RADARSOLO.COM – Komposisi skuad Timnas Indonesia U-16 proyeksi ASEAN U-16 Boys Championship atau Piala AFF U-16 sudah mencapai kata final. Nova Arianto selaku head coach telah menetapkan 23 dari 30-an pemainnya.
Ya, ada sejumlah nama yang dicoret dari Garuda Muda setelah melakukan training camp (TC). Bahkan banyak perbincangan yang muncul didalamnya.
Anak dari artis Darius Sinathrya, yakni Diego Sinathrya tercoret. jelas bukan karena dia anak artis, namun lebih kepada saat ini dia bergabung dengan akademi klub besar liga Prancis, yakni Paris Saint-Germain atau PSG. Di jadi kapten di tim ini, bahkan Februari 2024 lalu dia raih penghargaan jadi player terbaik di akademi ini.
Selain itu ada juga beberapa pemain diaspora yang tercoret dari tim. Alzar Tanjung (Sydney FC), Ocean Erwin Lim (Cardedeu FC), dan Matthew Kohnke (CFU Mira Sol Baco).
Diantara pemain diaspora yang menjalani seleksi, hanya Lucas Raphael (De Anza Force/klub Amerika), dan Mathew Baker (Melbourne City/klub Australia) yang lolos ke skuad Timnas U-16 untuk Piala AFF
"Komposisi pemain sudah final, dan sudah cukup siap untuk pertandingan besok. Harapannya semua pemain yang akan diturunkan besok bisa tampil maksimal untuk hasil terbaik," tegas Nova Arianto kepada awak media di salah satu hotel di Solo, Kamis (20/6/2024).
Lebih lanjut, Nova mengatakan semua pemain punya kesempatan yang sama. Pihaknya akan menyaksikan latihan terakhir untuk menentukan starting eleven melawan Singapura di Stadion Manahan, Jumat (21/6).
"Hari ini kami ada latihan terakhir malam, kita lihat siapa yang bisa tampil," ujarnya.
Soal adaptasi beberapa pemain diaspora, Nova mengaku tak ada masalah. Mengingat mereka sudah mengikuti pemusatan latihan sejak di Jogjakarta beberapa waktu lalu.
"Adaptasi tidak masalah. Karena sekali lagi Beker, Lucas sudah ikut TC kita di Jogja jadi adaptasi dengan cuaca dan teman-temannya. Saya kira tidak ada masalah," sambung juru taktik berusia 44 tahun itu.
Selain nama-nama itu, kebanyakan skuad berasal dari klub Indonesia. Nova mengaku mereka punya kualitas yang hampir sama.
"Beruntung kita punya EPA, Liga Topskor, atau turnamen lainnya yang bisa menjadi pendukung saat kami memilih pemain. Karena dalam situasi seperti itu pemain cukup kompetitif karena mereka bermain di kompetisi," paparnya.
"Tapi sekarang levelnya berbeda. Mereka levelnya di ASEAN, bukan di klub, saya rasa kini 80 persen sisanya mental yang mempengaruhi pertandingan besok," ungkapnya. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy