Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Dosen UIN Solo Diduga Lecehkan Sejumlah Mahasiswi, Rektor Desak Pelaku Minta Maaf Langsung

Alfida Nurcholisah • Selasa, 19 Mei 2026 | 15:14 WIB
Kampus UIN Raden Mas Said Solo. (Dok. Radar Solo)
Ilustrasi kampus UIN Raden Mas Said Solo. (Dok. Radar Solo)

SOLO - Sejumlah mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Mas Said Solo diduga mengalami pelecehan seksual oleh salah seorang dosennya yang diketahui berinisial F. 

Dugaan pelecehan dilakukan melalui pesan WhatsApp (WA) pribadi bernada genit, hingga tindakan yang membuat beberapa korban merasa tidak nyaman dan trauma.

Salah seorang mahasiswi UIN Solo R mengaku mengalami kejadian tersebut saat magang di minimarket laboratorium FEBI, September 2025 lalu.

Awalnya, ia mengira komunikasi dari dosen tersebut hanya berkaitan dengan urusan pelayanan di tempat magang.

Baca Juga: Prodi Bimbingan dan Konseling (BK) Univet Sukoharjo Sukses Raih Akreditasi "Unggul"

“Saya pikir awalnya ada masalah pelayanan atau hal biasa. Tapi lama-lama pertanyaannya mulai aneh. Nanya kos, identitas pribadi, sampai hal-hal yang bikin saya takut. Dia bilang mau dipelet,” ujar R, Selasa (19/5).

Merasa tidak nyaman, korban memilih tidak lagi membalas pesan dan langsung melapor kepada pihak program studi. Setelah laporan masuk, jadwal magangnya dipindahkan agar tidak bertemu dengan dosen tersebut.

Baca Juga: SPMB SMA Dan SMK Sederajat Segera Berlaku E-Ijazah, Perketat Validasi Data

“Kaprodi (kepala program studi) waktu itu menyarankan saya tidak masuk magang dan kuliah dulu tidak apa-apa. Jadwal magang dipindah supaya tidak ketemu lagi,” imbuhnya.

Meski sudah tidak lagi dihubungi, korban mengaku masih trauma ketika bertemu langsung di kampus.

“Kalau ketemu dia, melihatnya masih  aneh banget. Nggak sewajarnya. Saya jadi takut interaksi sama orang lain juga,” ungkapnya.

Korban lain, yakni P yang merupakan salah satu alumni UIN Solo. Perempuan yang berdomisili di Jakarta ini mengaku mengalami perlakuan serupa.

Awalnya hanya berhubungan selayaknya mahasiswa dan dosen penguji proposal. Namun setelah seminar proposal, komunikasi berubah menjadi personal dan tidak profesional.

“Beliau sering balas status, manggil pakai panggilan sayang. Pernah ngajak ketemu, sampai bilang mau nyariin kerja buat saya supaya tetap di Solo dan gampang ketemu,” bebernya.

P mengaku kondisi mentalnya saat itu dimanfaatkan, karena dosen tersebut tahu dia sedang menjalani pendampingan psikiater. Ia juga mengaku pernah mengalami kontak fisik yang membuat tidak nyaman saat sidang skripsi.

“Pas sidang beliau pegang dan elus pergelangan tangan saya. Saya takut dan bingung harus gimana, karena situasinya sidang,” ujarnya.

Tak hanya itu, percakapan melalui pesan kerap mengarah pada komentar fisik pribadi yang membuat korban semakin tertekan.

Baca Juga: Aturan Baru Sudutkan Guru Honorer, Disdik Solo Pasang Badan, Jamin Tetap Bisa Mengajar

Kasus ini kemudian ramai dibicarakan, setelah beberapa mahasiswi berani speak up di media sosial. Para korban berharap pihak kampus mengambil tindakan tegas.

“Kalau bisa disanksi tegas karena bukan sekali dua kali. Banyak korban yang takut bicara,” ujarnya.

Menanggapi kasus tersebut, Rektor UIN Raden Mas Said Solo Toto Suharto mendesak terduga pelaku untuk meminta maaf secara langsung kepada para korban, serta berjanji tidak mengulangi perbuatannya.

“Ketua satgas memberikan peringatan dengan keras dan tegas. Meminta pelaku agar meminta maaf pada korban secara langsung, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi pada siapa pun,” tegas Toto.

Toto menambahkan, laporan dugaan kekerasan seksual tersebut masuk melalui aplikasi Sistem Layanan Pengaduan (SILADA) kampus. Kini sedang diproses Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS).

Toto juga menyebut, terduga pelaku telah meminta maaf melalui pesan WA kepada para korban.

“Pak F sudah meminta maaf kepada korban melalui WA, dan nanti akan kami arahkan untuk meminta maaf secara resmi,” bebernya.

Meski demikian, hingga saat ini korban belum mendapatkan pendampingan khusus dari pihak kampus. P dan R sebagai korban juga mengaku belum ada permintaan maaf dari pelaku.

"Sampai sekarang saya belum dihubungi pihak kampus. Sempat beliau menanyakan kepada saya terkait laporan itu. Belum ada permononan maaf. Saya rasa kalau hanya minta maaf, itu tidak adil," ungkap P.

Baca Juga: Aturan Baru Sudutkan Guru Honorer, Disdik Solo Pasang Badan, Jamin Tetap Bisa Mengajar

Dalam pernyataan resminya, Satgas PPKS UIN Raden Mas Said Solo mengaku kasus tersebut sedang  dalam proses penanganan. Satgas juga meminta masyarakat tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi maupun identitas korban.

Sementara itu, Dekan FEBI UIN Raden Mas Said Solo Rhamawan Arifin mengaku belum menerima laporan resmi maupun berita acara investigasi dari tim Satuan Pengawas Internal (SPI).

“Untuk saat ini fakultas belum terima laporan dan berita acara investigasi tim SPI UIN Surakarta, karena laporan masuk melalui aplikasi SILADA. Kami masih menunggu laporannya,” ujarnya.

Rhamawan menambahkan, apabila dugaan tersebut terbukti, pihak fakultas akan berkonsultasi dengan rektorat terkait sanksi yang akan diberikan kepada pelaku. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#febi uin solo #Dosen UIN Solo #pelecehan seksual #UIN Solo