Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Berkaca Persoalan TPA Putri Cempo Kota Solo: Kolaborasi Pemda, PLN, dan Swasta Sukses Bereskan Masalah Overload Sampah, Plus Bonus Listrik

Silvester Kurniawan • Rabu, 13 Desember 2023 | 05:08 WIB
Rombongan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka bersama perwakilan bupati se Solo Raya, didampingi PT SCMPP, PLN, dan Kementerian ESDM di PLTSa Kota Solo.
Rombongan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka bersama perwakilan bupati se Solo Raya, didampingi PT SCMPP, PLN, dan Kementerian ESDM di PLTSa Kota Solo.

RADARSOLO.COM – Senin, 30 Oktober 2023 lalu merupakan hari bahagia bagi warga Kota Solo. Mega proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kota Solo resmi dioperasikan.

PLTSa itu mulai menghasilkan listrik sebesar 8 megawatt yang sebagian besar produksinya dijual ke PLN, untuk kemudian disalurkan ke 5,5 juta jaringan listrik masyarakat di Solo dan sekitarnya.

Selang 1,5 bulan sejak hari itu, PLTSa Kota Solo secara konsisten terus memproduksi listrik sesuai yang diharapkan. Sebesar 5 megawatt dari total 8 megawatt yang dihasilkan mulai tersalurkan dengan apik ke jaringan Gardu Induk PLN di wilayah Palur, Kabupaten Sukoharjo, untuk kemudian di alirkan ke rumah-rumah warga.

Jaringan kelistrikan baru yang sengaja dipersiapkan agar PLN bisa menerima produksi PLTSa Kota Solo itu memang telah siap jauh-jauh hari.

Oleh sebab itu, saat semua prasyarat sudah dipenuhi, proses pendistribusian listrik itu langsung bisa dilakukan tanpa terkendala suatu apapun.

“Untuk penyaluran 5 megawatt yang kita jual ke PLN itu, kami sudah persiapkan jaringan penunjang agar bisa menyalurkan listrik ke Gardu Induk PLN di Palur sepanjang 6 kilometer dengan kategori tegangan menengah 20 KV. Kalau dialirkan ke jaringan rumah tangga 900 watt bisa 5,5 juta jaringan,” terang Direktur Utama PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP) Elan Syuherlan kepada Radarsolo.com.

Untuk menghasilkan tegangan listrik sebesar itu, sedikitnya PT SCMPP membutuhkan 545 ton sampah yang harus diolah setiap harinya, menggunakan empat mesin gasifier yang ada.

Sampah-sampah itu diambil dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo, Solo. Di mana, sudah sejak bertahun-tahun lalu TPA Putri Cempo dilanda persoalan pelik atas 2 juta ton sampah yang terus bertambah.

Gunungan sampah itu rawan memicu bencana kebakaran saat musim kemarau panjang dan masalah pencemaran lingkungan. Belum lagi kapasitas lahan yang tak lagi mampu menampung produksi sampah bisa teratasi.

Gunungan sampat di TPA Putri Cempo, yang kini bisa diproduksi menjadi energi lsitrik.
Gunungan sampat di TPA Putri Cempo, yang kini bisa diproduksi menjadi energi lsitrik.

Berdirinya PLTSa itulah yang akhirnya menjadi solusi bagi masalah pelik di TPA Putri Cempo. Lambat laun gunungan sampah akan terus berkurang karena setiap harinya digunakan untuk memproduksi listrik sebesar 8 megawatt tersebut.

PT SCMPP pun optimistis mampu membantu menyelesaikan persoalan sampah Kota Solo dalam 10 tahun ke depan, bahkan bisa lebih cepat.

“Kebutuhannya sekitar 545 ton sampah per hari. Diambilkan dari sampah baru sebesar 400 ton dan sampah lama 145 ton yang diolah terlebih dahulu," tutur Elan.

"Dalam 8-9 tahun ke depan, proses ini sudah bisa menutup biaya pembangunan dan operasional hariannya. Dan, dalam kurun waktu itu gunung sampah di TPA Putri Cempo akan terselesaikan, sehingga bisa mulai menerima sampah dari kabupaten sekitar,” imbuh dia.

