“Medali perunggu ini merupakan sebuah kejutan di ajang Paralimpiade 2020. Awalnya saya ditarget pecahkan rekor pribadi. Tetapi bersyukur bisa dapat perunggu,” ucap Yogo kepada Jawa Pos Radar Solo usai lomba.
Yogo maju ke babak final, menantang tujuh atlet lainnya. Dia finis ketiga dengan catatan waktu 11,32 detik. Kalah tipis dari peraih emas Nick Mayhuh asal Amerika dengan catatan waktu 10,95 detik. Serta peraih perak Andrey Vdovin dari Rusia dengan catatan 11,18 detik.
Sesaat setelah menyentuh garis finis, Yogo tak kuasa menahan rasa gembira. “Sangat senang dapat perunggu. Terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia. Termasuk presiden, menpora, NPC Indonesia, dan pelatih,” tuturnya.
Sebelum tampil di final, Yogo sempat catatkan waktu tercepat di babak kualifikasi. Di heat 1 babak penyisihan, dia jadi yang terdepan dengan catatan waktu 11,33 detik. Unggul dari Andrey Vdovin yang mencatat 11,34 detik.
Pelatih para athletic Indonesia Slamet Widodo mengapresiasi capaian anak didiknya tersebut. “Yogo orangnya disiplin dalam menjalankan program latihan. Dia memang pantas meraih prestasi ini,” ucapnya.
Sementara itu, Indonesia berharap torehan medali dari enam atlet para athletic lainnya. Yakni Karisma Evi Tiarani (100 m T42), Putri Aulia (100 m dan 400 m T13), Elvin Elhudia Sesa (400 m T20), Famini (lempar cakram F-56), Jaenal Aripin (100 m dan 400 m T54), dan Setiyo Budi Hartanto (men's long jump T47). (nik/fer/dam) Editor : Damianus Bram