Kenapa Bahasa Arab Ditulis dari Kanan ke Kiri?

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:59 WIB
Arah penulisan bahasa Arab dari kanan ke kiri berakar dari tradisi aksara Semitik kuno seperti Nabataean.
Arah penulisan bahasa Arab dari kanan ke kiri berakar dari tradisi aksara Semitik kuno seperti Nabataean.

RADARSOLO.COM – Bagi penutur bahasa Indonesia, menulis biasanya dimulai dari kiri lalu bergerak ke kanan. Namun, ketika membuka buku atau melihat tulisan bahasa Arab, arah tersebut justru terasa terbalik. Baris dimulai dari kanan dan bergerak menuju kiri.

Mengapa bahasa Arab memiliki arah penulisan seperti itu?

Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari sejarah aksaranya yang sangat panjang.

Baca Juga: ‘Campur-Campur’ Bahasa Makin Biasa di Percakapan Sehari-hari, Mengapa?

Bahasa Arab modern menggunakan aksara Arab yang secara historis berkembang dari rangkaian aksara Semitik kuno. Salah satu mata rantai penting dalam perkembangan tersebut adalah aksara Nabataean, yang digunakan oleh masyarakat Nabataean di kawasan yang kini menjadi Yordania dan wilayah sekitarnya.

Bangsa Nabataean dikenal antara lain melalui peninggalan kota Petra. Dalam sejumlah prasasti, aksara Nabataean ditulis dari kanan ke kiri.

Arah tersebut kemudian menjadi bagian dari tradisi aksara yang berkembang menuju bentuk aksara Arab.

Baca Juga: Kenapa Bahasa Indonesia Dipilih Jadi Bahasa Persatuan?

Bukan Cuma Bahasa Arab

Menariknya, menulis dari kanan ke kiri bukan sesuatu yang hanya dimiliki bahasa Arab.

Sejumlah sistem tulisan kuno di kawasan Timur Tengah juga menggunakan arah yang sama. Tradisi tersebut telah muncul jauh sebelum bentuk aksara Arab seperti yang dikenal sekarang.

Aksara Ibrani, misalnya, hingga kini juga ditulis dari kanan ke kiri. Begitu pula beberapa aksara Semitik kuno yang menjadi bagian dari sejarah panjang perkembangan sistem tulisan di wilayah tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa arah tulisan merupakan bagian dari konvensi sistem aksara, bukan semata-mata karakter sebuah bahasa.

Satu bahasa bahkan dapat mengalami perubahan arah penulisan sepanjang sejarahnya.

Dalam sejarah aksara kuno, terdapat sistem tulisan yang pernah digunakan dalam lebih dari satu arah. Beberapa prasasti juga menggunakan pola boustrophedon, yaitu baris tulisan yang berganti arah seperti gerakan membajak sawah.

Jadi, manusia pada masa lalu sebenarnya tidak selalu sepakat bahwa tulisan harus bergerak dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri.

Lalu Apa Hubungannya dengan Memahat Batu?

Salah satu penjelasan yang sering muncul mengenai arah tulisan berkaitan dengan cara manusia membuat tulisan pada media keras, seperti batu.

Dalam proses memahat, posisi tangan, alat, serta media yang digunakan memang dapat memengaruhi kenyamanan seseorang ketika membuat guratan. Karena itu, arah tertentu mungkin lebih praktis dalam konteks teknologi penulisan tertentu.

Baca Juga: Kenapa Bunga Identik dengan Cinta? Ternyata Ada Sejarah Panjang di Baliknya

Namun, para ahli tidak menganggap faktor tersebut sebagai satu-satunya penyebab mengapa sebuah aksara akhirnya ditulis dari kanan ke kiri.

Arah tulisan pada akhirnya menjadi konvensi yang diwariskan.

Ketika sebuah masyarakat terus menggunakan pola tertentu selama beberapa generasi, arah tersebut menjadi bagian dari sistem penulisan. Generasi berikutnya tidak perlu lagi mempertanyakan mengapa harus dimulai dari kanan atau kiri. Mereka cukup mengikuti aturan yang sudah berlaku.

Hal menarik lainnya, arah tulisan bahkan dapat memengaruhi cara sebuah aksara berkembang secara visual.

Aksara Arab memiliki bentuk huruf yang saling terhubung dalam banyak posisi. Cara penulisannya berkembang mengikuti tradisi kaligrafi dan media yang digunakan selama berabad-abad.

Karena itu, ketika kita melihat tulisan Arab bergerak dari kanan ke kiri, sebenarnya kita sedang melihat hasil perjalanan sejarah yang sangat panjang.

Bukan sekadar kebalikan dari cara kita menulis.

Di balik satu arah gerakan tangan tersebut terdapat jejak bangsa-bangsa kuno, perubahan bentuk aksara, teknologi penulisan, dan tradisi yang diwariskan selama ribuan tahun. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa arab aksara bahasa tulisan