RADARSOLO.COM – Pemkot Solo menggelar Kirab Budaya hingga jamasan gamelan dan patung keramat di Gedung Wayang Orang Sriwedari, kemarin (7/7) sore. Kegiatan yang dilaksanakan setiap bulan suro ini jadi salah satu daya tarik wisata bagi masyarakat.
Kegiatan dimulai dari pukul 14.30. Kirab budaya melibatkan OPD terkait dan berbagai komunitas budaya, yang digelar dari Plaza Sriwedari hingga Gedung Wayang Orang. Acara dilanjutkan dengan wilujengan, lalu dilanjutkan dengan jamazan gangsa (gamelan) hingga patung keramat seperti Nyai Denok dan Kyai Bagus yang ada di samping panggung dan depan pintu masung gedung wayang orang.
"Ini agenda tahunan yang diselenggarakan dinas kebudayaan dan pariwisata, sekaligus bentuk penghargaan dan doa akan kegiatan yang sudah ada sejak era PB X. Jamasan ini salah satu bagian dari mendoakan agar aktivitas yang ada di sini bisa terus lestari," kata Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani.

Kegiatan kirab budaya dan jamasan gongso dan patung ini dilakukan sebagai bentuk pelestarian budaya yang dihelat setiap bulan Suro. Pelaksanaan yang menjadi tradisi itu juga melibatkan banyak komunitas pegiat seni dan budaya serta masyarakat yang ada di sekitar Taman Sriwedari.
"Kami mengajak semua komunitas, paguyuban pedagang, juga masyarakat yang ada di sekitar Sriwedari untuk terlibat dalam kegiatan ini," papar kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo.
Yang tak kalah menarik, usai seluruh rangkaian kegiatan dilakukan sebuah gunungan yang berisi hasil bumi dibagikan untuk masyarakat dan para pengunjung yang hadir sore itu. Masyarakat pun antusias berebut hasil bumi berupa sayur mayur yang sebelumnya didoakan itu.
"Semoga kegiatan ini tetap lestari dan bisa diselenggarakan setiap tahun. Kami ikut mangayubagyo dan senang bisa terlibat dalam kegiatan ini. Saya harap kegiatan ini bisa lebih besar dan semakin meriah agar dampaknya semakin bisa dirasakan masyarakat di sekitar Taman Sriwedari," ucap BRM Kusumo Putro, Penasihat Forum Komunitas Sriwedari, sekaligus Ketua Forum Budaya Mataram dan Dewan Pemerhati Seni Budaya Indonesia itu. (ves/nik)
Editor : Niko auglandy