Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Tradisi Joko Tingkir dan Ketupat Jadi Magnet Grebeg Syawal di Solo, Begini Keseruannya

Silvester Kurniawan • Senin, 7 April 2025 | 02:43 WIB
Atraksi budaya Joko Tingkir naik getek, yang menjadi daya tarik utama Grebeg Syawal, Minggu (6/4/2025).
Atraksi budaya Joko Tingkir naik getek, yang menjadi daya tarik utama Grebeg Syawal, Minggu (6/4/2025).

RADARSOLO.COM- Pemkot, Keraton Solo, dan Solo Safari kembali menggelar Grebeg Syawal dengan berbagai tradisi khas, Minggu (6/4/2025).

Kegiatan yang menjadi agenda tahunan pasca Idul Fitri dimeriahkan dengan Gunungan Ketupat dan atraksi budaya Joko Tingkir naik getek, yang menjadi daya tarik utama.

Acara Grebeg Syawal selalu menjadi momen yang dinantikan warga maupun wisatawan.

Ribuan pengunjung memadati kawasan Solo Safari untuk menyaksikan kilas balik kisah Joko Tingkir, tari-tarian tradisional, hingga aksi berebut ketupat dari gunungan.

Wakil Walikota Solo Astrid Widayani turut hadir dan memberikan apresiasi terhadap gelaran budaya yang sarat nilai dan makna itu.

“Acaranya bagus sekali, tetap melestarikan budaya. Seperti biasa ada Joko Tingkir naik getek. Saya memberi masukan ke manajemen Solo Safari agar bisa menyuguhkan tari-tarian tematik seperti tari merak,” beber Astrid.

Dia berharap, kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi hiburan. Tetapi juga sebagai upaya nyata pelestarian kearifan lokal.

“Ini bukti bahwa Solo mampu menggabungkan religi, budaya, edukasi, dan pariwisata dalam satu harmoni,” lanjutnya.

Astrid menekankan pentingnya menjaga identitas budaya dalam kawasan wisata, khususnya di Solo Safari.

“Solo Safari tidak boleh lepas dari budaya, terutama tari-tarian Solo yang berkaitan dengan alam, tumbuhan, dan hewan. Ke depan, saya harap lebih banyak event seni dan budaya digelar di sini,” imbuhnya.

Puncak acara Grebeg Syawal ditandai dengan aksi berebut Gunungan Ketupat yang disambut antusias warga.

Baca Juga: Arus Balik ke Semarang dan Solo Padati Sukoharjo, Sepeda Motor Masih Mendominasi

Ribuan ketupat yang disusun dalam bentuk gunungan ludes dalam hitungan menit.

Warga percaya, ketupat tersebut membawa berkah Lebaran.

KGPHA Dipokusumo, adik dari Raja Keraton Solo Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi menuturkan, tradisi Grebeg Syawal sudah berlangsung sejak masa PB X.

“Grebeg Syawal atau Bakdo Kupat ini sebagai bentuk syukur dan silaturahmi setelah sebulan menjalankan puasa,” ucapnya. (ves/wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#grebeg syawal #tradisi #joko tingkir