Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Keluarga Korban Leptospirosis Jelaskan Kronologis Ibunya Meninggal Dunia, Sempat Menerka-Nerka Ini Penyakit Apa

Antonius Christian • Minggu, 24 Maret 2024 | 20:35 WIB
Ilustrasi bahaya leptospirosis.
Ilustrasi bahaya leptospirosis.

RADARSOLO.COM - Keluarga SH, warga Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Solo yang meninggal dunia karena diduga terpapar Leptospirosis masih dirundung duka.

Asih Tuti Mei Tini, 39, putri SH mengakui, tak menyangka sang ibu meninggal dalam waktu yang singkat sejak menunjukkan gejala. Kejadian ini membuat keluarga syock.

"Tetangga-tetangga juga kaget, wong ibu itu tidak pernah sakit, tahu-tahu meninggal," ungkap kepada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (24/3/2024).

Tuti mengatakan awalnya gejalan mulai muncul pada Minggu (17/3) pekan lalu. Di mana SH menghubungi Tuti karena merasa kurang enak badan.

"Saya dan ibu sudah beda rumah. Minggu Ibu telepon, katanya badanya demam, pusing, dan mual. Mau muntah tidak bisa," paparnya.

Sang ibu juga mengaku pegel-pegel sendinya. Akhirnya dibeliin obat, namun belum 100 perzen sembuh. Senin sudah bisa aktifitas, dari masak nasi, dan merapihkan rumah.

Sang ibu putuskan juga tidak berangkat kerja. Wanita 60 tahun tersebut sehari-hari bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di sebuah rumah makan.

"Selasa (19/3) nelepon saya lagi, katanyanawak e wes ra kuat (badamnya sudah tidak kuat)," kata Tuti.

Akhirnya SH diantar Tuti ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Fatmawati Soekarno, Ngipang. Sesampainya di rumah sakit, sekira jam 09.00 langsung dapat penanganan dan dianjurkan untuk melalukan rawat inap.

"Itu awalnya diagnosanya DB, terus diambil sampel darahnya," katanya.

Rabu (20/3) kondisi SH semakin memburuk, hingga akhirnya harus melanjutkan perawatan di ruang ICU di rumah sakit tersebut. Hingga akhirnya sekitar pukul 18.00, SH menghembuskan nafas terakhirnya.

"Setelah itu baru mendapat penjelasan kalau ibu meninggal karena itu (leptospirosis)," katanya.

Tuti lantas mendapat penjelasan dari dokter terkait penyebab virus tersebut bisa menjangkiti tubuh manusia. Di mana bisa masuk dari luka yang terbuka. Namun sepengetahuan Tuti, sejak dinyatakan meninggal tidak ada bekas luka ditubuh sang ibu.

"Cuma ya telapak kakinya kering, terus pecah-pecah," ungkapnya
Ditambahkan Tuti, adik dari SH juga pernah terjangkit virus tersebut, namun hal tersebut terjadi karena rumah dari adik SH terendam banjir.

"Kalau adiknya ibu rumahnya memang dibantaran kali, tapi kalau disini dari sungai jauh. Tidak pernah banjir juga. Ada genangan saja tidak pernah," katanya.

Tuti tidak mengetahui virus yanh didapat ibunya dari masa asalnya.

"Keluarga sudah menerima dengan Ikhlas, mungkin sudah jalan takdir ibu seperti ini," keluhnya. (atn/nik)

Editor : Niko auglandy
#Demam Berdarah #leptospirosis #penyakit #kencing tikus