RADARSOLO.COM – Krisis sampah di TPA Putri Cempo Solo kian mengkhawatirkan. Kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) yang sudah overload memaksa Pemerintah Kota (Pemkot) Solo bergerak mencari solusi. Salah satu langkah yang diambil adalah menekan volume sampah dari sumber utama, khususnya di lima kelurahan yang mencatat produksi sampah tertinggi.
Wali Kota Surakarta Respati Ardi mengungkapkan bahwa lima kelurahan penyumbang sampah terbesar berdasarkan rasio produksi sampah harian per kapita adalah Kelurahan Sriwedari, Kestalan, Penumping, Keprabon, dan Kauman.
Menariknya, wilayah-wilayah tersebut bukanlah kelurahan dengan populasi terbesar di Solo, melainkan kawasan dengan aktivitas bisnis dan konsumsi tinggi seperti perhotelan, restoran, dan pusat perbelanjaan.
"Kami menemukan fakta menarik bahwa lima kelurahan ini bukanlah yang paling padat penduduk atau luas wilayahnya paling besar, tetapi produksi sampahnya justru tertinggi. Kemungkinan besar ini dipengaruhi oleh aktivitas komersial yang tinggi," ujar Respati Ardi, Senin (17/3).
Pemkot Solo kini menggenjot program pengelolaan sampah di lima kelurahan tersebut dengan pendekatan berbasis daur ulang dan manajemen limbah komersial. Fokusnya adalah memilah sampah dari sumbernya, terutama di sektor bisnis dan konsumsi rumah tangga.
"Solusinya adalah pengurangan sampah sejak dari hulu. Jika tidak, TPA Putri Cempo yang sudah penuh akan semakin terbebani," tambah Respati.
Saat ini, pengelolaan sampah di Solo sudah dibagi sesuai sektor. Sampah di jalan protokol dan fasilitas umum ditangani oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo. Sampah dari pedagang kaki lima (PKL) berada di bawah dinas perdagangan dan sampah rumah tangga menjadi tanggung jawab kelurahan.
Namun, Kepala DLH Kota Solo Kristiana Hariyanti menyoroti persoalan utama masih banyak pelaku usaha yang belum menjalankan kewajibannya dalam mengelola sampah secara mandiri.
"Regulasi sebenarnya sudah jelas. Sampah dari industri dan usaha harus mereka buang sendiri ke TPA, tetapi praktiknya masih ada yang abai. Jika tidak ada upaya pengelolaan di hulu, sementara hilir sudah penuh, ini akan jadi masalah besar," tegas Kristiana.
Untuk mengatasi hal ini, Pemkot Solo mendorong pendekatan lebih ketat kepada pelaku usaha agar bertanggung jawab atas limbah yang mereka hasilkan. Sejumlah langkah seperti pemberian insentif bagi usaha yang menerapkan daur ulang, serta penguatan pengawasan terhadap pembuangan sampah ilegal, sedang disiapkan.
Sampah yang terus menumpuk di TPA Putri Cempo bukan hanya ancaman lingkungan, tetapi juga menguji kapasitas Solo dalam mengelola limbah secara berkelanjutan. Jika tidak segera ada langkah konkret, kota ini akan menghadapi krisis sampah yang lebih besar di masa depan. (ves/bun)
Pemasok Sampah Terbanyak di Kota Solo
- Kelurahan Sriwedari 0,82 kg
- Kelurahan Kestalan 0,81 kg
- Kelurahan Penumping 0,79 kg
- Kelurahan Keprabon 0,77 kg
- Kelurahan Kauman 0,73 kg
*Berdasar Rasio Produksi Sampah Harian per Kapita
Editor : Kabun Triyatno