RADARSOLO.COM — Proyek beautifikasi atau penataan trotoar dan kawasan perkotaan Sragen yang digarap Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman, Pertanahan dan Tata Ruang (Disperkimtaru) Kabupaten Sragen mulai memunculkan kekhawatiran.
Pasalnya, pengerjaan fisik menggunakan alat berat di kawasan padat penduduk tersebut dinilai mengancam keselamatan jaringan pipa air bersih milik Perumda Air Minum (PDAM) Tirtonegoro Sragen.
Direktur Utama (Dirut) PDAM Sragen Hanindyo Heru Prayitno tak menampik adanya potensi kerawanan tersebut.
Baca Juga: Warga Sragen Mengadu ke Kang Dedi Mulyadi terkait Kasus Hukum
Ia mengungkapkan pihaknya langsung mengambil langkah antisipatif dengan menerjunkan tim khusus ke lapangan menyusul dimulainya proyek pengerjaan trotoar yang turut membabat sejumlah pohon perindung jalan itu.
”Tadi pagi sama kemarin saya sudah berkoordinasi dengan tim Cabang 1 untuk siap siaga di situ. Artinya, ketika nanti ekskavator mengeruk, petugas harus memonitor di depan alat berat. Kalau sudah mendekati elevasi pipa, wajib manual pakai pacul tangan,” ujar Hanindyo, Selasa (25/8/2026).
Hanindyo menjelaskan, posisi jaringan pipa primer atau pipa utama di kawasan perkotaan berada di kedalaman sekitar 1,5 hingga 2 meter di bawah permukaan tanah.
Baca Juga: Perkuat Ekonomi Kreatif dengan Jambore Nasional Perfilman Desa 2026 di Karanganyar
Kedalaman ini, sebut dia, bergeser seiring bertambahnya ketebalan lapisan aspal dari waktu ke waktu.
Meski pihak kontraktor dari Dinas terkait yang tengah gencar melakukan pembongkaran dan pengerukan, PDAM memilih tidak mau kecolongan.
Terlebih, kawasan yang sedang "dipercantik" tersebut merupakan area padat penduduk dengan jumlah pelanggan PDAM mencapai ribuan sambungan rumah (SR), yang kini banyak beralih fungsi menjadi kawasan kafe dan komersial.
Baca Juga: Dua Hari Jelang Direhab, Atap SD di Sragen Malah Ambruk
”Pohon-pohon itu kan ditebangi. Nah, saya bilang ke teman-teman, wis gawe standby (sudah buat siaga) di lapangan, arahkan operator ekskavator supaya tidak bablas sampai ke dasar menggunakan alat berat terus. Jadi untuk antisipasi agar tidak ada kerusakan,” tegasnya.
Menanggapi proyek "glowingisasi" atau estetika kota yang mengubah wujud trotoar dan mengganti paving lama, Hanindyo menyerahkan sepenuhnya pada perencanaan teknis dari dinas terkait.
Ia berharap pihak segera membagikan maket desain akhir penataan agar fungsi fasilitas publik seperti jalur pejalan kaki dan ruang hijau tertata matang tanpa mengorbankan utilitas bawah tanah.
Baca Juga: Duh, Gaji 160 Buruh Pabrik di Karanganyar Tak Dibayar
Kendati demikian, pihak PDAM tetap menyiapkan skenario terburuk jika insiden pipa tertusuk atau tersangkut kerukan ekskavator benar-benar terjadi. Perbaikan dipastikan membutuhkan waktu bervariasi tergantung tingkat kerusakan.
”Kalau di pipa utama, biasanya agak lama karena perlu mengangkat dulu pipanya. Itu perlu waktu mungkin 2 sampai 3 jam. Tapi kalau pipa pendek-pendek, satu jam selesai," pungkasnya. (din/adi)
Editor : Adi Pras