Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Dilema Sekolah Rakyat Sragen: Proyek Sudah 80 persen, Kursi SD Baru Terisi Lima Siswa

Ahmad Khairudin • Senin, 15 Juni 2026 | 19:18 WIB

 

Proyek kompleks Sekolah Rakyat (SR) di Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Proyek kompleks Sekolah Rakyat (SR) di Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Proyek kompleks Sekolah Rakyat (SR) di Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, terus dikejar tayang.

Hingga pertengahan Juni 2026, progres fisik proyek yang diklaim sebagai salah satu yang tercepat di Indonesia ini sudah menyentuh angka 80 persen.

Kendati demikian, proyek ini dikejar tenggat waktu super-ketat agar bisa langsung beroperasi pada Tahun Ajaran Baru 2026/2027, Juli mendatang.

Baca Juga: 12 SPPG di Sragen Disegel BGN, Langgar LSD hingga Administrasi

Bupati Sragen Sigit Pamungkas menegaskan, target ideal rampungnya bangunan sebetulnya jatuh pada bulan depan.

Namun, akselerasi di sisa waktu Juni ini terus dipompa. Langkah antisipasi pun sudah digodok matang jika seratus persen fisik bangunan belum kelar saat lonceng tahun ajaran baru berbunyi.

”Targetnya itu kan sebenarnya bulan Juli harus sudah selesai. Nah, kalau belum selesai ya harus memakai yang lama dulu, di sekolah transisi, di tempat yang transisi itu," tegas Bupati Sigit saat dikonfirmasi Senin (15/6/2026).

Baca Juga: ASN Pemkab Karanganyar Ditetapkan sebagai Tersangka Kasus Penipuan Calo Pegawai BUMD

Namun, ada kontras tajam yang kini dihadapi Pemkab Sragen. Di saat progres fisik melaju kencang, urusan menjaring siswa justru seret, khususnya untuk jenjang sekolah dasar (SD).

Kondisinya berbanding terbalik 180 derajat dengan jenjang SMP dan SMA yang langsung diserbu pendaftar.

Untuk jenjang SMP dan SMA, masing-masing terdapat tiga rombel, dan terpenuhi 90 orang siswa. Namun SD hanya lima siswa saat ini, padahal kuota 90 siswa untuk tiga rombel.

Baca Juga: Sempat Tertunda Penyesuaian Harga, 26 Paket Proyek DPU Sragen Mulai Diumumkan Senin Sore

Usut punya usut, minimnya peminat di bangku SD ini terganjal faktor psikologis. Hubungan emosional yang masih sangat kuat antara orang tua dan anak usia dini menjadi tembok tebal.

Sistem asrama atau semi-asrama yang diusung Sekolah Rakyat membuat mayoritas orang tua mengaku "tidak tega" melepas buah hati mereka yang masih tergolong usia dini.

Enggan proyek prestisius ini sepi peminat di sektor hilir, Bupati Sigit Pamungkas langsung tancap gas. Pemkab Sragen meluncurkan strategi ofensif dan persuasif hingga ke level akar rumput demi melunakkan hati para orang tua.

Baca Juga: Dua Motor Adu Banteng di Mojogedang Karanganyar, Satu Tewas

”Kami sudah memanggil kepala desa, Pak Camat, untuk terus mensosialisasikan, membujuk anak-anak yang usia SD untuk bisa ke sana. Yang kedua, kita juga mengerahkan pendamping desa untuk juga mensosialisasikan Sekolah Rakyat ini, terutama untuk anak-anak SD-nya," beber Sigit.

Melalui pendekatan dari hati ke hati yang melibatkan perangkat desa hingga pendamping desa ini, Pemkab berharap ada gelombang pendaftar baru dari anak-anak di wilayah Mondokan dan sekitarnya sebelum tahun ajaran baru resmi bergulir. (din/adi)

Editor : Adi Pras
#rombel #Bupati Sragen Sigit Pamungkas #sragen #mondokan #Sekolah Rakyat