RADARSOLO.COM - Terseret tren fear of missing out (FOMO) sah-sah saja. Tapi jika FOMO terjadi dalam kehidupan rumah tangga, ujung-ujungnya palu majelis hakim pengadilan agama (PA) diketok ke meja.
Kisah ini dialami pasangan suami istri (pasutri) Temon dan Sipon, warga Kecamatan Jebres, Solo.
Sudah bertahun-tahun Temon dan Sipon menjalin bahtera rumah tangga. Sayangnya, keharmonisan keduanya perlahan retak.
Penyebabnya kebiasaan Sipon yang terlalu FOMO alias ikut-ikutan tren di internet atau media sosial (medsos).
Baca Juga: Balada Temon dan Sipon: Candu Belanja Online
Majelis hakim PA Solo kabulkan talak cerai Temon, setelah menilai hubungannya dengan Sipon tak lagi harmonis dan sulit dipertahankan.
Ditemui usai sidang, Temon mengaku awalnya tidak mempermasalahkan kebiasaan istrinya yang aktif mengikuti perkembangan medsos.
Baca Juga: Balada Temon Dan Sipon: Gara-Gara Video Prank
Namun lama-kelamaan, hampir setiap tren yang viral selalu ingin dicoba oleh Sipon.
“Selalu ingin tahu hal-hal baru. Awalnya biasa saja,” hemat Temon.
Menurut Temon, kebiasaan tersebut semakin sering terjadi hingga memengaruhi kehidupan sehari-hari.
“Kalau ada metode menata rumah yang viral, langsung diikuti. Minggu depan ada tren lain, berubah lagi. Belum selesai yang satu, sudah pindah ke yang lain,” bebernya.
Temon mengaku tak hanya soal gaya hidup. Berbagai keputusan kecil dalam rumah tangga juga kerap dipengaruhi konten yang sedang ramai diperbincangkan di internet.
“Kadang habis lihat video, langsung ingin mencoba. Besok lihat video lain, berubah pikiran lagi,” ujarnya.
Temin sering kebingungan karena rencana yang sudah disusun bersama, mendadak berubah gara-gara FOMO.
“Pernah kami sudah sepakat membeli sesuatu, tapi batal. Ya karena ada rekomendasi baru dari internet yang lebih bagus,” bebernya.
Baca Juga: Balada Temon Dan Sipon: Gara-Gara Percaya Ramalan Nasib
Menurut Temon, persoalan utama bukan pada tren itu sendiri, melainkan sulitnya mempertahankan keputusan dalam jangka panjang.
“Kalau semuanya berubah mengikuti apa yang sedang viral, hidup jadi tidak punya arah yang jelas,” sesalnya.
Sejatinya, Temon sudah beberapa kali mencoba mengingatkan agar Sipon tak terlalu FOMO. Namun, perbedaan pandangan tersebut justru sering memicu perdebatan.
“Dia merasa sedang belajar hal baru. Padahal saya pribadi merasa, kami terlalu mudah terpengaruh internet,” ujarnya.
Perlahan, konflik kecil tersebut terus berulang dan berkembang menjadi ketegangan dalam rumah tangga.
Temon merasa kehidupan mereka lebih sering mengikuti tren orang lain daripada kebutuhan keluarga sendiri.
“Kadang saya bilang, ini menjalani hidup atau mengejar apa yang sedang viral?” tanya Temon.
Temon menegaskan persoalan tersebut berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi salah satu sumber ketidakcocokan.
Baca Juga: Kebun Binatang Pindah ke Rumah, Sipon Merajuk Gugat Cerai Temon
“Bukan karena satu video atau satu tren. Tapi karena pola yang terus berulang,” bebernya
Sebelum meninggalkan halaman pengadilan, Temon mengaku mengambil pelajaran penting dari pengalaman tersebut.
“Tidak semua yang viral harus diikuti. Kadang yang paling penting, justru apa yang benar-benar dibutuhkan dalam kehidupan sendiri,” ujarnya. (atn/fer)
Editor : fery ardi susanto