Jika diingat-ingat, persiapan PLTSa Kota Solo telah dimulai sejak kepemimpinan Wali Kota Joko Widodo (Jokowi). Tahun 2010 lalu, Pemkot Solo mulai menyiapkan infrastruktur pendukung di area seluas 17 hektare yang ada di ujung timur Kota Bengawan tersebut.

Rencana itu akhirnya dieksekusi oleh Wali Kota Solo selanjutnya, FX Hadi Rudyatmo dengan menggandeng PT SCMPP. Hingga akhirnya pada 2019, pihak ketiga itu sukses menghasilkan listrik sebesar 5 megawatt.

Proses pengolahan sampah menjadi energi listrik itu pun terus disempurnakan di era Wali Kota Gibran Rakabuming Raka. Sampai pada 2022 lalu, PLTSa bisa menghasilkan 8 megawatt dari empat mesin gasifier yang ada.

Sejak itu, berbagai prasyarat dan proses perizinan dilakukan. Hingga akhirnya keseluruhan proses bisa dipenuhi pada Oktober 2023, dan diresmikan di penghujung bulan yang sama.

“Dari kementerian sudah sangat membantu kita ya, dari PLN juga sangat berkomitmen dengan proyek ini. Kontraknya sudah sudah beres dari jauh-jauh hari,” ucap terang Wali Kota Gibran.

Adanya Perpres Nomor 35/2018 tentang percepatan pembangunan PLTSa dan PSEL di 12 kota yang mengalami darurat sampah, memberikan pengaruh besar terhadap PLTSa Kota Solo.

Ini menunjukkan peran pemerintah dalam pemanfaatan energi baru terbarukan di berbagai wilayah di Indonesia.

“Dengan ini, permasalahan sampah di TPU Putri Cempo yang sudah overload bisa kita atasi. Begitu juga denga masalah bencana kebakaran dan pencemaran lingkungannya. Kalau sampah terolah menjadi listrik seperti ini otomatis bencana-bencana itu juga bisa kita tekan,” papar dia.

Rombongan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming bersama perwakilan bupati se Solo Raya, didampingi PT SCMPP, PLN, dan Kemen ESDM melihat operasional mensin gasifier yang mengolah sampah jadi energi listrik
Rombongan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming bersama perwakilan bupati se Solo Raya, didampingi PT SCMPP, PLN, dan Kemen ESDM melihat operasional mensin gasifier yang mengolah sampah jadi energi listrik

Gibran optimistis PLTSa Putri Cempo bisa memberikan manfaat yang besar untuk masalah pengelolaan sampah di Solo dan sekitarnya. Serta akan berkontribusi pada masyarakat melalui listrik yang disalurkan lewat PLN.

Dalam beberapa tahun ke depan, ia menyakini pemanfaatan PLTSa akan menjangkau daerah yang lebih luas dan mulai bisa menerima kiriman sampah dari daerah lain.

Oleh sebab itu, kerja sama semacam ini mulai dijajaki dengan sejumlah kabupaten sekitar.

“Wilayah-wilayah tetangga di Solo Raya sudah berkomitmen kalau lima tahun ke depan akan mengirimkan sampahnya ke sini. Tapi sekarang kita fokus menghabiskan gunungan sampah yang ada di sini dulu. Sampai menunggu waktunya, kesepahamannya mulai kita ikat dari sekarang," papar Gibran.

"Yang jelas, ini bukan solusi untuk Solo saja, tapi untuk bersama. Bahkan kalau perlu sampah dari Jogjakarta bisa kita tampung juga. Jadi biar semuanya bisa menikmati alat gasifier ini,” imbuh dia.

Atas beroperasinya PLTSa Kota Solo yang dibangun dengan anggaran senilai Rp 330 miliar itu, menjadi bukti kolaborasi apik antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan pihak swasta.

PLN bersama PT SCMPP pun telah menyepakati jual beli listrik sebesar USD 13,35 sen per kwh atau setara Rp 1.800 per kwh. PLN juga siap menyerap listrik untuk disalurkan pada masyarakat luas.

“Kami all out dalam mendukung sisi teknis dan kebutuhan pembangunan PLTSa ini,” kata Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo saat berkunjung ke PLTSa Kota Solo, beberapa waktu lalu sebelum peresmian.

