Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Dolanan Lempung, Jadi Upaya Museum Radya Pustaka untuk Bisa Tetap Hidup

Alfida Nurcholisah • Minggu, 3 Mei 2026 | 19:21 WIB
CERIA: Anak-anak bermain lempung dalam pembelajaran membuat gerabah di Museum Radya Pustaka. (ALFIDA NURCHOLISAH/RADAR SOLO)
CERIA: Anak-anak bermain lempung dalam pembelajaran membuat gerabah di Museum Radya Pustaka. (ALFIDA NURCHOLISAH/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Momentum Hari Pendidikan Nasional dimanfaatkan Museum Radya Pustaka untuk menghadirkan inovasi baru. Bertepatan dengan 2 Mei, museum tersebut resmi meluncurkan program “Dolanan Lempung”, yang merupakan kegiatan edukatif berbasis kerajinan gerabah.

Kepala UPTD Museum Kota Solo Bonita Rintyowati mengatakan, program ini menjadi agenda rutin yang digelar setiap Sabtu mulai pukul 09.00 pagi. Kegiatan terbuka untuk umum, dengan sasaran utama anak-anak hingga orang tua.

“Ini salah satu upaya kami menghadirkan aktivitas baru agar museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan, tetapi juga ruang belajar yang hidup,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).

Baca Juga: Persis Solo Dihantam Bola Mati, Jurang Degradasi Kian Menganga: Ini Komentar Milomir Seslija dan Pelatih Malut United

Bonita menjelaskan, tema gerabah diangkat karena Museum Radya Pustaka memiliki koleksi gentong yang diperkirakan berasal dari abad ke-8. Koleksi tersebut menjadi pijakan untuk menghadirkan pembelajaran berbasis praktik langsung.

"Selama ini, museum juga dikenal dengan berbagai kegiatan seperti wilujengan wuku, bedah Serat Centhini, hingga atraksi tempa keris. Tahun ini, pendekatan diperluas dengan menghadirkan aktivitas kreatif yang lebih interaktif," katanya.

Baca Juga: Tim Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS Bangkitkan Asa Batik Ciprat Gonoharjo Kendal melalui Inovasi Teknologi

Menurut Bonita, kegiatan gerabah memiliki banyak manfaat. Selain melatih motorik anak, aktivitas ini juga melatih kesabaran dan keterlibatan orang tua.

"Program ini digratiskan, dengan kuota dibatasi 25 peserta setiap pertemuan. Antusiasme masyarakat disebut cukup tinggi, bahkan pendaftaran langsung penuh hingga tiga bulan ke depan sejak dibuka.

Baca Juga: Efek Makkah Route: Jemaah Haji Embarkasi Solo yang Sakit di Medan Harus Kembali ke Titik Awal Pemberangkatan untuk Stempel Ulang

“Banyak sekolah yang mendaftar dalam jumlah besar, bahkan dari mahasiswa juga ada yang ikut,” jelasnya.

Meski kegiatan gratis, pengunjung tetap dikenakan tiket masuk museum sebesar Rp10 ribu untuk umum dan Rp 7,5 ribu bagi pelajar. "Semua sekolah boleh mendaftar baik dari Solo maupun luar daerah," imbuhnya.

Dia berharap inovasi tersebut mampu meningkatkan jumlah kunjungan sekaligus memperkuat citra museum sebagai ruang edukasi interaktif. “Kami ingin museum semakin dikenal dan diminati. Benda-benda yang ada di museum harus bisa hidup melalui kegiatan kreatif,” tegasnya. (alf/nik)

Editor : Niko auglandy
#Radya Pustaka #Edukatif #museum