Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Data Penerima Bansos di Sragen Dinilai Tak Valid: Orang Meninggal Masih Tercatat, Warga Antre hingga Sore

Ahmad Khairudin • Jumat, 5 Juni 2026 | 16:19 WIB

 

Penyaluran bansos dari Bulog di Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jumat (5/6/2026). (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Penyaluran bansos dari Bulog di Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jumat (5/6/2026). (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Pendistribusian bantuan sosial (bansos) pangan dari Bulog di Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jumat (5/6/2026) berlangsung lambat.

Akibatnya, ratusan warga penerima manfaat harus rela mengantre hingga berjam-jam sejak pagi hingga sore hari.​Berdasarkan pantauan di lapangan, proses pembagian yang menyasar 501 warga tersebut tidak berjalan efektif.

Selain karena keterbatasan waktu di hari Jumat, persoalan klasik terkait validasi data dan minimnya personel di lapangan menjadi pemicu utama molornya distribusi.

Baca Juga: Disdikbud Sragen Jamin SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 Lancar

​Kepala Desa (Kades) Tenggak, Setyanto tidak menampik adanya kendala tersebut. Hingga lebih dari pukul 15.00 WIB, proses penyaluran baru menyentuh angka 70 persen.

Pendistribusian dipastikan tidak bisa rampung dalam satu hari dan terpaksa molor ke hari berikutnya.

”Penerimanya ada 501 orang, jadi memang membutuhkan waktu cukup lama. Apalagi ini hari Jumat yang waktunya pendek karena terpotong jeda salat Jumat. Banyak yang kelelahan menunggu lama," ujar Setyanto ditemui di lokasi.

Baca Juga: 10 Pejabat Baru Pemkab Karanganyar Dilantik, Bupati Minta segara Tancap Gas

​Kritik tajam pun mengemuka terkait kesiapan Bulog dalam manajemen distribusi. Untuk melayani lebih dari 500 warga, Bulog terpantau hanya menerjunkan dua orang petugas.

Rasio yang sangat tidak seimbang ini dinilai menjadi biang keladi lambatnya pelayanan. Guna mengurai antrean, pihak pemerintah desa akhirnya terpaksa menerjunkan pengurus RT untuk membantu proses teknis di lapangan.

”Harusnya dengan kuota 500 penerima lebih, petugasnya ditambah, minimal empat orang agar bisa selesai dalam satu hari. Kalau cuma dua orang jelas kurang,” keluh Setyanto.

Baca Juga: PAD Parkir Bocor, DPRD Sragen Desak Penerapan Pembayaran via QRIS

Tak hanya perkara teknis kekurangan personel, validasi data penerima bantuan dari pusat lagi-lagi menjadi rapor merah.

Pemerintah Desa Tenggak menemukan banyak revisi, salah satunya adalah masih tercantumnya nama warga yang sudah meninggal dunia sebagai penerima bantuan aktif.

​Di sisi lain, kondisi ini memicu kecemburuan sosial di masyarakat. Masih ada warga yang merasa sangat membutuhkan dan berhak, namun justru tidak mendapatkan undangan resmi dari Bulog karena namanya tidak masuk dalam sistem.

Baca Juga: Daya Tampung SMP se Kabupaten Karanganyar di SPMB 2026 Sebanyak 13 Siswa

”Kami dari desa hanya membagikan undangan sesuai data yang dikirim oleh Bulog. Faktanya, ada data yang sudah meninggal tetapi namanya masih keluar,” tandasnya

Hingga berita ini ditulis, pihak desa masih membantu dengan petugas lapangan agar sisa kuota bansos yang belum tersalurkan bisa segera diselesaikan dalam sehari. (din/adi)

Editor : Adi Pras
#kecemburuan sosial #bansos #sragen #sidoharjo #bulog