Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Beda! Misa Malam Paskah di Gereja Mantan Wali Kota Solo Ini Gunakan Bahasa Jawa, Jemaat: Kaget tapi Unik

Antonius Christian • Minggu, 31 Maret 2024 | 01:27 WIB
Misa malam Paskah yang digelar di Paroki Santa Perawan Maria Regina Purbowardayan, Sabtu (30/3).
Misa malam Paskah yang digelar di Paroki Santa Perawan Maria Regina Purbowardayan, Sabtu (30/3).

RADARSOLO.COM - Seluruh umat Nasrani menjalankan ibadah Paskah pada Sabtu (30/3).

Malam Paskah disambut sukacita karena memperingati kebangkitan Kristus yang berhasil melawan alam maut.

Seperti yang terlihat di Paroki Santa Perawan Maria Regina Purbowardayan, Solo Sabtu sore.

Terlihat ribuan umat Nasrani mulai memadati area dalam serta tenda-tenda yang dibangun panitia Paskah di luar gereja.

Ada yang unik di gereja yang beralamat di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Tegalharjo, Kecamatan Jebres, Solo itu.

Di mana pada misa malam Paskah pertama dirayakan dengan adat Jawa kental.

Misa diselenggarakan menggunakan bahasa Jawa Inggil, mulai awal hingga akhir.

Misa dipimpin oleh Pastor Paroki Santa Perawan Maria Regina Purbowardayan Romo Yosef Supriyanto, Pr sekitar pukul 17.00.

Nuansa Adat Jawa semakin kental terasa, ketika paduan suara yang mengiringi ibadah juga menggunakan lagu-lagu rohani yang telah diaransemen menggunakan langgam Jawa.

Lengkap dengan gamelan sebagai pengiringnya.

Ibadah sendiri dimulai dengan iring-iringan petugas misa mulai dari putra Altar disusul Prodiakon.

Di mana salah satu prodiakon yang bertugas pada misa sore ini adalah Mantan Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo.

Setelah itu, dimulai proses penyalaan lilin paskah oleh Romo Supriyanto di depan pintu gereja. Diikuti oleh ribuan jemaat lainnya

Dari situ, misa pun lantas dimulai. Terlihat jemaat terlarut dalam misa yang kental dengan budaya Jawa ini.

Ditemui sebelum memulai misa, Supriyanto mengatakan bahwa Paroki Santa Perawan Maria Regina Purbowardayan sengaja menggelar misa dengan bahasa Jawa.

Tujuannya agar umat Katholik yang ada di paroki tersebut tidak lupa dengan akar budaya.

"Karena kita berada di Solo, dan Solo itu kental dengan budaya Jawa. Oleh karena itu, kita tidak ingin umat lupa dengan budaya Jawa, terutama umat muda kita," tutur dia.

Dikatakan Supriyanto, secara keseluruhan jumlah umat Katholik yang berada di lingkungan Purbowardayan berjumlah hampir 15 ribu jemaat.

"Umat kita cukup banyak ya," katanya.

"Belum lagi ditambah umat di luar paroki yang datang untuk ikut merakayan misa. Karena setelah pandemi selesai, kita sudah membuka diri, dalam arti, umat di luar paroki bisa ikut merayakan ibadah digereja kami," ujarnya.

Sebelum menggelar Paskah, umat Nasrani sebelumnya juga menjalani puasa dan pantang selama 40 hari.

Di mana saat puasa ini, uang yang biasanya digunakan untuk membeli makanan atau minuman, akan ditabung.

"Uang tabungan selama 40 hari ini akan disalurkan gereja ke saudara-saudara kita yang membutuhkan. Sehingga bisa sama-sama merayakan Paskah dengan sukacita," kata dia.

Hal senada diungkapkan Hari Susanto, Ketua Panitia Paskah Purbowardayan.

Dia menyebut, misa menggunakan bahasa Jawa ini sudah dilaksanakan sejak paroki itu berdiri.

"Tidak hanya saat Paskah, (misa dengan bahasa Jawa) juga dilakukan pada malam Natal, serta misa Minggu pagi pekan kedua setiap bulannya," terang dia.

Sementara itu, Theresia Ngamel, salah satu jemaat yang mengikuti misa mengaku cukup kaget dengan misa yang digelar sore ini.

Maklum, dirinya memang jemaat di luar paroki tersebut.

"Asalnya NTT, kuliah di UNS, ngekos di Ngoresan. Ke sini sama teman-teman NTT yang kuliah di Solo," katanya.

Menurutnya misa menggunakan bahasa Jawa ini cukup unik, meski dia tidak mengerti artinya.

"Tapi menurut saya ini unik. Kita yang dari luar jadi tahu budaya yang ada di Solo ini. Cukup bisa menghayati, meski tidak tahu artinya," ungkapnya singkat. (atn/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#gereja #paroki #FX Hadi Rudyatmo #Paskah #bahasa jawa #purbowardayan