RADARSOLO.COM - Tak selalu manis, kepahitan pernah melanda Wayang Orang Sriwedari (WOS).
Ada masanya gamelan berdentang untuk kursi kosong.
Wayang Orang Sriwedari pernah menyajikan kisah Mahabharata hanya untuk lima pasang mata, bahkan pernah tanpa satu pun penonton. Bagaimana dahulu ceritanya?
Masih teringat jelas di benak Harsini, seberapa sepinya pementasan Wayang Orang Sriwedari di tahun 90-an.
Itulah masa-masa yang susah dilupakan sepanjang 35 tahun membersamai pertunjukan khas Kota Bengawan ini.
Perjuangan rekan-rekannya kekal abadi di hati Harsini.
"Waktu itu saya masih baru di Wayang Orang Sriwedari. Kebetulan saat itu waktu surutnya Wayang Orang Sriwedari. Penontonnya hanya lima orang, satu orang saja pernah, sama sekali tidak ada penonton juga pernah mengalami," cerita sosok yang pernah didapuk sebagai salah satu pemeran WOS itu.
Jejeran seniman tak diam saja. Mereka berputar otak seiring berkembangnya zaman. Bukan hal mudah, mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali bangkit dan menarik minat pengunjung yang datang.
"Itu sekira 90-an sampai 1995-1996. Dahulu kami berusaha gimana caranya mengatasi hal seperti ini, kebetulan itu kita banyak pemain-pemain yang sepuh, tapi kami berusaha semaksimal mungkin. Akhirnya pada 2006 kami baru bisa bangkit kembali," lanjutnya.
Perjuangannya memang luar biasa. Harsini menyadari betul, dahulu persoalannya karena kurang pengiklanan. Sementara pada zaman tersebut, masa transisi masyarakat mulai mengenai dunia gadget.
"Itu sudah ada banyaknya tontonan melalui handphone, televisi, bioskop kala itu agak berkurang juga. Sekarang sudah bersahabat dengan digital. Pada kala itu belum tahu mengenai hal tersebut," ucapnya.
Sekarang ini, Wayang Orang Sriwedari semakin mengikuti perkembangan zaman. Alhasil, penonton pun terus berdatangan. Mulai dari anak-anak, remaja, orang tua, hingga pengunjung mancanegara mulai jatuh cinta pada kisah klasik yang tak lekang oleh zaman.
"Tahun ini yang jelas merasa terhibur karena tahun ke-115 ini penonton semakin banyak, semakin dari kalangan anak-anak, remaja, orang dewasa antusias melihat Wayang Orang Sriwedari," terang Harsini.
Mereka juga tak akan rugi datang ke Gedung Wayang Orang Sriwedari. Bukan hanya sekadar hiburan, setiap adegan Wayang Orang Sriwedari adalah cermin kehidupan.
"Bagi saya, WOS banyak memberikan pelajaran kehidupan setiap harinya. Wayang kan gambaran dari kehidupan manusia setiap harinya, banyak yang harus dipelajari untuk itu," lanjutnya.
Ke depan, Harsini berharap Wayang Orang Sriwedari semakin dikenali oleh khalayak umum.
"Harapannya agar semakin dikenali, pemain-pemainnya semakin bertanggung jawab dengan apa yang menjadi kewajibannya. Menjadi seorang seniman yang harus membawa Wayang Orang ini lebih maju, dikenal masyarakat luas, meski sekarang sudah banyak, tapi harus mempertanggungjawabkan ini semua," tuturnya. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy