RADARSOLO.COM – Kemenangan telak 3-0 atas Malaysia U-17 pada laga kedua Garuda Championship Series 2026 di Stadion Manahan, Solo, Selasa (7/7/2026), membuat pelatih Timnas Indonesia U-17 David Nascimento tersenyum puas. Baginya, hasil tersebut bukan sekadar kemenangan dalam laga uji coba, melainkan bukti nyata perkembangan Garuda Muda yang baru dibangunnya selama sekitar satu bulan.
Kemenangan itu sekaligus menutup rangkaian dua laga persahabatan melawan Malaysia U-17. Pada pertemuan pertama kedua tim bermain imbang 1-1, sedangkan di laga kedua Indonesia tampil jauh lebih dominan dengan mencetak tiga gol tanpa balas.
David mengatakan pertandingan melawan Malaysia menjadi tolok ukur penting untuk mengukur kemampuan timnya. Sebab, sebelum menghadapi Harimau Malaya Muda, staf pelatih belum memiliki gambaran pasti mengenai level permainan para pemain.
"Sangat senang. Kami bermain melawan tim yang bagus. Beberapa bulan lalu mereka bermain di final melawan Vietnam. Sekarang kami tahu di mana posisi kami karena sebelumnya kami tidak punya referensi," ujar David kepada awak media seusai pertandingan.
Pelatih asal Portugal itu menilai perkembangan yang ditunjukkan para pemain berlangsung sangat cepat. Dalam waktu persiapan yang singkat, para pemain dinilai mampu menyerap instruksi tim pelatih dan menerapkannya dengan baik di lapangan.
"Melihat bagaimana anak-anak berkembang, melihat bagaimana tim ini meningkat, saya hanya bisa merasa sangat senang dan bangga. Ini adalah hasil kerja selama satu bulan, jadi kami harus sangat bangga," lanjutnya.
David juga memuji disiplin taktik para pemain sepanjang pertandingan. Menurutnya, strategi yang telah dipersiapkan berjalan sesuai rencana karena tim pelatih lebih dulu mempelajari pola permainan Malaysia, baik saat menyerang maupun bertahan.
"Saya pikir kami menganalisis mereka dengan sangat baik, bagaimana mereka bertahan dan bagaimana mereka menyerang. Pada pertandingan ini kami tahu persis apa yang harus dilakukan," katanya.
Menurut David, keberhasilan Garuda Muda membangun serangan dari lini belakang menjadi salah satu faktor pembeda dalam pertandingan tersebut. Para pemain mampu membuka ruang, menciptakan pemain bebas, dan menghasilkan banyak peluang berbahaya.
Selain itu, tekanan tinggi yang diterapkan sejak awal membuat Malaysia kesulitan mengembangkan permainan. Setiap kali lawan menguasai bola, para pemain Indonesia langsung melakukan pressing sehingga Harimau Malaya Muda tidak memiliki ruang untuk membangun serangan.
"Kami selalu bisa menciptakan pemain yang bebas. Kami menciptakan banyak peluang. Saat mereka menguasai bola, mereka tidak bisa bermain karena kami terus menekan mereka. Ini pertandingan yang sangat bagus dari sisi kami," tegasnya.
Di sisi lain, pelatih Malaysia U-17 Muhammad Shukor bin Adan mengakui timnya pantas menelan kekalahan. Ia menilai anak asuhnya kehilangan konsentrasi, intensitas, dan agresivitas, terutama ketika bertahan sehingga Indonesia mampu memanfaatkan situasi tersebut menjadi gol.
"Pertandingan kedua kalah 3-0 memang agak berat diterima. Tetapi ini bagian dari sepak bola. Saat fase bertahan kami kehilangan konsentrasi, intensitas, dan agresivitas sehingga kami dihukum oleh pasukan Indonesia," ungkap Shukor.
Meski kalah, Shukor tidak ingin menyalahkan para pemainnya. Menurut dia, laga di Solo justru menjadi ajang evaluasi karena memberikan kesempatan kepada enam hingga tujuh pemain untuk menunjukkan kualitas mereka.
Ia juga mengungkapkan Malaysia hanya memiliki waktu persiapan selama dua hari sebelum bertolak ke Solo. Kondisi tersebut dinilai berpengaruh terhadap kebugaran pemain, terutama saat menjalani pertandingan kedua.
"Kami harus mengakui ada pemain yang tingkat kebugarannya menurun. Bukan untuk mencari alasan, tetapi kami harus memperbaikinya pada pemanggilan pemain berikutnya," jelasnya.
Baca Juga: Legenda Timnas Resmi Merapat, Persis Solo Umumkan Tiga Wajah Baru Resmi Masuk di Tim
Shukor turut menanggapi kartu merah yang diterima kapten timnya, Muhammad Fareez, pada penghujung pertandingan. Menurutnya, insiden tersebut merupakan bagian yang lumrah dalam sepak bola.
"Dalam sepak bola, kartu merah itu normal, kartu kuning juga normal. Bagi saya tidak ada apa-apa, mungkin situasi itu memang tidak disengaja," pungkasnya. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy