Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ramadan Memunculkan Ragam Tradisi, Masyarakat Jawa masih Melakukan Hal ini dan Tetap Lestari

Mannisa Elfira • Senin, 24 Maret 2025 | 22:35 WIB
SEMARAK: Prosesi kirab budaya yang digelar Keraton kasunanan Surakarta dalam menyambut malam selikuran, Kamis malam (20/3/2025).
SEMARAK: Prosesi kirab budaya yang digelar Keraton kasunanan Surakarta dalam menyambut malam selikuran, Kamis malam (20/3/2025).

RADARSOLO.COM - Kental akan tradisi, masyarakat Jawa masih melakukan sejumlah kegiatan budaya menjelang dan pada saat bulan Ramadan. Lantas, apa saja budaya yang masih berlangsung dan dilestarikan hingga masa kini?

Pemerhati budaya asal Kota Solo Tundjung W. Sutirto menyebutkan beberapa contohnya. Termasuk salah satu tradisi di Jawa Tengah. Satu bulan sebelum datangnya Ramadan saja sudah ada Ruwahan atau lebih dikenal dengan istilah Nyadran.

"Ruwahan atau Nyadran itu dilakukan pada bulan Sya'ban. Nyadran artinya keyakinan yang isinya adalah kegiatan mendoakan arwah para leluhur yang diwujudkan dalam bentuk kenduri, "besik" atau membersihkan makam keluarganya," sebut Tundjung kepada Jawa Pos Radar Solo.

Baca Juga: Dongeng Ramadan Bersama Kak Bimo, Anak-anak TPA Boyolali Terhibur dan Terinspirasi

Tundjung menyebutkan tradisi nyadran ini sudah berlangsung sejak abad ke-15 yang merupakan bentuk perpaduan budaya dengan nafas Islam yang digagas para wali agar Islam dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat Jawa.

Selanjutnya adalah padusan. Padusan itu berasal dari kata dasar "adus" yang berarti ‘mandi’. Jadi, istilah ‘padusan’ artinya mandi suci guna membersihkan diri sebelum menyambut datangnya bulan Ramadhan.

"Dilakukan sehari sebelum menjelang Ramadhan yang diisi mandi sesuci di sendang atau umbul (sumber mata air) atau di kolam renang bahkan di air terjun. untuk mensucikan diri secara simbolik agar dalam menjalankan puasa dalam keadaan suci," jelasnya.

Di wilayah Semarang ada tradisi Dugderan. Di Kudus ada Dandangan. Ada juga yang melakukan Megengan yaitu bersedekah dengan makanan kemudian di "ater-ater" (diantarkan) ke tetangga sebagai persiapan untuk menghadapi puasa.

"Megengan itu artinya menghela nafas atau menahan yang berasal dari kata megeng. Di beberapa daerah di Jawa seperti di Wonogiri tradisi megengan ini di desa-desa sering dibuatkan kue apem yang kemudian disajikan sebagai sesaji kepada para leluhur keluarga yang sudah meninggal," papar Tundjung.

"Kemudian diikuti dengan memberikan makanan kepada para tetangga sebagai wujud syukur kepada Tuhan dan doa agar kuat dalam menjalankan ibadah puasa. Karena, megengan itu dilakukan menjelang tibanya hari puasa dan biasanya selepas salat Ashar setelah suara bedug yang dibunyikan dari masjid terdengar sebagai tanda akan dimulainya puasa esok hari," lanjutnya.

Sementara itu, di Karanganyar ada tradisi "Long Bumbung" yaitu membunyikan suara petasan yang terbuat dari karbit dan bumbung bambu.

"Di Jepara ada tradisi "baratan" yaitu kirab budaya. Di Cilacap ada tradisi "Kepungan" yang praktiknya hampir sama dengan Nyadran," sambungnya.

Adapun pada saat berlangsungnya puasa terdapat tradisi "Maleman" yang dilaksanakan pada malam hari di hitungan malam hari ganjil di sepuluh hari terakhir bulan puasa.

"Kalau di Surakarta aktivitas budaya menjelang dan pada saat puasa lebih dominan pada acara sadranan, padusan, dan malam selikuran. Selebihnya banyak yang bersifat agamis seperti tarling (Tarawih Keliling), khataman, berbagi takjil dan ibadah Islami lainnya," ulas Tundjung. (nis/nik)

 

Editor : Niko auglandy
#padusan #Ramadan #malam selikuran