Solusi TPA Putri Cempo, PLTSa Bisa Jadi Percontohan di Masa Depan

Di Solo, seluruh sampah yang diproduksi mengandalkan TPA Putri Cempo sejak 1985 silam. Sayangnya, sejak 2010 lalu, tempat pembuangan akhir itu dinyatakan overload atau kelebihan kapasitas sehingga perlu segera dicarikan solusinya.

Saat itulah, PLTSa Kota Solo jadi satu-satunya solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan 2 juta ton sampah yang menumpuk di Kota Bengawan

Kepala UPT Pengelolaan TPA Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo Edi Suparmanto mengatakan, tiga hingga empat tahun ke depan TPA Putri Cempo tak akan lagi mampu menampung produksi sampah harian, jika PLTSa tidak segera beroperasi.

“Lahan 17 hektare ini sejak 2010 sudah dinyatakan overload, baik secara sanitary landfill (menggali lubang dan menutup sampah dengan tanah) maupun secara control landfill (menutup sampah dengan tanah),” terang dia.

Sejak itu, pengelolaan sampah di TPA Putri Cempo hanya mengandalkan metode open dumping atau menumpuk sampah secara terbuka.

“Beruntung sekali, tidak lama setelah itu bisa diresmikan PLTSa-nya. Ini bisa jadi solusi overcapacity yang terjadi selama ini,” terang dia saat ditemui di waktu berbeda,” papar Edi.

Dijelaskan dia, banyak dampak negatif yang akan timbul saat TPA Putri Cempo tak lagi mampu menampung produksi sampah harian yang dihasilkan masyarakat.

Selain faktor pencemaran lingkungan, Kota Solo juga akan kesulitan mengalihkan sampah-sampah yang dihasilkan. Apalagi jika tidak mendapat izin untuk bisa mengalihkan sampah ke TPA di wilayah lain.

“Perluasan wilayah tidak mungkin dilakukan karena (TPA) letaknya berada di ujung batas wilayah Kota Solo dan padat permukiman penduduk. Satu-satunya solusi ya dengan adanya PLTSa ini," ujar dia.

"Kalau semuanya lancar, dalam 10 tahun ke depan tumpukan sampah di TPA Putri Cempo bisa terselesaikan,” imbuh Edi.

Dengan demikian, permasalahan akibat sampah yang menggunung bisa terselesaikan dengan baik.

Selain itu, permasalahan kebakaran sampah yang mengintai setiap musim panas, persoalan bau menyengat saat musim hujan, hingga penurunan kualitas air tanah dan lainnya bisa teratasi dengan baik.

“Dengan PLTSa ini, sampah baru teratasi, sampah lama juga ada solusinya. Saya yakin beberapa tahun awal ini akan mulai terasa dampaknya sampai tumpukan sampah bisa habis dan lingkungan benar-benar jadi lebih asri,” kata Edi.

Terpisah, Pakar Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof Dr Ir Prabang Setyono, Ssi, Msi, CEIA, IPM mengaku, sudah tak khawatir tentang permasalahan overload yang ada di TPA Putri Cempo.

Ini mengingat Solo sudah memiliki teknologi canggih untuk menangani sampah menggunung itu. Hebatnya, kecanggihan teknologi yang dimiliki ini tak hanya bisa menuntaskan persoalan sampah. Namun juga bisa memberikan bonus berupa energi listrik yang dihasilkan.

“Kekhawatiran soal TPA Putri Cempo ditutup karena kelebihan kapasitas seperti yang terjadi di TPA-TPA lain, saya rasa tidak akan sampai seperti itu. Kita sudah punya teknologinya, permasalahan sampah itu pasti akan terselesaikan. Malah kita dapat bonus karena sampahnya bisa diolah jadi listrik,” papar dia.

Menurutnya, teknologi yang ada di Solo ini merupakan solusi yang terbaik karena yang dipakai sudah menggunakan gasifier. Gasifier itu merupakan teknologi yang paling baik dalam pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Bahkan, jauh lebih baik jika dibandingkan dengan yang ada di Surabaya. Karena, kata Prabang, di Surbaya sebagian proses pengolahannya masih menggunakan incinelator yang menghasilkan emisi.

"Teknologi di Solo ini murni gasifikasi. Ini pertama di Indonesia dan jadi pilot project, yang tentunya akan direplikasi dengan skala yang lebih besar di wilayah lain,” tandas Prabang. (ves/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#gasifier #pltsa #pln #tpa putri cempo #kota solo #listrik #sampah