RADARSOLO.COM - Lebih dari 650 ribu orang telah mengunjungi Lokananta sejak kembali dibuka pada pertengahan 2023. Namun, di balik tingginya angka kunjungan tersebut, tidak semua pengunjung datang untuk mengikuti tur sejarah. Sebagian besar memilih menikmati suasana kafe dan ruang publik yang kini menjadi daya tarik baru kawasan Lokananta.
Anggit selaku pemandu tur menjelaskan, Lokananta didirikan pada 29 Oktober 1956 sebagai perusahaan rekaman milik pemerintah untuk merekam materi siaran Radio Republik Indonesia. Seiring waktu, Lokananta berkembang menjadi studio rekaman berbagai genre musik, mulai dari lagu daerah dan keroncong hingga musisi modern seperti Slank, Gigi, Mocca, dan Pandai Besi.
Tidak hanya sebagai museum, aktivitas pengunjung di Lokananta Bloc tampak beragam. Sebagian memilih menghabiskan waktu di area kafe, berdiskusi di ruang terbuka, maupun berkumpul bersama teman. Sementara itu, sejumlah pengunjung lainnya tampak mengikuti tur museum untuk mengenal sejarah dan koleksi arsip musik yang tersimpan di Lokananta.
Baca Juga: Bursa Transfer Liga 1: Eks Timnas Bosnia Luka Menalo Resmi Gabung, Skuad Persib Bandung Makin Ganas
Salah seorang pengunjung dari Solo mengaku telah beberapa kali datang ke Lokananta. Namun, kunjungannya selama ini lebih banyak untuk menikmati suasana dibanding mengikuti tur sejarah.
“Saya, sih, lumayan sering ke Lokananta. Tapi, biasanya Cuma buat ngopi pagi atau kumpul sama teman-teman. Belum pernah ikut tur museum,” ujar Shafa, 22.
Berbeda dengan Shafa, Ayu, 23, yang berasal dari Jogjakarta mengaku sengaja datang ke Lokananta untuk merasakan suasana nostalgia. Rasa penasaran terhadap sejarah studio rekaman pertama di Indonesia menjadi alasan kunjungannya di sela libur panjang.
“Memang sudah lama pengen ikut tur arsip museumnya. Soalnya penasaran dan ingin nambah insight aja. Ternyata banyak hal yang sebelumnya saya belum tahu tentang Sejarah tempat ini dan koleksi-koleksinya yang ternyata banyak sekali," ucapnya.
“Saya ingat di Ruang Master, ada ribuan master rekaman dan keping piringan hitam yang isinya lagu daerah dan keroncong. Bahkan ada rekaman pidato Presiden Soekarno,” imbuhnya.
Baca Juga: Gunung Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas 1,8 Kilometer, BPPTKG Keluarkan Imbauan Penting
Ayu mengaku merasa senang setelah mengikuti tur museum ini. Menurutnya, kesan museum tidak selalu membosankan, tetapi jadi tempat seru untuk belajar sambil liburan.
Melalui tur tersebut, pengunjung tidak hanya melihat koleksi arsip musik, tetapi juga mengetahui perjalanan Lokananta sebagai saksi perkembangan industri rekaman Indonesia dari era piringan hitam hingga produksi musik modern.
Meski sebagian besar pengunjung datang untuk menikmati suasana kawasan, pengalaman mengikuti tur menunjukkan bahwa Lokananta tetap memiliki ruang untuk mengenalkan sejarah musik Indonesia kepada generasi muda. (*)
Editor : Kabun Triyatno