RADARSOLO.COM - Krincing..krincing..krincing. Nyaringnya suara krincingan menggema di Taman Balekambang. Satu per satu sosok menyeramkan pun menaiki panggung. Mereka adalah penari-penari dari sanggar Enggal Condong Turonggo.
Kedatangan mereka sontak mengubah suasana sore itu. Wajah topeng yang menyeramkan cukup membuat penonton terdiam. Menyaksikan juga merasakan merindingnya karya tersebut.
Wajah-wajah topeng tersebut bukan tanpa arti. Meski mimik rupanya berbeda-beda, namun ada satu kesamaan. Ialah amarah. Kemurkaan penari-penari tersebut diperkuat dengan gerakan-gerakan yang tegas.
"Ini merupakan tari Buto Gedruk, tarian dari Magelang, Lereng Merapi. Gambaran dimana hutan sekarang dirusak sama kita, manusia. Buto itu marah, turun dengan begitu garangnya dan menakutkannya," ucap pendiri sekaligus penanggung jawab Sanggar Enggal Condong Turonggo Budi Yanto kepada Jawa Pos Radar Solo.
Baca Juga: Tari Englang Usung Konsep Mendalam: Ingatkan Permainan Engklek Zaman Dahulu
Buto Gedruk ini memiliki gerakan yang sederhana. Bisa digambarkan, para penari kebanyakan melakukan hentakan kaki yang keras. Yang mana menimbulkan suara gemerincing yang nyaring.
"Kemudian Buto Gedruk itu gerakannya sederhana. Menonjolkan hentakan kaki," ucapnya.
Sejatinya, dalam karya ini topeng dilepas oleh para penari. Hanya saja karena waktu yang terbatas dari panitia, mengakibatkan gerakan tersebut tak ditampilkan pada karya kali ini.
"Aslinya selesai itu topeng dilepas, hanya saja tidak dilepas karena durasi. Kami mengikuti panitia. Setelah itu turun, kita melihatkan wajah aslinya. Yang laki-laki, ganteng-ganteng dan perempuan, cantik-cantik," ucapnya.
Disinggung mengenai persiapan, Budi mengklaim tak ada hal yang khusus. Mengingat karya ini sudah kerap ditampilkan oleh penari-penarinya.
"Spontan kami langsung bisa. Tarian itu sudah ada rumusnya. Kami bisa melakukan pengembangan, kami juga bisa melihat durasi. Jadi ini bukan tarian yang pakem, misalnya tari Sarimpi. Kalau ini bisa mengikuti durasi," tambah Budi.
Lantas, apa pesan dari tarian yang cukup menarik ini? Budi menuturkan, ada pesan bagi warga negara Indonesia, khususnya para pemuda.
"Di mana benar-benar harus semangat, giat, dan menggebu-gebu. Semangatnya kayak buto. Benar-benar garang, tapi setelah menunjukkan keasliannya itu ternyata lemah lembut, tidak seganas itu," ucapnya. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy