RADARSOLO.COM – Super League 2025/2026 resmi berakhir dengan hasil pahit bagi Persis Solo.
Upaya Laskar Sambernyawa untuk keluar dari jerat degradasi harus kandas meski berhasil menutup musim dengan kemenangan.
Pada laga pekan ke-34 yang berlangsung di Banten International Stadium, Sabtu (23/5/2026), Persis Solo sukses menaklukkan Persita Tangerang dengan skor 3-1.
Namun, kemenangan tersebut menjadi sia-sia, setelah pada pertandingan lain Madura United berhasil mengalahkan PSM Makassar 2-0.
Hasil itu membuat Persis Solo harus terdegradasi, turun ke Liga 2 karena kalah head to head dari PSM Makassar meski sama-sama mengoleksi 34 poin.
Suporter Persis Solo yang menggelar nonton bareng di Stadion Manahan Solo pun tak mampu menyembunyikan kekecewaan mereka.
Nyanyian bernada protes kepada manajemen menggema usai kepastian degradasi tim kebanggaan mereka.
Salah satu suporter Persis Solo, Edo, mengaku kecewa berat dengan hasil akhir musim ini.
Meski demikian, ia menyatakan tetap menerima jika Persis harus turun kasta ke Liga 2.
Dengan catatan, manajemen melakukan pembenahan total.
“Saya sebagai suporter tetap menerima. Tidak masalah berada di Liga 2. Asalkan manajemen mau berbenah total dan tim bisa kembali lagi ke Liga 1 dalam waktu singkat, cukup satu musim saja di Liga 2,” ujar Edo.
Menurut dia, pembenahan harus dimulai dari internal manajemen agar klub dapat kembali sehat dan kompetitif.
Ia juga meminta manajemen lebih selektif dalam merekrut pemain.
Baca Juga: Hasil Akhir BRI Super League 2025/2026: Detik-detik Persib Bandung Cetak Hattrick Juar Malam Ini!
“Suporter sebenarnya tidak banyak menuntut. Yang penting manajemennya sehat dan bersih. Dalam pembelian pemain juga harus lebih selektif,” lanjutnya.
Edo turut mengkritisi keputusan manajemen yang melakukan perombakan besar-besaran pada paruh musim.
Menurutnya, langkah tersebut tidak efektif karena pemain dan pelatih baru membutuhkan waktu adaptasi.
"Menurut saya, merombak skuad di tengah musim itu tidak efektif. Pemain baru dan pelatih baru tentu butuh adaptasi, sementara target tim sudah terlalu jauh tertinggal,” katanya.
Baca Juga: Hasil Persita vs Persis Babak Pertama BRI Super League Sore Ini: Gol Roket Jefferson Pecah Kebuntuan
Kekecewaan serupa juga disampaikan Wildan, suporter Persis Solo yang hadir di Stadion Manahan.
Ia menilai manajemen tidak belajar dari kesalahan sejak putaran pertama kompetisi.
"Kekecewaan terhadap manajemen sebenarnya sudah ada sejak awal putaran musim. Tidak ada pembelajaran dari kesalahan. Memang di putaran kedua ada sedikit perbaikan, tapi semuanya sudah terlambat,” ujar Wildan.
Wildan juga menyoroti persoalan di luar lapangan, termasuk isu pembayaran lapangan yang menurutnya belum diselesaikan secara jelas oleh manajemen.
“Kami ingin sepak bola yang sehat. Kalau manajemennya masih seperti ini, meskipun tim berada di bawah, ya memang harus menerima turun kasta,” katanya.
DPP Pasoepati Desak Owner dan Manajemen Buka Suara
Kekecewaan juga disampaikan Presiden DPP Pasoepati, Arif Djodi Purnomo.
Ia menilai degradasi Persis Solo tidak lepas dari buruknya komunikasi di internal kepemilikan klub dan manajemen.
“Jujur kami sangat kecewa dengan manajemen. Sebenarnya kurang apa lagi? Kami mengetahui ada komunikasi yang kurang baik antar-owner, tapi jangan sampai hal itu mengorbankan kecintaan suporter terhadap Persis Solo,” ujar Arif Djodi Purnomo.
Djodi menegaskan bahwa suporter selama ini telah memberikan dukungan penuh kepada Persis Solo, baik saat laga kandang maupun tandang.
Namun, perjuangan suporter justru berujung pada kekecewaan besar.
“Kami sudah all out. Ke mana pun Persis bermain kami selalu siap mendukung. Tapi semangat kami dibalas dengan kekecewaan yang sangat besar musim ini. Kami berharap bisa aman dari degradasi, tetapi faktanya Persis justru turun ke Liga 2,” katanya.
Ia juga meminta para pemilik saham atau owner Persis Solo untuk membuka ruang komunikasi dengan suporter agar persoalan internal klub dapat diketahui secara jelas.
“Sebenarnya ada masalah apa di internal klub? Selama ini komunikasi hanya terjalin dengan Mas Kaesang, padahal owner Persis ada tiga orang. Yang lainnya ke mana?” ucapnya.
Menurut Djodi, suporter juga menjadi bagian penting dalam pemasukan klub, terutama dari sektor penjualan tiket pertandingan.
Karena itu, ia menilai suporter berhak mengetahui kondisi sebenarnya yang terjadi di internal Persis Solo.
Ia turut menyoroti keberadaan manajemen yang dinilai lebih memahami sisi industri dibanding sepak bola.
Selain itu, Djodi mempertanyakan komitmen direksi terkait rencana pembenahan yang sebelumnya pernah disampaikan kepada publik.
Djodi berharap para owner dan jajaran manajemen bersedia bertemu langsung dengan suporter untuk menjelaskan persoalan yang terjadi di tubuh Persis Solo.
“Kami ingin berbicara dari hati ke hati untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya terjadi di dalam klub,” tandasnya.
Meski kecewa dengan hasil musim ini, Djodi memastikan loyalitas Pasoepati terhadap Persis Solo tidak akan berubah dan tetap mendukung tim dalam situasi apa pun.
Editor : Syahaamah Fikria