Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Surakarta Heru Sunardi mengakui masih ada kekurangan di pasar darurat. Tapi yang diterima pedagang saat ini merupakan hal yang sudah dioptimalkan.
"Satu yang belum bisa kita penuhi adalah penambahan daya listrik. Jadi ada listrik namun hanya untuk fasumnya. Kalau mau pasang pribadi bisa," terangnya di sela tasyakuran pemindahan pedagang mebel, Senin (23/5).
Heru minta pedagang bersabar menunggu pasar baru yang segera dibangun. “Anggaran mendahului perubahan sudah diajukan. Februari nanti (2023) bisa dilakukan peletakan batu pertama. Hitung-hitungannya (dana pembangunan) Rp 20 miliar,” katanya.
Disdag menargetkan tidak sampai setahun pasar baru bisa ditempati. Di lokasi tersebut akan diisi 85 kios dan 11 kios tambahan untuk memfasilitasi pedagang oprokan. “Tenang saja, proses produksi seperti finishing bisa dilakukan di lokasi pasar baru," ucap Heru.
Target pembangunan pasar mebel baru yang rampung kurang dari setahun juga disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surakarta Ahyani.
“Dinas terkait akan melayani bapak semua. Tidak sampai setahun dagang di pasar darurat. Kami sudah siapkan pembangunan pasar baru, mudah-mudahan tidak sampai setahun jadi," harapnya.
Sementara itu, Kelik Yuliantoro, salah seorang pedagang pasar mebel menuturkan, tidak tersedianya lokasi produksi di pasar darurat menjadi kendala.
“Tidak semua pedagang punya tempat produksi. Tanpa itu, seperti tak bisa kerja. Alternatifnya harus cari sendiri tempat untuk produksi. Mungkin nanti saya menumpang dulu di tempat produksi teman. Solusinya ya tinggal seperti itu,” katanya.
Sebab itu, Kelik berharap, pemerintah bisa merealisasikan janji pembuatan pasar mebel baru kurang dari setahun. Yang pasti, Kelik dan puluhan pedagang mebel lainnya membutuhkan lokasi produksi agar tidak mengganggu lingkungan. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram