RADARSOLO.COM - Belanja boleh-boleh saja, asal sesuai kebutuhan. Tapi jika belanja sudah menjadi candu, ujung-ujungnya rumah tangga retak.
Inilah yang memicu Temon menalak cerai istrinya, Sipon.
Majelis hakim Pengadilan Agama (PA) Kota Solo mengetok palu talak cerai yang diajukan Temon. Warga Kecamatan Banjarsari, Solo ini geram lantaran penyakit Sipon yang shopaholic alias kecanduan belanja online.
Awalnya, Temon tidak masalah dengan kebiasaan belanja Sipon. Ia menganggap itu sebagai bentuk perhatian terhadap istrinya.
Baca Juga: Balada Temon Dan Sipon: Gara-Gara Video Prank
“Awalnya saya santai saja. Namanya juga orang punya hobi belanja, saya pikir masih wajar,” ujar Temon.
Namun, kebiasaan tersebut semakin sering terjadi. Dampaknya langsung terasa di isi dompet. Keuangan Temon jadi besar pasak daripada tiang.
Sialnya, barang yang dibeli Sipon tidak terlalu dibutuhkan di rumah.
Baca Juga: Balada Temon Dan Sipon: Gara-Gara Percaya Ramalan Nasib
“Paket datang hampir setiap hari. Setelah dibuka, isinya barang yang sebenarnya sudah punya. Ada juga barang yang belum tentu dipakai,” keluh Temon.
Temon sering dikejutkan dengan barang-barang belanjaan Sipon yang menumpuk di rumah.
Mulai dari peralatan dapur, perlengkapan rumah tangga, hingga berbagai produk yang masih tersimpan dalam kemasan.
“Pernah beli rak penyimpanan baru, karena katanya barang terlalu banyak. Tapi setelah itu malah belanja lagi untuk mengisi raknya,” beber Temon sembari tersenyum kecut.
Menurut Temon, persoalan utama bukan pada nominal belanja semata. Melainkan kebiasaan shopaholic Sipon yang tergoda promosi atau tren.
“Kalau ada diskon besar, pasti tertarik dan beli. Kalau ada barang yang viral, ingin mencoba. Padahal belum tentu butuh,” jelasnya.
Meredam gejolak rumah tangga, sudah berkali-kali Temon mengajak Sipon diskusi agar lebih selektif saat berbelanja. Namun, ujung-ujungnya tanpa ada perubahan berarti.
Baca Juga: Kebun Binatang Pindah ke Rumah, Sipon Merajuk Gugat Cerai Temon
“Setiap kali saya ingatkan, jawabannya selalu sama. Katanya belanja yang terakhir. Tapi beberapa hari kemudian datang paket lagi,” ujarnya.
Kondisi ini perlahan memicu ketegangan dalam rumah tangga. Ia merasa kesulitan menyusun prioritas keuangan keluarga, karena pengeluaran yang sia-sia.
“Kadang kami menabung untuk sesuatu, tapi ada pengeluaran lain yang muncul karena belanja spontan,” ketus Temon.
Seiring berjalannya waktu, persoalan tersebut kian meruncing. Perdebatan berujung pertengkaran sering pecah.
Meski sepele, Temon mengaku kebiasaan itu berlangsung bertahun-tahun
“Orang mungkin menganggap ini hanya soal belanja. Tapi kalau terus-terusan, yang keuangan keluarga berantakan,” bebernya.
Bagi Temon, perpisahan ini menjadi pelajaran. Membina rumah tangga bukan semata urusan cinta dan kasih sayang.
Kesamaan cara pandang dalam mengelola keuangan juga sama pentingnya.
“Bukan soal barangnya, tapi kebutuhannya. Ternyata pemikiran saya dan dia sudah beda jauh,” ujarnya. (atn/fer)
Editor : fery ardi susanto