RADARSOLO.COM - Salah satu sentra industri di Kampung Batik Laweyan kini menciptakan batik untuk sampul Alquran. Hal ini menyusul batik mushaf Alquran yang telah selesai lebih dahulu.
"Sampul dari batik Alquran akan dibuat sebagai penanda masing-masing juz. Sehingga nanti ada 30 lembar dengan desain motif batik dan warna yang berbeda-beda," terang Muhammad Taufan, manager produksi Mahkota Batik Laweyan, Kamis (14/3/2024).
Taufan menjelaskan, desain sampul akan mengikuti motif batik pada masing-masing juz.
“Kami buat per juz motifnya berbeda, seperti parang, truntum, kawung, dan kontemporer lainnya yang kami kombinasikan. Yang mana motif batik ini menghiasi ayat Alquran," paparnya.
Dalam pengerjaannya memakan waktu 1-3 hari untuk satu motif sampul Alquran. Selain itu, dari lima perajin batik yang dilibatkan, ada yang merupakan penyandang tuli.
"Sekitar satu sampai lima orang perajin batik dengan bagian masing-masing. Ada yang menjiplak, membatik, dan mewarnai," imbuhnya.
Sebagai pengingat, Alquran ini dibuat selama empat tahun melalui proses pembuatan panjang dan rumit sejak 2016 hingga 2020. Pembuatan batik Alquran ini berawal saat mereka kedatangan tokoh masyarakat. Dalam kesempatan itu, mereka berdiskusi dengan owner Mahkota Batik Laweyan Alpha Febela membuat program Alquran Follow The Line.
“Itu Alquran yang ditulis tipis-tipis. Diperuntukkan untuk kaum muslimin yang ingin belajar membaca dan menulis. Dengan adanya itu, kami terinspirasi membuat salah satu hasil mahakarya yang belum ada sebelumnya. Yaitu batik Alquran. Alhamdulillah sampai saat ini sudah selesai 30 juz,” imbuhnya.
Taufan menjelaskan, adanya penambahan batik sampul Alquran ini untuk menegaskan maksud dan penafsiran motif batik tiap juz agar bisa dipahami wisatawan. Taufan berharap, hal tersebut menjadi nilai tambah mengingat kampung batik laweyan memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal hingga mancanegara.
"Fokus kami ingin memperlihatkan bahwa belajar membaca Alquran bisa lewat media batik. Dan itu akan menjadi kolaborasi yang baik antara dakwah dan pengembangan budaya Indonesia," jelasnya. (zia/bun)
Editor : Kabun Triyatno