampuan untuk tetap berdiri mungkin merupakan bentuk kemenangan yang paling berharga. (*)
Editor : Kabun Triyatno