RADARSOLO.COM – Wali Kota Solo Respati Ardi melepas puluhan siswa SD dan SMP, yang akan berlaga di kompetisi internasional di Jepang, Singapura, dan Kota Bandung. Pelepasan berlangsung di aula kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo, Selasa (1/7).
Kepala Disdik Kota Solo Dian Rineta menjelaskan, 21 siswa dari SMPN 1, SMPN 3, dan SMPN 4 Solo akan mengikuti final Japan Design, Idea, and Invention Expo (JDIE) 2025 pada 5-6 Juli di Tokyo, Jepang.
Lalu 10 tim dari lima SMPN di Solo akan tampil dalam final Indonesia STEM Creativity Competition (ISTEMCC) 2025 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, 27-28 Juli. Mereka akan bersaing dalam kategori Invention Maker, Mechatronic, serta Capstone Project untuk guru.
Dari jalur olimpiade matematika, Aquilla Yovaan Ananta (SMP Warga) dan Kevin Aditya Kusuma Putra (SDI Diponegoro) akan berangkat ke Singapura. Keduanya mengikuti ajang Singapore International Math Olympiad Challenge (SIMOC) pada 4-5 Juli.
Sementara itu, Stanislaus Jalu Putra Pambudi (SMP Warga) yang meraih Best Score 3 dalam ajang nasional Omni Sains Indonesia (OSI) mendapat hadiah perjalanan ke Thailand.
Pada kesempatan ini, wali kota Respati menawarkan fasilitas tambahan untuk SMPN 24, SMPN 25, dan SMPN 26 Solo. Para siswa mengusulkan penambahan fasilitas teknologi seperti 4D Frame, 3D Printing, dan studio podcast di sekolah.
“Support dari orang tua luar biasa. Kami dari sisi guru akan fokus pada metode STEM untuk pembelajaran matematika dan sains. Permintaan dari beberapa sekolah yang fasilitasnya belum merata, akan kami perjuangkan dalam anggaran perubahan tahun depan,” ujar Respati.
Terkait permintaan fasilitas 3D printing dan 4D frame, Respati menyatakan akan memperjuangkannya.
“Saya baru menjabat empat bulan. Tapi permintaan itu akan kami usulkan dalam anggaran perubahan. Tidak ada lagi SMP favorit di Solo, semua SMP harus jadi favorit. Jangan sampai kita paksakan kurikulum yang tidak sesuai keinginan siswa. Justru kita harapkan mereka bisa berdampak bagi yang lain,” bebernya.
Respati menambahkan, siswa yang telah diverifikasi sebagai peserta lomba oleh disdik akan terus didampingi agar tetap mendapat pendidikan layak.
“Anak-anak berprestasi ini jangan sampai lepas. Kami kerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS), untuk menjamin mereka bisa masuk fakultas sesuai potensinya. Kalau ada kekurangan dari sisi ekonomi, pemerintah kota wajib mendampingi,” tegasnya.
Respati juga menyoroti pembiayaan kegiatan internasional. Terutama dari sekolah negeri yang tidak bisa menarik dana dari orang tua.
“Saat ini pembiayaan masih mandiri dari orang tua murid. Tapi jika ada yang kurang mampu, silakan ajukan ke pemkot. Kami carikan jalan keluar, entah dari CSR, sponsor, atau lainnya. Skema APBD sebenarnya memungkinkan, tapi regulasinya panjang. Yang jelas, jangan sampai anak berprestasi terhambat,” tandasnya. (zia/fer)