RADARSRAGEN.COM – Memasuki musim penghujan, kondisi talut sementara di Sungai Bengawan Solo mulai mengkhawatirkan.
Sejumlah warga resah dengan kondisi kerusakan yang semakin parah. Tiga rumah warga Gilis RT 07 Desa Katelan, Kecamatan Tangen ambrol setelah pembangunan talut tersebut.
Tiga rumah itu milik Darwati, Supomo, dan Sutarmo. Lokasinya mepet dengan bantaran sungai Bengawan Solo. Sempat ada pembangunan talut, namun kembali rusak setelah diguyur hujan beberapa waktu lalu.
Sub Koordinator Operasional Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sragen Dyah Patmasari menjelaskan, laporan terkait lokasi tersebut sudah lama.
Ketika disurvei dan hendak ditangani, sudah ada perubahan kondisi di tepi sungai tersebut akibat longsoran dan arus sungai.
”Kondisi waktu akan ditangani, ternyata longsor semakin parah,” ujar dia, kemarin (8/11).
Akhirnya dibantu dari corporate social responsibility (CSR) untuk penanganan talut. Namun pemasangannya tidak permanen. Kebetulan Bengawan Solo merupakan aset dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Lantas ada CSR pembuatan talut dari Perum Jasa Tirta (PJT). Kemudian untuk perencanaan permanen tidak bisa dilakukan mendadak. Akhirnya mengambil langkah darurat dengan memasang beronjong memakai sand bag atau karung pasir.
”Anggaran dari CSR, tapi kerusakan seiring berjalan waktu tambah terus. Dari rencana desain awal untuk diperbaiki sudah sampai berubah tiga kali. Sementara kondisi di lapangan terus berubah,” terang Dyah.
Dyah menjelaskan sebenarnya sudah ada desain, namun kondisi di lapangan cepat berubah. Pihak DPU juga sempat diskusi dengan camat Tangen. Menurutnya pemilik rumah tidak mau pindah dari lokasi tersebut.
”Menurut kami yang paling aman ya relokasi itu, karena sepadan sungai sebenarnya salah ditinggali. Tapi nyatanya ada sertifikat juga,” ujarnya.
Sementara pemasangan bronjong tidak permanen merupakan penanganan darurat. Pemasangan itu sebenarnya sudah maksimal. Tapi kondisi lapangan cepat berubah. (din/adi)
Editor : Damianus Bram